Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Oktober 2015, 14.17 WIB

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD - Image

Rupiah Menguat, Tembus 13.711 per USD

JawaPos.com JAKARTA - Penguatan tajam rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD)  terus berlanjut. Bahkan di pasar spot, Rabu (7/10) rupiah mencatat  penguatan harian terbesar sepanjang enam tahun terakhir.





Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara  mengatakan, penguatan tajam rupiah dalam tiga hari terakhir tak lepas  dari dorongan kombinasi faktor eksternal dan internal.



''Itu memicu  pembalikan modal dari AS ke emerging markets, termasuk Indonesia,''  ujarnya di Kantor Presiden, Rabu (7/9).



Sebagai gambaran, dalam dua hari terakhir saja, ada USD 82 juta dana  tambahan yang dialokasikan manajer investasi asing ke pasar modal

Indonesia. Menurut Mirza, faktor eksternal terkait melemahnya recovery  perekonoian AS yang lantas meredam isu kenaikan suku bunga Bank  Sentral AS atau The Fed, memicu penguatan mata uang global terhadap  USD.



''Investor atau spekulan yang tadinya memegang dolar, sudah mulai  melakukan cut loss (jual rugi),'' katanya.



Sementara itu, dari internal, Mirza menyebut rilis paket kebijakan  ekonomi oleh pemerintah mendapat respons positif pasar. Reformasi  struktural itu, diyakini dalam jangka menengah panjang akan menurunkan inflasi dan meningkatkan suplai valas di dalam negeri.



''Makanya orang  mulai jual dolar yang sebelumnya ditumpuk untuk spekulasi,'' ucapnya.



Data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis  BI menunjukkan, kemarin rupiah ditutup di level 14.065 per USD,  menguat signifikan hingga 317 poin dibanding penutupan hari sebelumnya  yang di posisi 14.382 per USD. Level 14.065 per USD tersebut merupakan  yang terkuat sejak 31 Agustus 2015 lalu.



Sementara itu di pasar spot, rupiah sudah menguat lebih tajam. Data  Bloomberg menunjukkan, kemarin rupiah langsung dibuka menguat di level  14.179 per USD dari penutupan sebelumnya di 14.241 per USD. Setelah  itu, rupiah tak sekalipun melemah, hingga mencatat level terkuat di  13.711 per USD, sebelum akhirnya ditutup pada sore kemarin di level  13.821 per USD, atau menguat 2,95 persen.



Penguatan tersebut menempatkan rupiah di posisi ke dua mata uang di  kawasan Asia Pasifik yang berhasil menaklukkan USD. Kemarin, USD  memang babak belur akibat larinya dana investor dari Negeri Paman Sam.  Malaysia mencatat penguatan harian 3,51 persen atau yang terbesar  sepanjang 17 tahun terakhir. Dari 13 mata uang utama di Asia Pasifik,  hanya dolar Australia dan dolar New Zealand yang gagal membukukan  penguatan terhadap USD.



Mirza mengatakan, aliran modal yang kembali ke Indonesia membuat  situasi pasar keuangan dan pasar modal kian kondusif. Tak hanya rupiah  dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat, namun juga di  pasar Surat Utang Negara (SUN). Dia menyebut, yield atau imbal hasil  SUN yang sebelumnya sempat mendekati level 10 persen, kemarin sudah  turun tajam ke kisaran 8,7 persen. ''Ini sangat bermanfaat karena  berarti biaya utang pemerintah turun,'' jelasnya.



Namun, penguatan rupiah ini juga harus dibayar mahal. Sejak tekanan  bertubi-tubi dalam satu bulan terakhir, BI terus berjibaku meredam  anjloknya rupiah dengan melakukan operasi moneter di pasar uang. Akibatnya, cadangan devisa pun langsung terkuras.



Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara  mengungkapkan bahwa BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir  September 2015 senilai USD 101,7 miliar. Posisi tersebut lebih rendah  dibandingkan dengan posisi cadangan devisa akhir Agustus 2015 senilai  USD 105,3 miliar.



"Perkembangan tersebut disebabkan oleh penggunaan cadangan devisa  dalam rangka pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan dalam rangka  stabilisasi nilai tukar rupiah," ujarnya di Jakarta, Rabu (7/10).



Tirta menuturkan penurunan tersebut sejalan dengan komitmen Bank  Sentral yang telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan  upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Editor: Arwan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore