alexametrics

Kiprah Poltak Partogi Nainggolan, Profesor Riset Satu-satunya di DPR

27 Juni 2017, 21:04:56 WIB

Anggota DPR tidak bekerja sendiri dalam melaksanakan tugas. Ada para peneliti yang menyokong data dari survei yang dilakukan. Poltak Partogi Nainggolan salah satu orang yang mempunyai andil besar. Dia merupakan satu-satunya peneliti yang bergelar profesor di Senayan.

SORE (20/6) itu para pegawai mulai meninggalkan gedung tempat wakil rakyat. Jam dinding menunjukkan pukul 15.00, tanda jam bekerja sudah selesai. Namun, Partogi –sapaan akrab Poltak Partogi Nainggolan– belum beranjak dari kursi kerjanya. Dia masih asyik bekerja di ruang yang penuh buku dan literatur ilmiah itu.

Ruang tersebut cukup sempit. Berbagai macam buku tertata rapi di rak. Bukan hanya buku berbahasa Indonesia dan Inggris, ada pula buku berbahasa Jerman, Mandarin, dan bahasa lain. Di meja kerjanya, terdapat beberapa dokumen penting. Ada pula bundel kertas putih. ”Ini naskah buku saya yang mau diterbitkan,” ucap dia saat ditemui Jawa Pos pekan lalu.

Naskah itu berjudul Indonesia di Tengah Kebangkitan China, Jepang, dan India. Menurut dia, ada pula naskah buku yang sudah selesai dan akan diterbitkan. Naskah itu berisi tentang ancaman ISIS di Indonesia. Ayah Reynnalda Alisah tersebut sudah menulsi banyak karya ilmiah. Lima buku dia tulis sendiri. Selain itu, ada 15 buku yang dia tulis bersama penulis lain dan puluhan hasil penelitian.

Setiap tahun, papar dia, ada dua penelitian yang dia hasilkan. Misalnya penelitian tentang reformasi parlemen, penguatan fraksi, agenda pembangunan pasca-2015, dan peran parlemen. Dia mendesain bagaimana parlemen yang modern menjadi pusat pembuatan kebijakan. ”Namun, tidak semua hasil penelitian dilaksanakan,” papar dia.

Sebagai peneliti, tugasnya hanya melakukan riset, lalu hasilnya disampaikan kepada DPR. Entah hasil penelitian dipakai atau tidak, itu sudah menjadi kewenangan anggota dewan. Partogi juga aktif memberikan data kepada panitia khusus (pansus). Salah satunya soal RUU Terorisme. Dia menyokong pansus dengan berbagai data. Misalnya tentang peran TNI dan polisi dalam pemberantasan terorisme, khususnya model penanganan tindak pidana teroris.

Selain Partogi, ada puluhan peneliti yang tergabung dalam Pusat Penelitian DPR. Namun, hanya dia yang bergelar profesor. Dia meraih gelar profesor riset dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pria yang berulang tahun setiap 26 Juni itu sudah sekitar 30 tahun mengabdikan diri sebagai peneliti di DPR. ”Saya bertahan di sini karena ingin menjadi saksi sejarah,” ucap dia.

Dia masih ingat betul bagaimana sejarah reformasi Indonesia. Gedung DPR-MPR merupakan pusat dari perubahan besar itu. Dia mempunyai andil dalam proses reformasi. Partogi melihat sendiri bagaimana sikap Fraksi ABRI pada detik kejatuhan Presiden Soeharto. Kala itu dia berupaya meyakinkan Fraksi Merah Putih yang diisi para tentara. Caranya, memberikan banyak data. Contohnya, data utang luar negeri, kemiskinan, dan suara rakyat yang menginginkan perubahan.

Fraksi tersebut pun mulai yakin. Bukan hanya itu, dia juga membuka informasi bagi wartawan yang datang. Baik jurnalis Indonesia maupun asing. Partogi memberikan berbagai macam data yang terkait dengan fakta.

Data dari Partogi pun menjadi bahan berita media asing. Namun, langkah itu tidak mudah. Dia tidak luput dari radar intelijen. Beberapa kali ruang kerjanya didatangi intel. Namun, alumnus ilmu politik dan hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI) itu tidak gentar. Dia tetap bekerja dalam sepi.

Di luar dugaan, dia mendapat berkah dari situasi itu. Partogi meraih beasiswa S-2 di Universitas Birmingham, Inggris. Dalam wawancara beasiswa, suami Riris Katharina itu mengatakan bahwa Soeharto akan tumbang sehingga dibutuhkan orang yang bisa membantu parlemen. Jika dia diterima, akan banyak yang bisa dilakukannya untuk mendukung kerja parlemen. ”Akhirnya, saya diterima,” ucap dia.

Setelah reformasi dan saat Akbar Tandjung menjabat ketua DPR, dia diberi ruang khusus di dekat ruang pimpinan. Ketika hendak ada kunjungan dari luar negeri, Partogi harus mempelajari latar belakang tamu yang akan datang. ”Saya juga jadi penerjemah,” ucapnya.

Walaupun mendapat kepercayaan besar, Partogi tidak berhenti menuntut ilmu. Pada 2004, dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-3 di Albert Ludwigs Universitaet Freiburg, Jerman. Argumen yang dia sampaikan saat wawancara seleksi juga terkait dengan perannya sebagai peneliti di parlemen. Setelah reformasi, parlemen sangat membutuhkan tenaga dan pikirannya. Kemudian, dia meraih gelar guru besar dari LIPI pada 2014.

Partogi menegaskan akan tetap mengabdi di Senayan. Dia ingin kebijakan yang diputuskan dewan mempunyai rujukan ilmiah yang berdasar penelitian. Dengan begitu, keputusan yang ditetapkan tidak sembarangan. (lum/c11/fat)

Editor : Suryo Eko Prasetyo




Close Ads
Kiprah Poltak Partogi Nainggolan, Profesor Riset Satu-satunya di DPR