Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 September 2025, 23.58 WIB

BMS Andalkan FLPP, Kinerja BTN Syariah Solid Jelang Spin-Off

Pekerja saat menyelesaikan rumah rumah subsidi di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jakarta, Rabu (22/7/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mengalihkan kuota pembangunan rumah bagi bank pelaksana yang tidak mampu mencapai targe

 

JawaPos.com - Perbankan Syariah terus menggenjot pembiayaan perumahan. Bank Mega Syariah (BMS) mengandalkan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

Sedangkan, pembiayaan unit usaha syariah (UUS) BTN (BTN Syariah) tumbuh 17 persen Year-on-Year (YoY) sembari menanti merger dengan Bank Victoria Syariah (BVIS) menjadi Bank Syariah Nasional (BSN). Kebutuhan akan hunian layak untuk masyarakat Indonesia masih sangat besar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sekitar lebih dari 9 juta kebutuhan rumah yang belum terpenuhi. Hingga 25 September 2025, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) melaporkan bahwa total rumah subsidi yang telah disalurkan melalui skema FLPP mencapai 178 ribu unit.

Consumer Financing Business Division Head Bank Mega Syariah Raksa Jatnika Budi menyatakan, telah menyalurkan 96 persen dari total kuota awal unit rumah FLPP yang diberikan oleh pemerintah di 2025. Hingga Agustus 2025, outstanding pembiayaan perumahan sebesar Rp 50 miliar. Tumbuh 78,6 persen dibandingkan Agustus 2024 senilai Rp 29 miliar.

Sejak 2021, total pembiayaan FLPP Bank Mega Syariah telah naik 1.409 persen. Dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahunnya mencapai 97 persen. Bank Mega Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan FLPP sebesar 50 persen YoY pada 2025.

Bank Mega Syariah memanfaatkan sinergi developer subsidi dengan mitra yang telah ber-payroll. Bahkan, turut serta dalam kegiatan akad masal 25 ribu penerima FLPP yang digelar serentak di 33 provinsi.

 "Kita bekerja sama dengan developer berpengalaman yang memastikan bahwa rumah yang dibeli oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sudah siap huni melalui bangunan yang telah tersedia 100 persen, listrik, dan air yang sudah teraliri ke unit rumah tersebut serta prasarana, sarana dan utilitas umum (PSU)," terang Raksa, Senin (29/9).

Jelang Proses Akhir Spin Off, Kinerja BTN Syariah Makin Kinclong

Menjelang spin-off, BTN Syariah mencatatkan kinerja positif. Tercermin dari pertumbuhan aset sebesar 18 persen YoY menjadi Rp 65,56 triliun hingga akhir Juni 2025. Ditopang oleh ekspansi pembiayaan dengan nilai Rp 48,46 triliun. Naik 17 persen secara tahunan.

Begitu pula, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 19,8 persen YoY menjadi Rp 55,23 triliun. Alhasil, BTN Syariah mampu memperoleh laba bersih Rp 401 miliar pada akhir Juni 2025. Meningkat 8,3 persen YoY.

“BTN Syariah telah memasuki era baru seiring dengan proses akhir spin-off yang ditandai dengan perubahan nama menjadi Bank Syariah Nasional (BSN) melalui penggabungan dengan Bank Victoria Syariah sebagai perusahaan cangkang. Aksi korporasi yang menjadi milestone bagi industri perbankan syariah Indonesia ini dapat terwujud atas dukungan pemegang saham, regulator dan masyarakat luas," terang Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.

Menurut dia, Indonesia memerlukan 3 hingga 4 bank syariah besar. Supaya kompetisi layanan terjadi. Sebab, jika terjadi monopoli, maka arahnya kapitalisme.

 "Jadi tidak ada single player. So kita jangan memberi kapitalisme ke industri syariah. Jadi mestinya industri syariah dilakukan oleh banyak bank," ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore