
Direktur Utama BEI Iman Rachman (kedua kanan) Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat (kiri), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Inarno Djajadi (tengah), Direktur Utama KPEI Idi
JawaPos.com - Pasar saham global memasuki awal 2026 dengan kecenderungan positif, meski masih dibayangi volatilitas yang relatif tinggi. Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, tren penguatan pasar masih berlanjut seiring dukungan berbagai faktor fundamental, baik dari sisi kebijakan moneter maupun kinerja korporasi.
Hans menjelaskan, di Amerika Serikat, pasar saham diperkirakan tetap melanjutkan reli pada 2026. Namun, laju penguatan itu akan diiringi fluktuasi yang lebih tajam dibanding tahun sebelumnya. "Sejumlah faktor menopang valuasi saham, mulai dari pertumbuhan laba perusahaan, kebijakan Federal Reserve yang semakin akomodatif, hingga stimulus fiskal yang masih bersifat ekspansif," kata Hans, Minggu (4/1).
Menariknya, pertumbuhan laba di AS kini tidak lagi hanya ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Pada 2026, kontribusi laba mulai menyebar ke lebih banyak sektor dan emiten, sehingga memperkuat fondasi pasar secara lebih merata. Dari sisi kebijakan moneter, The Fed diperkirakan bergerak menuju posisi suku bunga netral dengan potensi dua kali pemangkasan suku bunga, masing-masing pada Maret dan Juni.
Sementara itu, bursa Eropa juga mencatatkan kinerja impresif. Sepanjang 2025, indeks-indeks utama Eropa membukukan kinerja tahunan terkuat sejak 2021. Kinerja tersebut ditopang oleh kombinasi penurunan suku bunga, komitmen Jerman melakukan ekspansi fiskal, serta langkah investor yang mulai mendiversifikasi portofolio dari saham teknologi Amerika Serikat yang dinilai sudah relatif mahal. "Kinerja bursa Eropa diperkirakan akan berlanjut di tahun 2026," ujar Hans.
Untuk pasar domestik, Hans menilai prospek saham Indonesia masih cukup menjanjikan. IHSG dinilai memiliki ruang penguatan dengan sejumlah katalis positif, mulai dari diplomasi dagang Indonesia dengan Amerika Serikat hingga kondisi ekonomi dalam negeri yang tetap solid.
"Pekan depan ada data inflasi Indonesia yang diperkirakan relatif rendah dan neraca perdagangan Indonesia diperkirakan kembali positif. Di akhir pekan ada data tenaga kerja US. IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 8.664 sampai level 8.537 dan resistance di level 8.776 sampai level 8.800," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
