Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Juli 2025 | 06.37 WIB

Cadev Naik Tipis Berkat Penerbitan Global Bond dan Penerimaan Pajak-Jasa, tapi Risiko Perdagangan Internasional Masih Mengintai

Aktivitas bongkar muat petik kemas di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Surabaya. Bank Indonesia (BI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai meningkatkan kepatuhan pengusaha melalui implementasi Sistem Informasi Monitoring Devisa terIntegrasi Seketika ( - Image

Aktivitas bongkar muat petik kemas di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) di Surabaya. Bank Indonesia (BI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai meningkatkan kepatuhan pengusaha melalui implementasi Sistem Informasi Monitoring Devisa terIntegrasi Seketika (

JawaPos.com - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2025 naik tipis. Dari USD 152,5 miliar per Mei 2025 menjadi USD 152,6 miliar. Kenaikan itu bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

"Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso, Senin (7/7).

Menurut Denny, jumlah cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Selain itu, cadangan devisa juga memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal. Sejalan dengan prospek ekspor yang tetap terjaga, neraca transaksi modal dan finansial yang diprakirakan tetap surplus, serta persepsi positif investor.

"Prospek perekonomian domestik dan imbal hasil investasi yang menarik," ujarnya.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, risiko perdagangan global masih mengintai. Meski ada pelonggaran sementara dari meredanya ketegangan geopolitik. Nilai tukar rupiah menguat pada Juni 2025 setelah tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Israel.

"Kondisi global yang lebih tenang ini mendukung penguatan rupiah dan turut berkontribusi pada kenaikan moderat cadangan devisa," terang Asmo kepada Jawa Pos.

Secara bersamaan, lanjut dia, sentimen pasar sedikit membaik setelah beberapa negara dilaporkan mencapai kesepakatan dagang dengan AS. Termasuk Vietnam dan Inggris menjelang tenggat waktu. Kesepakatan awal ini memberikan pelonggaran sementara terhadap ketidakpastian pasar.

Dengan demikian, mendorong minat investor terhadap aset pasar negara berkembang. Selain itu, hal ini juga mengurangi tekanan arus keluar dari pasar keuangan Indonesia. Namun, investor global tetap berhati-hati.

Mengingat, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa tarif timbal balik AS akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, tarif akan kembali ke tingkat 2 April untuk negara-negara yang gagal mencapai kesepakatan dagang baru. "Meskipun perpanjangan ini memberikan ruang untuk negosiasi ulang, situasi ini juga menambah ketidakpastian baru dalam lanskap perdagangan global," ungkap alumnus Georgia State University itu.

Data terbaru menunjukkan bahwa rupiah hanya melemah sekitar 0,5 persen secara year-to-date (YtD) pada Juni 2025. Membaik dari depresiasi 1 persen pada Mei 2025. Rupiah pulih dari penurunan yang sempat mencapai 4 persen di awal tahun.

"Kami tetap mempertahankan proyeksi bahwa cadangan devisa akan berada di kisaran USD 155-160 miliar pada akhir 2025, didukung oleh perbaikan arus modal dan sikap kebijakan yang lebih proaktif dari Bank Indonesia," tandas Asmo.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore