
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diproyeksikan kembali menguat setelah mengalami penurunan cukup signifikan sejak awal tahun 2026, didorong kinerja cemerlang 2025. (istimewa)
JawaPos.com - Di pasar saham, ada satu pedoman investasi yang jarang meleset: ketika para nakhoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat.
Saat ini, kita sedang menyaksikan momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif "menyerok" saham mereka sendiri.
"Ini bukan sekadar transaksi biasa. Ini adalah eksekusi strategi buy on weakness—membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon," tulis pengamat pasar modal Rendy Yefta, Sabtu (18/4).
Rendy menjelaskan, aksi borong ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan, memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
"Mari kita bedah fakta di lapangan pada kuartal I 2026. Angka miliaran rupiah ini dikeluarkan langsung dari kantong pribadi para direksi dan manajemen," lanjutnya.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp 7,93 miliar. Sementara itu, Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih mengeksekusi pembelian senilai Rp 4,37 miliar pada Maret 2026.
Direktur Vera Eve Lim mengeluarkan dana segar Rp 3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan. Direktur lain Santoso mengunci posisi dengan total nilai transaksi Rp 3,46 miliar pada Maret 2026.
Adapun Managing Director, Frenkie Candra Kusuma mengakumulasi saham senilai Rp 2,87 miliar sejak Maret 2025. Sedangkan Direktur Lianawaty Suwono memborong 300 ribu saham senilai Rp 2,1 miliar pada akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak.
"Jika orang-orang nomor satu di bank paling profitable di Indonesia ini melihat harga saat ini sebagai peluang emas, mengapa investor ritel justru ragu?" kata Rendy.
Keyakinan manajemen ini, lanjutnya, sangat sejalan dengan realitas valuasi saham BCA saat ini. Namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV, melainkan PER (Price to Earnings Ratio), karena PER menunjukkan berapa lama investor “membayar” harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Gratis di YouTube! Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026: Momentum Garuda Kunci Tiket Semifinal!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Eks Wakil Kepala PPATK: Ada Pola 'Placement' untuk Hilangkan Jejak di Kasus Korupsi dan TPPU Febrie
5 Arti Burung Perkutut Bunyi di Malam Hari, Mitos atau Pertanda Gaib? Simak Maknanya Berikut
