
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Penutupan perdagangan saham pada hari ini, Selasa (8/4) menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9 persen atau 514,478 ke level 5996,14. Total 672 saham turun, 30 naik, dan 95 yang tak mengalami perubahan.
Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 20,948 triliun dengan melibatkan 22,785 miliar saham dalam 1,428 juta kali transaksi. Melihat kondisi ini, analis Pasar Modal, Han Kwee, tetap optimistis arah IHSG akan mengalami kenaikan pada besok hari, Rabu (9/4).
"Mungkin hari ini agak berat, tapi besok bisa (mengalami kenaikan dan hijau) gitu ya," kata Han Kwee saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (8/4).
Menurutnya, hal ini bisa terjadi lantaran kondisi bursa pada negara-negara Asia sudah mulai menghijau. Bahkan, kondisi bursa di Amerika Serikat (AS) itu sendiri. "Bursa Asia itu mulai menghijau, dan futures, bursa futures Amerika juga menghijau, artinya ada juga potensi untuk perlawanan saat bergerak naik ya, bergerakan siang ke sore hari gitu ya, karena global sudah menyesuaikan tadi gitu," ungkap dia.
Dia tak memungkiri bursa saham AS, Wall Street, sempat turun banyak akibat tarif impor Presiden AS, Donald Trump. Namun, harus dicermati pula bahwa tarif tersebut juga memukul ekonomi AS.
"Kemudian memukul negara-negara beradaptasi ekspor seperti Eropa, kemudian Tiongkok gitu ya, itu terpukul Jepang juga gitu. Kalau Indonesia, kita ini negara yang istilahnya ekspornya cuma 25 persen ya dari kapasitas GDP kita. Nah, Amerika itu cuma 10-11 persen lah dari ekspor kita,” ungkap dia.
Oleh karena itu, ia meyakini tarif Trump tak akan memberikan efek yang signifikan kepada ekonomi Indonesia. Hanya saja, jika memang terjadi perang dagang yang berkelanjutan, akan mengakibatkan perlambatan ekonomi global yang berpengaruh pada perlambatan ekonomi Tanah Air.
"Itu sebenarnya pasar lebih turun karena ekspektasi bahwa ekonomi Indonesia akan menurun kinerjanya, ekonomi global akan menurun kinerjanya gitu. Jadi, bukan benar-benar perubahan fundamental, tetapi lebih merupakan ekspektasi saja yang berubah," tukas dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
