
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan paparan pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (18/12/2024). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) terus memperluas dan memperbanyak instrumen-instrumen yang eksportir maupun perbankan bisa digunakan untuk menempatkan cadangan devisa. Setidaknya bakal ada tiga instrumen baru, yakni sekuritas valas Bank Indonesia (SVBI), sukuk valas Bank Indonesia (SUVBI), dan perluasan FX swap.
Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, selama ini sudah terdapat dua instrumen yakni rekening khusus (reksus) dan term deposit valas. Jadi, para eksportir setelah menerima rekening khusus bisa memasukkan dananya dan menempatkan dalam depoaito valas di bank.
Kemudian, oleh perbankan, deposito valas tersebut bisa diredepositokan ke BI. "Itu yang kami sebut term deposit valas," katanya.
Pada instrumen yang sudah ada sekarang, para eksportir maupun perbankan bisa menggunakan reksus atau term deposit valas sebagai underlying untuk swap valas. Hingga 6 Februari 2024, posisi saat ini term deposit valas DHE telah mencapai USD 12 miliar sampai USD 12,5 miliar.
"Sehingga kalau eksportir memiliki valas, ditaruh ke reksus atau term deposit, digunakan untuk kemudian swap dari dolar (USD) ke rupiah," tambahnya.
Untuk instrumen baru, BI akan menerbitkan SVBI dengan jangka waktunya 6, 9, 12 bulan. Sehingga setelah eksportir memasukkan dana ke rekening khusus, bisa menempatkan pada term deposit valas maupun SVBI.
"Sekuritas valas BI ini bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Jadi eksportir bisa beli SVBI melalui bank, nanti bisa diperdagangkan yang lain melalui primary," jelasnya.
Kemudian, BI juga menerbitkan versi syariah yakni SUVBI dengan tenor 6, 9, dan 12 bulan. Bisa juga diperdagangkan di pasar valas domestik. Sekaligus menjadi instrumen untuk memperkuat pasar valas dan menstabilkan nilai tukar rupiah.
Terakhir, bank sentral memperluas FX swap. Dengan demikian, terdapat lima instrumen dalam mendukung kebijakan PP DHE SDA.
"Ini sangat dibutuhkan oleh para eksportir. Sehingga kalau punya valas betul-betul dana yang masuk ke rekening khusus bisa lebih banyak berputar di dalam sistem keuangan, pasar uang, pasar valas (dalam negeri) dan bermanfaat bagi perekonomian," jelas Perry.
BI selalu berkomunikasi intens dengan eksportir dan pihak perbankan untuk menentukan kebutuhan DHE. Baik untuk kebutuhan biaya operasional maupun kebutuhan lainnya. Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebutuhan DHE dapat terpenuhi secara optimal.
"Komitmen kami berapa pun kebutuhannya akan kami keluarkan. Tentu saja dari waktu ke waktu itu tentu saja akan terus dievaluasi. Komitmen kami berapa pun kebutuhan para eksportir kami akan terbitkan. SVBI maupun SUVBI dan juga untuk FX swap," tandasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
