Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 April 2017 | 10.07 WIB

Komunitas Love Suroboyo yang Bikin Buku tentang Makam Peneleh

PEDULI SEJARAH: Dari kiri, Sahila Rizki Ardillah, Achmad Muchlison, M. Nur Dhikrulloh Abidin, Kukuh Arisetyawan, Wiharjo Hadisuwarno, Chrisyandi Tri Kartika, dan Dio Yulian Sofansyah berkumpul setelah memotret makam-makam di Peneleh. - Image

PEDULI SEJARAH: Dari kiri, Sahila Rizki Ardillah, Achmad Muchlison, M. Nur Dhikrulloh Abidin, Kukuh Arisetyawan, Wiharjo Hadisuwarno, Chrisyandi Tri Kartika, dan Dio Yulian Sofansyah berkumpul setelah memotret makam-makam di Peneleh.


Makam Eropa di Peneleh menyisakan banyak jejak sejarah. Sayangnya, informasi tentang makam berusia hampir dua abad itu belum banyak dikupas. Komunitas Suroboyo mengambil inisiatif untuk membuat buku tentang makam itu.





SALMAN MUHIDDIN





DE begraafplaats Peneleh atau makam Peneleh sengaja diletakkan di tengah-tengah jantung kota. Letaknya 100 meter dari tepi Kalimas yang tersohor sebagai pusat transportasi air pada zaman kolonial.



Tidak sembarangan orang dimakamkan di situ. Para pejabat seperti Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Merkus (1787–1844), Residen Surabaya Daniel Francois Willem Pietermaat (1790–1848), hingga Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda P.J.B. de Perez (1803–1859) bersemayam di sana.



Terdapat ornamen-ornamen gotik hingga patung-patung bergaya Romawi yang menjadi tetenger makam. Semakin besar tetengernya, semakin tinggi jabatan mendiang. Lantaran makam itu sangat artistik, banyak penghobi fotografi yang berkunjung.



Komunitas Love Suroboyo merupakan komunitas pencinta foto yang bernaung di Instagram. Saat ini sudah ada 65 ribu pengikut di akun yang diprakarsai Shandi Setiawan tersebut.



Nah, pencatatan makam-makam di Peneleh tebersit pada 25 September tahun lalu. Saat itu, anggota komunitas dikerahkan untuk mencari makam-makam orang penting. Mereka berpedoman pada buku sejarah Oud Soerabaia karya G.H. Von Faber. Ada 25 tokoh yang dicari.



Namun, yang ketemu baru enam orang. Yang pertama adalah Onnes Kurkdjian, fotografer Armenia yang mengabadikan gambar-gambar masa kolonialisme dan pernah punya tempat kerja di Jalan Tunjungan. Setelah itu, Rosalia Josepha, pimpinan Particuliere Meisjesschool Surabaya (1883–1892) yang gedungnya sekarang menjadi SMAN 6 Surabaya.



Ada juga ”iron man”, F.J.H. Bayer, pemilik industri besi Phoenix dan De Volharding. Dia adalah penyedia mesin uap bagi kapal-kapal pada zaman kolonial. Makam pemilik percetakan E. Fuhri & Co di Jalan Tanjung Anom 19, yaitu E.J.I. Fuhri, juga berhasil diidentifikasi.



Ada juga Z.R. Mere Louise, biarawati dari Ordo Santa Ursula. Suster-suster Ursulin (sebutan mereka) banyak berkarya di bidang pendidikan. Hingga kini, sekolah yang dikelola ordo tersebut, antara lain, Sekolah Santa Maria di Surabaya atau Cor Jesu di Malang.



Nama terakhir adalah H.N. Van der Tuuk , seorang linguis yang menerjemahkan kitab Injil ke bahasa Indonesia dan Jawa.



Namun, cara mereka kurang efektif. Mencari segelintir nama di lahan seluas 4,5 hektare itu bukan perkara mudah. Komunitas harus menghabiskan banyak energi dan waktu. Oleh karena itu, cara tersebut dievaluasi.



Koordinator tim pembuatan buku Peneleh, Wiharjo Hadi Suwarno, sejak awal April lalu menggerakkan para fotografer Love Suroboyo untuk mendokumentasikan seluruh makam. Setelah semua makam difoto, barulah dicari tahu siapakah orang yang bersemayam di makam tersebut. Zaman sekarang, tinggal Googling, banyak informasi yang muncul.



Yang harus terpotret oleh kamera adalah ornamen dan detail makam yang tersisa. Tapi, yang terpenting adalah nama yang terukir pada nisan. Senjata yang dipakai ialah denah makam Peneleh yang dimiliki anggota komunitas, Chrisyandi Tri Kartika. Juga data berisi daftar nama jenazah yang dimakamkan di Peneleh.



Data tersebut disusun oleh Leon Bok, peneliti makam asal Belanda. Leon datang pada 2011 dan 2012 untuk meneliti makam Peneleh. Data itu dapat diunduh di website dodenakkers.nl.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore