Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Desember 2024 | 00.45 WIB

Fokus Stabilitas Rupiah, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tiga dari kiri) bersama jajaran deputi gubernur lainnya memaparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12). - Image

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tiga dari kiri) bersama jajaran deputi gubernur lainnya memaparkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12).

JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 6 persen. Fokus kebijakan moneter diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak makin tingginya ketidakpastian perekonomian global. Seiring dengan arah kebijakan Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, terus mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan prospek inflasi. Juga memerhatikan dinamika kondisi ekonomi yang berkembang dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga kebijakan lanjutan.

"Ketidakpastian pasar keuangan global semakin meningkat disertai dengan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia," ucap Perry dalam paparan hasil rapat dewan gubernur (RDG) BI di Gedung Thamrin, Rabu (18/12).

Rencana kebijakan perdagangan di AS melalui kenaikan tarif impor, komoditas, dan cakupan negara yang lebih luas telah menyebabkan risiko peningkatan fragmentasi perdagangan dunia. Perkembangan ini yang disertai dengan eskalasi ketegangan geopolitik di banyak negara mengakibatkan pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan melambat.

"Menjadi 3,1 persen dari sebesar 3,2 persen pada 2024," terangnya.

Inflasi dunia meningkat dibandingkan prakiraan sebelumnya dipengaruhi oleh gangguan rantai suplai. Di AS, penurunan Fed Funds Rate (FFR) bakal lebih lambat akibat inflasi yang lebih tinggi.

Sementara itu, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif mendorong yield US Treasury tetap tinggi. Baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang.

Penguatan mata uang dolar AS (USD) secara luas terus berlanjut. Disertai berbaliknya preferensi investor global dengan memindahkan alokasi portofolionya kembali ke AS. Hal ini meningkatkan tekanan pelemahan berbagai mata uang dunia dan menahan aliran masuk modal asing ke negara berkembang.

"Perkembangan ekonomi global yang diikuti dengan tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global tersebut memerlukan respons kebijakan yang kuat untuk memitigasi dampak negatifnya terhadap perekonomian di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia," kata alumnus Iowa State University itu.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga didukung oleh permintaan domestik. Investasi diprakirakan tumbuh positif pada triwulan IV 2024. Ditopang oleh penyelesaian berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan investasi swasta didukung insentif dari pemerintah.

Konsumsi rumah tangga juga diperkirakan tetap tumbuh. Didorong oleh keyakinan konsumen yang terjaga serta dampak positif pelaksanaan pilkada di berbagai daerah. Konsumsi pemerintah juga lebih tinggi seiring dengan kenaikan aktivitas belanja Pemerintah pada akhir tahun.

Sementara itu, ekspor nonmigas diprakirakan melambat dipengaruhi ekonomi global yang belum kuat. Secara sektoral, pertumbuhan juga ditopang terutama oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, serta perdagangan besar dan eceran.

"Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi 2024 diprakirakan berada dalam kisaran 4,7 sampai 5,5 persen dan meningkat menjadi 4,8 sampai 5,6 persen pada 2025,": jelas Perry.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore