JawaPos Radar

Diguncang Berkali-kali Masjid Tertua di Lombok Tak Alami Kerusakan

Hanya Pagar dan Atap Pernah Diganti

31/08/2018, 17:28 WIB | Editor: Ilham Safutra
Diguncang Berkali-kali Masjid Tertua di Lombok Tak Alami Kerusakan
Bayan Beleq, Masjid tertua di Lombok masih berdiri kokoh meski berkali-kali diguncang gempa. (UMAR WIRAHADI/JAWA POS)
Share this image

Disangga empat tiang dari kayu nangka, Masjid Bayan Beleq bisa bertahan dari berbagai guncangan gempa sampai sekarang. Kandungan filosofis konstruksinya jadi panduan hidup masyarakat Lombok.

UMAR WIRAHADI, Lombok Utara

---

DINDING pagarnya dari anyaman bambu. Atapnya juga tersusun rapi dari bilah-bilah bambu. Dibikin lebar dan tajam. Setiap sudut atap dilapisi ijuk. Adapun fondasinya disusun dari tumpukan batu-batu kali.

Kalau Masjid Bayan Beleq di atas bukit mungil di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, tersebut terlihat sangat kuno, itu karena memang usianya sudah empat abad.

Tertua di Lombok. Sekaligus saksi ketangguhan kearifan lokal Lombok menghadapi alam. Tak pernah sekali pun roboh karena guncangan gempa. Termasuk rentetan lindu yang mengguncang pulau tempat pusat pemerintahan Nusa Tenggara Barat itu sejak 29 Juli lalu.

"Saya sering dengar cerita tentang masjid ini. Jadi penasaran," kata Melva Harahap, salah seorang relawan gempa Lombok asal Jakarta, yang berkunjung ke Bayan Beleq di saat yang sama dengan Jawa Pos pada Senin lalu (27/8).

Kata beleq dalam bahasa Sasak berarti besar. Padanannya adalah masjid agung, masjid raya, atau masjid jamik.

Namun, secara fisik, masjid yang menurut berbagai literatur berdiri sejak abad ke-17 itu tak bisa dibilang besar. Hanya berukuran 9 x 9 meter. Dengan tinggi sekitar 7 meter.

Arsitektur masjid itu tak ubahnya rumah-rumah kuno masyarakat suku Sasak. Mirip rumah-rumah di kampung Desa Sade, Kabupaten Lombok Tengah, desa adat jujukan wisatawan.

Yang agung dari masjid tersebut adalah sejarah panjangnya dan simbol yang disandangnya. Menurut Ratmanom, penghulu adat Desa Bayan, arsitektur bangunan Bayan Beleq masih terjaga sampai sekarang.

Komponen bangunan yang sama sekali masih asli adalah empat tiang utama dan beduk. Empat tiang berbentuk silinder itu dibuat dari kayu nangka. "Kalau pagar dan atap, pernah diganti. Itu pun sudah tahun 1993," tutur Ratmanom.

Dengan arsitektur seperti itu, ketika puluhan ribu bangunan luluh lantak di seantero Lombok akibat rentetan gempa sejak Juli lalu sampai Agustus ini, Bayan Beleq kukuh berdiri. Sama sekali tak ada kerusakan. Justru tembok luar yang terbuat dari semen hancur akibat gempa.

Bangunan khas Lombok, seperti yang bisa dilihat di Desa Sade, memang mengandalkan kayu. Rumah pelari nasional asal Pamenang, Lombok Utara, Lalu M. Zohri yang direnovasi juga demikian. Dan, terbukti mampu bertahan dari guncangan gempa. Saat Jawa Pos ke sana beberapa hari setelah gempa besar kedua pada 5 Agustus lalu, hanya beberapa genting di rumah juara dunia lari 100 meter U-20 tersebut yang runtuh.

Sayang, Senin siang lalu itu masjid terkunci rapat. Hanya cuitan aneka burung yang menyambut siapa saja. Terbang rendah dari rating ke ranting pepohonan tua yang tumbuh rindang di kawasan cagar budaya tersebut.

Memang, Masjid Bayan Beleq hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu. Yaitu, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. "Selebihnya ditutup," tutur Ratmanom.

Ratmanom yang punya nama lain Amaq Riajim menuturkan, konstruksi Masjid Kuno Bayan Beleq memiliki filosofi tersendiri. Terdiri atas kepala, badan, dan kaki.

Apakah ada kaitanya dengan Islam waktu telu? Pria yang sudah menjabat penghulu selama 30 tahun tersebut menjelaskan, ada yang salah kaprah dengan istilah Islam waktu telu. "Sebutan yang benar adalah waktu telu (tiga waktu, Red). Kalau Islam waktu telu, tidak ada," ujarnya, lalu tersenyum.

Tiga waktu, jelas dia, berhubungan dengan unsur kehidupan. Yaitu, alam gaib, alam dunia, dan alam akhirat. Semua manusia, kata dia, selalu menempuh tiga fase kehidupan tersebut.

Yang dimaksud alam gaib adalah kehidupan di kandungan ibu selama 9 bulan 10 hari. Kemudian, manusia hidup di dunia dan terakhir mati. Hidup di akhirat. "Kehidupan di akhirat inilah yang abadi. Di sana manusia hidup selama-lamanya," tuturnya.

Dia percaya, kandungan filosofis struktur Masjid Kuno Bayan Beleq menjadi panduan hidup masyarakat Lombok. Tradisi adat istiadat dan agama tidak boleh sampai luntur. Itu menjadi bukti bahwa tonggak peradaban masyarakat Lombok dibangun di atas kesadaran adat dan spiritual. Dua unsur itu menyatu sampai sekarang.

Karena itu, menurut pria 75 tahun tersebut, gempa yang mengguncang Lombok mesti dibaca sebagai teguran dari Tuhan. Agar masyarakat kembali ke ajaran adat dan agama. "Kita ini makhluk kecil. Mungkin selama ini kita terlalu sombong," ungkap kakek enam cucu itu.

Selama ini, kata dia, masyarakat Lombok dikenal teguh memegang kearifan lokal. Tradisi adat dan agama menjadi panutan. Masyarakat percaya, menjaga tradisi adat dan menjalankan perintah agama bakal menghindarkan dari gangguan bencana alam.

Di luar bangunan yang masih lestari, areal sekitar Masjid Bayan Beleq kurang terawat dengan baik. Itu terlihat dari tidak adanya papan informasi.

Padahal, media informasi sangat dibutuhkan pengunjung untuk mengetahui silsilah masjid. Apalagi, di sekitar masjid ada enam bangunan lain. Konon, itu adalah makam para pendiri masjid tersebut.

Selain itu, kawasan tersebut dipenuhi tumbuhan liar di sana-sini. Daun-daun kering berserakan. Areal taman juga tidak lagi tertata rapi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lombok Utara (KLU) Muhammad berjanji melakukan perbaikan. Termasuk pemasangan papan informasi. Tahun depan pihaknya membangun sejumlah fasilitas. Misalnya, mempercantik areal makam dan taman di sejumlah titik. "Kami sudah punya rencana jangka panjang mempercantik areal masjid ini," ujarnya. 

(*/c5/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up