
Karyawati beraktivitas di dekat logo-logo perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Rabu (14/6/2023).
JawaPos.com - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatatkan pembukuan premi tumbuh 10,1 persen secara year-on-year (YoY) pada triwulan III 2023. Nilai total pendapatan premi sebesar Rp 73,58 triliun. Meski demikian, kondisi ini dinilai masih belum sehat.
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset Trinita Situmeang menyatakan, terdapat tiga lini usaha yang terkontraksi. Yaitu, asuransi energy off shore, asuransi properti, dan asuransi satelit. Sedangkan, untuk pencatatan pertumbuhan premi tertinggi di di triwulan III 2023 terjadi pada lini usaha asuransi engineering, surety ship, dan personal accident.
"Usaha asuransi engineering 53,8 persen, surety ship 39,7 persen, dan personal accident 33,1 persen," ucap Trinita dalam paparan kinerja AAUI di Gedung Permata Kuningan, Selasa (28/11).
Dia menjelaskan, asosiasi juga mencatat pembayaran klaim industri asuransi umum meningkat 12,2 persen YoY. Jumlahnya mencapai Rp 30,7 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 27,4 triliun.
Meski naik, terdapat enam lini usaha yang mencatatkan penurunan. Yakni, asuransi properti, asuransi penerbangan, asuransi energy on shore, asuransi energy off shore, asuransi surety ship, dan asuransi aneka.
"Claim ratio terjadi pertumbuhan sebesar 41,8 persen, jika dibandingkan dengan triwulan III 2023 yang hanya tercatat 41 persen," terangnya.
Pangsa pasar perolehan premi masih didominasi oleh asuransi properti sebesar 25,3 persen. Kemudian disusul dengan lini usaha kendaraan bermotor dengan porsi 19,8 persen. Serta, asuransi kredit dan Kesehatan yang masing-masing memiliki proposi 18,8 persen dan 7,2 persen.
Ketua AAUI Budi Herawan menyebutkan, bahwa kondisi kesehatan industri asuransi masih dapat ditingkatkan. Tentunya, apabila hasil underwriting dapat turut menopang laba perusahaan asuransi umum. Mengingat, sebagian besar laba masih diperoleh dari hasil investasi yang disumbang oleh permodalan dan pendapatan premi.
"Ini PR (pekerjaan rumah) kita. Tapi semoga kita menyadari hal ini agar nanti ada suatu terobosan, baik berupa deregulasi atau regulasi baru," ungkap Budi.
Saat ini industri asuransi umum mencatat hasil investasi sebesar Rp 3,81 triliun atau naik 21,05 persen secara tahunan. Lalu, hasil underwriting senilai Rp 13,96 triliun dan laba setelah pajak sebanyak Rp 5,92 triliun. Untuk rasio hasil underwriting baru mencapai 18,99 persen.
Menurut Budi, angka tersebut lebih rendah dari rasio beban usaha ditambah rasio investasi yang sebesar 19,83 persen. Makanya, ke depan industri asuransi umum perlu melakukan transformasi dan reformasi. Penting bersaing secara sehat agar tidak memberikan diskon kepada tertanggung yang dapat merugikan perusahaan asuransi.
Pendapatan Premi Asuransi Umum per Lini Bisnis Q3 2023
-properti: Rp 18,65 triliun
-kendaraan bermotor: Rp 14,59 triliun
-asuransi kredit: Rp 13,87 triliun
-asuransi kesehatan: Rp 5,29 triliun
-kargo laut: Rp 3,89 triliun
Klaim Dibayar Asuransi Umum per Lini Bisnis Q3 2023
-properti: Rp 4,89 triliun
-kendaraan bermotor: Rp 5,2 triliun
-asuransi kredit: Rp 9,8 triliun
-asuransi kesehatan: Rp 4,5 triliun
-kargo laut: Rp 939 miliar
Sumber: AAUI

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
