
ILUSTRASI Pinjol.
Hampir 40 persen kredit macet pinjaman daring berasal dari mereka yang berusia 19–34 tahun. Gaya hidup, kemudahan teknologi, dan minimnya literasi keuangan jadi pemicu.
AGAS PUTRA H.-HILMI SETIAWAN, Jakarta
---
TAK selalu keterlilitan dengan pinjaman online (pinjol) atau pinjaman daring (pindar) bermula dari kebutuhan yang mendesak. Tapi, karena disodori terus-menerus, menyerbu lewat berbagai platform. ”Pinjol ini yang banyak terkena generasi milenial,” kata Tina Talisa, staf khusus wakil presiden, dalam diskusi bertema Pinjol dan Judol di Kalangan Generasi Milenial di Jakarta pada Kamis (19/12).
Menurut mantan presenter televisi itu, orang jadi tertarik karena penawaran yang sangat intensif tersebut dibarengi kemudahan prosesnya. ”Sama seperti Bank Emok, orang tidak perlu ke bank. Dari rumah, sudah ada yang keliling menawarkan pinjaman,’’ katanya.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis September lalu, hampir 40 persen kredit macet pindar berasal dari kaum generasi Z dan milenial, yakni usia 19 hingga 34 tahun. Persisnya, di angka 37,17 persen. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi & Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, itu terjadi karena dua kelompok generasi tersebut rentan secara finansial. Gaya hidup mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk kesenangan dibandingkan menabung maupun berinvestasi.
”Banyak generasi muda yang terjebak pinjol karena mengambil utang untuk kebutuhan konsumtif dan keperluan yang tidak bijaksana,” tuturnya melalui video tapping dalam acara Bisnis Indonesia Goes to Campus (BGTC) 2024 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Agustus lalu, seperti dikutip dari situs resmi FEB UGM.
Tentu tak cuma mereka yang berusia muda yang terancam dampak negatif pemanfaatan pindar yang tak pintar. Pekan lalu, misalnya, di Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Kamis (12/12), satu keluarga yang terlilit utang pinjol berusaha bunuh diri dan mengakibatkan anak bungsu keluarga tersebut tewas. Tiga hari berselang, satu keluarga lain di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, melakukan hal yang sama karena alasan serupa. Tiga anggota keluarga itu pun kehilangan nyawa.
Literasi Keuangan Kunci
Pemanfaatan pindar yang tak pintar ada pada minimnya literasi keuangan. Meski, OJK bersama Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) sebenarnya sudah terbilang getol kampanye kepada masyarakat. Direktur Eksekutif Aftech Aries Setiadi menyebut, fintech memang merupakan alternatif pendanaan bagi personal maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum bisa mendapatkan akses pendanaan dari perbankan. Sebab, tidak ada kolateral.
Untuk bisa jadi pemanfaatannya positif, lanjut dia, perlu pengguna yang bijak. Dengan syarat, masyarakat tahu terhadap kemampuan bayarnya. Juga harus bisa menghitung. Artinya, jangan melihatnya perhitungan meminjam itu yang dikembalikan hanya pokoknya. Tapi, bunganya juga.
”Jadi, beda dengan minjam sama teman gitu yang pinjam 100, baliknya 100 gitu. Tapi, pinjam ke fintech, pinjam 100 mungkin kembalinya ada biaya provisi dan biaya bunga. Kalau terlambat, ada biaya denda yang mana itu bisa lebih tinggi lagi,’’ terangnya kepada Jawa Pos (19/12). Aries mengungkapkan, Aftech punya banyak program literasi yang menjangkau berbagai macam kalangan. Mulai tingkat siswa SMA hingga mahasiswa. Bahkan dosen dan gurunya juga. Sebab, mereka menjadi semacam trainer for traders buat siswa/mahasiswanya.
”Namanya Infinity, (kepanjangan dari) Indonesia Fintech Community. Sekarang kita MoU dengan sembilan kampus di Indonesia,’’ kata Aries.
Aftech bersama OJK dan komunitas-komunitas juga memiliki program digital financial literacy. Bersama Kemenkominfo, mereka mengedukasi kelompok masyarakat dan daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal). Upaya-upaya tersebut penting digencarkan agar masyarakat paham penggunaan, perhitungan, dan risiko terkait pendanaan pindar. Sejak 1 Januari hingga 30 November 2024, OJK telah menyelenggarakan 4.739 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 6.227.137 peserta di seluruh Indonesia.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
