Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Mei 2026 | 18.28 WIB

Hasil Rapat KSSK Kuartal I-2026: Purbaya Pastikan Kondisi Fiskal hingga Moneter RI Terjaga di Tengah Gejolak Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beserta pimpinan KSSK saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/5). (Dok. Kemenkeu) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beserta pimpinan KSSK saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/5). (Dok. Kemenkeu)

JawaPos.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia sepanjang Kuartal I-2026 tetap berada dalam kondisi terjaga meski tekanan global meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan I tahun 2026 tetap dalam kondisi terjaga, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global seiring eskalasi konflik di Timur Tengah,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) II Tahun 2026, dikutip Jumat (8/5).

Ia menjelaskan, memasuki April 2026, dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memicu gejolak pasar keuangan global. Kondisi tersebut terutama berdampak pada lonjakan harga energi dunia yang kemudian memengaruhi stabilitas rantai pasok perdagangan internasional.

KSSK yang terdiri atas Menkeu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), disebut akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring meningkatnya risiko ketidakpastian ekonomi global,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah bersama otoritas terkait juga akan memperkuat langkah mitigasi secara terkoordinasi, baik antaranggota KSSK maupun dengan kementerian dan lembaga lain.

Purbaya menjelaskan, prospek ekonomi global pada 2026 diperkirakan makin melemah akibat dampak berkepanjangan konflik di Timur Tengah. Gangguan pasokan global disebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan sejumlah komoditas penting lainnya.

Akibat kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1 persen pada 2026, turun dari 3,4 persen pada 2025. Sementara inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,4 persen dari sebelumnya 4,1 persen sebagaimana telah dipublikasikan World Economic Outlook edisi April 2026 yang dirilis International Monetary Fund (IMF).

Lebih lanjut, meningkatnya tekanan inflasi global dinilai mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara, termasuk peluang penurunan Fed Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore