
INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia.
Jatuh bangun. Frasa itu bukan kiasan belaka bagi tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini. Mereka benar-benar mengalami sendiri ketika berusaha menciptakan LifePlus. Yakni, teknologi yang memungkinkan lansia mendapatkan pertolongan secepatnya ketika jatuh.
ANTIN IRSANTI
BRUK! Bruk! Bruk! Tiga model jatuh ala manusia lanjut usia sudah diperagakan Natsir Hidayat Pratomo. Pinggangnya pun semakin sakit. Tapi, alat yang menempel di dadanya tidak kunjung mengeluarkan sinyal.
’’Cara jatuhmu salah, kali,’’ ujar Lutfi Faturrahman yang diikuti anggukan Made Detya Dharma Yudha. Natsir pun berpikir sejenak sambil menimbang-nimbang lagi kecepatan jatuh yang sesuai. ’’Oke, aku ulang ya,’’ ucapnya seraya bersiap memperagakan adegan kakek tua yang hendak terjatuh.
Bruk satu. Masih belum ada tanda-tanda alat bekerja. Bruk dua. Hasilnya sama. Bruk tiga. Sepertinya ada yang salah dengan alat bernama LifePlus itu. Natsir semakin tidak tahan. Pinggangnya cenut-cenut, sepertinya memar. Dilepasnya alat yang sejak tadi merekat kuat di kausnya tersebut. Dibolak-baliknya kemudian. ’’Yaelah, ternyata belum di-switch ke tombol on,’’ teriaknya sambil cengar-cengir kesakitan.
Hahaha. Tawa kedua kawannya pun membahana. Bukan hanya ekspresi kekesalan Natsir yang membuat lucu, tetapi juga ketidaktelitian mereka sehingga pada uji coba kali ini tak kesampaian hasilnya. ’’Ya sudah, istirahat dulu. Nanti dicoba lagi ya,’’ kata Lutfi, masih menahan tawa.
Hal itu tidak hanya sekali terjadi. Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut beberapa kali mengalaminya. Selain lupa membuka sakelar on, terkadang kegagalan uji coba disebabkan peranti terlepas. Atau, kehabisan daya baterai. Ujung-ujungnya, Natsir menjadi korban dan dua temannya mendapat hiburan.
Ya, Natsir memang satu-satunya pemeraga cara jatuh lansia. Sebab, kaus yang didesain untuk dipasangi alat LifePlus paling pas dengan ukuran tubuhnya. Dua temannya tidak mungkin cukup. Pakaian itu terlalu kecil di badan Lutfi dan kebesaran di badan Detya. ’’Nggak apa-apa, sudah profesional, kok,’’ kata Natsir, menghibur diri.
Dalam pengambilan data, Natsir harus memperagakan lima gerakan jatuh dari masing-masing posisi. Ada berdiri ke jatuh, duduk lalu jatuh, berdiri duduk, dan duduk ke tidur. Dengan begitu, total ada 20 cara jatuh yang dilakukan.
Tapi, pada kenyataannya, dia tidak hanya 20 kali jatuh. Bahkan berkali-kali sampai tak terhitung lagi. Sebab, pada prosesnya ada saja halangan yang menimpa sehingga tidak mulus sesuai aturan pengambilan data pada umumnya.
Namun, pengorbanan itu tidak sia-sia. LifePlus kini sudah bisa diaplikasikan. Bahkan, terus dikembangkan agar semakin sempurna. Bentuknya pun semakin kecil sehingga lebih mudah digunakan dan tidak mengganggu lansia yang memakainya. Sebab, alat harus dipasang di dada sebagai pusat keseimbangan. Kalau terlalu besar, tentu berat dan tidak nyaman.
Lutfi menceritakan awal mula mereka membuat alat LifePlus. Sebagai mahasiswa tingkat akhir di jurusan teknik fisika, dia ingin membuat satu alat yang bermanfaat sebelum pendidikan sarjananya berakhir. Karena itu, dia mengajak dua kawannya, yakni Natsir dan Detya, untuk menciptakan alat orisinal buatan mereka. ’’Itung-itung mengisi waktu luang juga biar nggak kuliah-pulang-kuliah-pulang saja,’’ ungkap laki-laki asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut.
Awalnya mereka ingin membuat alat yang bisa menyimpan data kesehatan. Tapi, lama-lama ide itu semakin berkembang. Hingga akhirnya, tercetus pembuatan alat bernama LifePlus. Gunanya, mendeteksi lansia yang terjatuh dan memungkinkan perawat atau penjaganya tahu lebih cepat sehingga bisa segera tertolong.
Ide membuat LifePlus berasal dari pengalaman pribadi Natsir. Dia bercerita bahwa kakeknya merupakan orang yang giat bekerja meski usia semakin senja. Suatu ketika, kakeknya terjatuh dan tidak ada orang yang tahu hingga beberapa jam. Ketika ditemukan dan dibawa ke rumah sakit, sang kakek divonis dokter telah mengalami kelumpuhan. ’’Dan, ternyata setelah kami cek data di rumah sakit dan panti jompo, kasus serupa sering terjadi,’’ terangnya.
Karena itu, tiga mahasiswa tersebut mengajukan proposal dana bantuan program kreativitas mahasiswa (PKM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti November 2015. Rupanya, proposal mereka lolos dan berhasil mendapatkan dana penelitian Rp 7 juta.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
