Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 Mei 2022 | 04.06 WIB

Ngeri, Bahaya Rabun Jauh Intai Anak-anak yang Aktif dengan Smartphone

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Sudah bukan rahasia lagi kalau kebanyakan anak-anak saat ini sudah banyak yang aktif diberikan smartphone oleh orang tua mereka. Tak jarang, perangkat smartphone juga jadi semacam "obat" buat anak saat mereka menangis, tak mau makan tak mau mandi atau tak mematuhi perintah orang tuanya.

Tanpa disadari, hal tersebut nyatanya salah. Treatment yang demikian dari orang tua kepada anak ternyata membawa dampak buruk.

Banyak studi dan praktisi kesehatan yang sudah membuktikan bahwa gadget khususnya smartphone memang tak baik bagi anak, terlebih saat digunakan dalam waktu lama.

Studi baru ini misalnya. Bahaya rabun jauh dilaporkan mengintai anak-anak yang aktif dengan smartphone mereka.
Studi yang dilakukan oleh perusahaan perawatan penglihatan HOYA Lens UK dan Irlandia menyebut, rata-rata anak menghabiskan lebih dari empat setengah jam per hari pada perangkat listrik dan hanya 40 menit di luar ruangan.

Artinya, berdasarkan 12 jam sehari, anak-anak menghabiskan lebih dari sepertiga waktunya untuk melihat layar, dan hanya enam persen di luar. Studi terhadap 1.500 orang tua, dari anak-anak berusia enam hingga 16 tahun, menemukan bahwa 63 persen orang tua merasa sulit untuk mengajak anak mereka keluar rumah, dengan lebih dari seperlimanya (22 persen) merasa "sedih" ketika anak mereka menginginkan waktu layar yang konstan.

Dan lebih dari dua pertiga (68 persen) percaya bahwa anak-anak mereka "kecanduan layar", dengan tujuh dari 10 persen lainnya ingin anak-anak mereka lebih sering keluar rumah untuk beraktivitas.

Namun jajak pendapat, yang dilakukan oleh studi ini menemukan 59 persen orang tua tidak menyadari bahwa waktu yang dihabiskan di luar ruangan sebenarnya dapat mempercepat timbulnya miopia (rabun dekat) pada anak muda.

Profesor Kathryn J Saunders, kepala divisi optometri di Universitas Ulster, mengatakan, berjuang untuk mendamaikan manfaat perangkat digital untuk pembelajaran, melawan kekhawatiran anak-anak menjadi 'kecanduan layar', adalah masalah yang memengaruhi sebagian besar orang tua.

"Kami tahu dari studi penelitian di seluruh dunia tentang lingkungan di mana anak-anak kecil kami tumbuh dan perilaku yang mereka (orang tua) lakukan adalah mempromosikan rabun jauh (miopia) dan mendorong rabun jauh terjadi pada usia yang lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya, baik di sini di Inggris, maupun di negara lain tempat penelitian telah dilakukan," ujarnya dikutip dari Mirror.

Dia menambahkan, para peneliti juga telah membuktikan hubungan yang jelas antara rabun jauh dan menghabiskan lebih sedikit waktu di luar rumah di masa anak-anak. Menurutnya, membawa anak-anak keluar secara teratur, atau untuk waktu yang lebih lama, pada siang hari adalah cara terbaik bagi orang tua untuk mempromosikan "diet visual yang sehat" bagi anak-anak.

"Tidak hanya anak-anak akan berada di luar, lingkungan yang telah terbukti menunda timbulnya rabun jauh, tetapi ini juga akan menjauhkan mereka dari berada di depan layar adiktif yang sangat dikhawatirkan orang tua," tegas Saunders.

Tak hanya di Inggris, studi yang sama juga sebelumnya dilakukan terhadap lebih dari 120.000 anak di Tiongkok dan menunjukkan bahwa kurungan di rumah selama pandemi Covid-19 tampaknya dikaitkan dengan peningkatan prevalensi rabun jauh (miopia) untuk anak-anak berusia enam hingga delapan tahun.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore