Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Juni 2025 | 23.04 WIB

BMS Salurkan Pembiayaan Sindikasi Rp 500 Miliar untuk Proyek BRMS

Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Tbk - Image

Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Tbk

JawaPos.com - Pertambangan masih menjadi primadona penyaluran pembiayaan korporasi perbankan, termasuk segmen syariah. Mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mendukung program hilirisasi nasional. Meski tetap menjaga kualitas dengan prinsip kehati-hatian. 

Bank Mega Syariah (BMS) berpartisipasi dalam penyaluran pembiayaan sindikasi kepada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) senilai Rp 500 miliar dari total Rp 2 triliun. Diberikan untuk jangka waktu 12 bulan dengan suku bunga 9,75 persen per tahun. Sindikasi ini melibatkan Allo Bank, Bank SulutGo, dan Bank Sulteng sebagai pemberi fasilitas pembiayaan.

Dana ini akan digunakan BRMS untuk melunasi utang senilai USD 75 juta. Terdiri dari USD 26 juta kepada Bank BNI, USD 28 juta kepada Bank Permata, dan USD 21 juta kepada Bank Mega. Sisanya, sebanyak USD 46 juta akan dialokasikan untuk konstruksi proyek tambang emas bawah tanah di Palu dan kegiatan eksplorasi pengeboran di Gorontalo.

Hingga April 2025, BMS telah menyalurkan pembiayaan ke sektor pertambangan dengan total plafon lebih dari Rp 1,7 triliun. Atau sekitar 35,73 persen dari total plafon pembiayaan per 23 Mei 2025.

Sementara total pembiayaan korporasi tercatat sebesar Rp 3,9 triliun, naik 25,9 persen year-on-year (YoY). 

"Secara keseluruhan, pembiayaan korporasi menyumbang sekitar 44 persen dari total pembiayaan Bank Mega Syariah yang mencapai Rp 8,9 triliun, meningkat 25,6 persen secara tahunan," kata Direktur Bisnis Bank Mega Syariah, Rasmoro Pramono Aji, Minggu (1/6). 

Partisipasi dalam sindikasi ini, lanjut dua, sejalan dengan strategi perusahaan untuk memperluas portofolio pembiayaan korporasi. Serta, mendukung ekspansi bisnis dan program hilirisasi industri nasional. Industri pertambangan memiliki peran penting dalam menggerakkan sektor hilir dan memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara. 

"Kedepan, kami akan terus aktif dalam pembiayaan sindikasi untuk proyek-proyek strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional," imbuh pria yang akrab disapa Oney itu. 

BMS juga mendorong pertumbuhan pembiayaan di sektor strategis lainnya. Seperti kesehatan, pendidikan, dan sektor produktif lain yang memiliki dampak positif terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Strategi ini dijalankan melalui pendekatan business-to-business-to-consumer untuk menjangkau pelaku usaha dan konsumen akhir secara efektif.

Oney memastikan kualitas pembiayaan tetap terjaga. Tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) di bawah 1 persen. Jauh di bawah ambang batas regulator sebesar 5 persen.

Dalam rapat dewan gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 21 Mei lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pembiayaan syariah tumbuh sebesar 8,85 persen YoY. Berbagai upaya perlu terus didorong untuk meningkatkan penyaluran kredit. Baik dengan penurunan suku bunga dan perluasan sumber dana perbankan, maupun peningkatan permintaan dari sisi sektor riil. "Sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," ujarnya. 

Hasil stress test BI juga menunjukkan ketahanan perbankan tetap kuat. Serta ditopang oleh kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga. Bank sentral juga akan terus memperkuat kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih tinggi.

"Termasuk mengoptimalkan instrumen rasio pendanaan luar negeri bank (RPLN), penyangga likuiditas makroprudensial (PLM), dan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM)," terang Perry.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore