Pekerja PT Abadi Lestari Indonesia (RLCO) sedang memproses sarang burung walet. (Abadi Lestari Indonesia)
JawaPos.com - Kinerja PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) dinilai berada di jalur pertumbuhan agresif dalam tiga tahun ke depan. Analis Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi menilai lonjakan ekspor sarang burung walet menjadi pendorong utama.
Dikutil JawaPos.com dalam laporan bertajuk RLCO: Flying High, Samuel memproyeksikan pertumbuhan pendapatan RLCO dengan CAGR 21,5% sepanjang 2024–2027. Prospek ini ditopang permintaan luar negeri yang tetap solid dan dinamika industri yang menguntungkan.
RLCO dikenal sebagai salah satu eksportir dan pengolah sarang burung walet terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini dikendalikan langsung oleh Edwin Pranata selaku pemilik sekaligus CEO.
Sejak 2016, RLCO telah mengekspor produk walet semi-processed melalui tiga merek utama, yakni Lion Nest, Jade Nest, dan Crystal Nest. Seluruh produksi ditopang tiga fasilitas modern di Bojonegoro, Jawa Timur, untuk menjaga skala dan kualitas.
Indonesia sendiri menyuplai sekitar 58% kebutuhan sarang burung walet dunia. Lebih dari 85% permintaan ekspor mengalir ke China dan Hong Kong, didorong tren konsumsi generasi muda kelas menengah atas.
Samuel mencatat, tren kesadaran kesehatan global ikut mengerek permintaan produk walet. Dampaknya, ekspor sarang burung walet Indonesia tumbuh dengan CAGR 15,7% dalam 10 tahun terakhir.
Dari sisi domestik, pertumbuhan sektor makanan dan minuman berbasis kesehatan membuka peluang besar bagi RLCO. Nilai pasar suplemen makanan Indonesia diperkirakan naik dari USD 3,24 miliar pada 2024 menjadi USD 4,72 miliar pada 2030.
Kontribusi produk konsumen RLCO saat ini masih 15,9% dari total pendapatan. Namun Samuel melihat porsinya akan meningkat cepat melalui merek Realfood dan Momiku.
Manajemen juga agresif melakukan diversifikasi produk. Portofolio kini mencakup RTD, RTE, minuman bubuk, jelly, kaldu ayam, kolagen, hingga protein alami lainnya.
Pada lima bulan pertama 2025, penguatan divisi consumer products mendorong pendapatan tumbuh 48% secara tahunan menjadi Rp231 miliar. Kinerja ini turut ditopang ekspansi ekspor ke Thailand sejak kuartal IV 2025.
Ke depan, Samuel menilai ruang pertumbuhan RLCO masih terbuka lebar. Perusahaan berencana masuk ke pasar Vietnam pada 2026, lalu memperluas ekspor ke Amerika Serikat dan Filipina.
Dari sisi saham, potensi katalis datang dari peluang masuk indeks MSCI. RLCO diperkirakan berpeluang masuk MSCI Small Cap jika kapitalisasi pasar disesuaikan ke Rp5,5 triliun.
Namun Samuel mematok target harga agresif di level Rp 80.000 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan hingga 820% seiring skenario masuk MSCI Large Cap.
“RLCO berpotensi melampaui estimasi laba bersih 2025 sekitar 15%,” tulis Jonathan Guyadi dalam risetnya. Rekomendasi yang diberikan adalah Spec-Buy dengan risiko utama berupa potensi keterlambatan inklusi MSCI.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Prediksi Skor Kroasia vs Inggris di Liga Nations UEFA: The Three Lions Redam Tuan Rumah
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022