Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Juni 2025 | 03.30 WIB

Inflasi AS Tak Sesuai Ekspektasi, Indonesia Berpeluang Kebanjiran Capital Inflow jika The Fed Pangkas FFR September 2025

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Bank Mandiri untuk Jawa Pos) - Image

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro. (Bank Mandiri untuk Jawa Pos)

JawaPos.com - Inflasi tahunan Amerika Serikat (AS) yang masih di bawah ekspektasi pasar meningkatkan ekspektasi The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga tahun ini. Kemungkinan bank sentral AS itu bakal menurunkan Fed funds rate (FFR) dua kali tahun ini. Dimulai pada September 2025.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan, inflasi tahunan naik menjadi 2,4 persen pada Mei 2025 dari 2,3 persen pada bulan sebelumnya. Namun masih di bawah perkiraan pasar sebesar 2,5 persen.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memandang, data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan memberikan sedikit kelegaan bagi investor. Khususnya, terhadap dampak inflasi dari kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump.

Semua indikator utama inflasi yang tercatat lebih rendah dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga alias Fed funds rate (FFR) tahun ini "Probabilities FFR cut jadi naik ke 99,7 persen karena data inflasi. Pada September probability terbesarnya. Artinya market jadi lebih bullish untuk pemangkasan. It will be good for Indonesian market as inflows will return to Indonesia," kata Asmo kepada Jawa Pos, Kamis (12/6).

Dia juga melihat membaiknya sentimen global membuka ruang penguatan rupiah dan pemulihan cadangan devisa (cadev). Sentimen pasar global mulai menunjukkan perbaikan seiring dimulainya kembali dialog antara AS dan Tiongkok.

Yang mana para pejabat tinggi kedua negara melanjutkan negosiasi perdagangan untuk meredakan ketegangan dan meninjau kembali kebijakan tarif. "Pembicaraan ini membantu meredakan kekhawatiran pasar global dan mengembalikan sebagian kepercayaan investor," ucapnya.

Pergeseran sentimen global ini, lanjut dia, dapat mendorong meningkatnya selera risiko investor. Membuka jalan bagi arus modal yang lebih seimbang ke negara berkembang termasuk Indonesia.

Dengan meredanya tekanan eksternal, rupiah berpotensi menguat seiring membaiknya posisi investor, sementara tekanan terhadap cadev kemungkinan juga akan berkurang. Data terbaru menunjukkan bahwa rupiah hanya melemah sekitar 1 persen hingga 10 Juni 2025. Mencerminkan pemulihan signifikan dari depresiasi hingga 4 persen di awal tahun ini.

"Kami mempertahankan proyeksi bahwa cadangan devisa akan berada di kisaran USD 155-160 miliar pada akhir 2025. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah terapresiasi 0,15 persen ke Rp 16.335 per USD hingga pukul 17.00. Diperdagangan di kisaran Rp 16.220 hingga 16.255 per USD," terang lulusan Georgia State University itu.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore