Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Desember 2024 | 20.47 WIB

Ajak Masyarakat Memanfaatkan Air Hujan, Sri Wahyuningsih Punya Slogan Ngombe Banyu Udan ben Ora Edan

RAIH AWARD: Pendiri Banyu Bening Sri Wahyuningsih bersama perlengkapan untuk mengolah air hujan menjadi siap minum dengan sistem elektrolisis. (DOKUMENTASI KEHATI) - Image

RAIH AWARD: Pendiri Banyu Bening Sri Wahyuningsih bersama perlengkapan untuk mengolah air hujan menjadi siap minum dengan sistem elektrolisis. (DOKUMENTASI KEHATI)

Jika suatu saat dunia mengalami krisis air bersih, gerakan yang dicanangkan Sri Wahyuningsih ini bisa menjadi solusi. Berkat kegigihannya mengedukasi masyarakat, dia menerima penghargaan Kehati Award 2024 pada 3 Desember di Jakarta.

MOH. HILMI SETIAWAN, Jakarta

---

SENYUM merekah saat namanya dipanggil sebagai salah satu penerima Kehati Award 2024 di gedung Kesenian Jakarta (3/12). Sebelum penghargaan diberikan secara resmi di panggung utama, Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati Indonesia) memberikan kesempatan kepada wartawan untuk wawancara dengan Sri Wahyuningsih serta penerima penghargaan lainnya.

Yu Ning, begitu dia akrab disapa, meraih penghargaan karena dedikasinya mengolah air hujan. Dia mendirikan komunitas Banyu Bening pada 2012. Lalu, pada 2015 dia mendirikan Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Lewat sekolah itu, Yu Ning berinovasi mengatasi krisis air bersih. Sesuai dengan namanya, dia menjadikan air hujan sebagai solusi mengatasi air bersih.

Sekolah Air Hujan Banyu Bening bermarkas di Jalan Rejondani, Dusun Tempursari, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.

Yu Ning mengatakan, semula dirinya kerap menerima cibiran karena menggunakan air hujan untuk air minum. ”Dianggap wong gendeng (orang gila),” katanya.

Namun, perempuan 57 tahun itu tetap kukuh dengan visinya bahwa air hujan bisa menjadi solusi krisis air karena aman dikonsumsi. Dia menyadari bahwa di daerahnya pasokan air sangat melimpah. Berbeda dengan daerah lain di Jogjakarta, seperti Gunungkidul, yang kerap menderita kekeringan.

Yu Ning mengatakan, di kampungnya, menggali sumur sedalam 3 meter saja sudah cukup. Sumber mata air sudah keluar. Cukup untuk memenuhi pasokan air bersih rumah tangga. Meski begitu, dia tetap melanjutkan gagasannya untuk menampung air hujan.

”Tugas saya mengedukasi masyarakat. Sesuai dengan kelompok masyarakat,” jelasnya. Dia memberikan edukasi tentang perlunya memanfaatkan air hujan tidak hanya ke ibu-ibu rumah tangga, tetapi juga bocah PAUD, murid sekolah, mahasiswa, bahkan akademisi. Setiap kelompok itu mempunyai cara dan materi sosialisasi yang berbeda-beda meskipun tujuannya sama.

Untuk masyarakat sekitar, menurut dia, yang dibutuhkan cukup contoh atau keteladanan. ”Contoh dari saya, menjadi legalitas yang tidak tertulis,” tutur Yu Ning, kemudian tersenyum.

Begitu pun untuk anak-anak. Kebanyakan dalam diri mereka masih tertanam pemahaman bahwa air hujan bikin pilek atau flu. Padahal, jelas-jelas flu atau influenza adalah penyakit yang disebabkan virus. Orang bisa terserang flu ketika kondisi imunitasnya turun. Bukan semata-mata karena hujan-hujanan atau minum air hujan.

”Konsep kita, bagaimana air hujan yang jatuh itu kita tampung sebanyak-banyaknya,” katanya. Air hujan itu ditampung supaya bisa melewati musim kemarau. Dengan begitu, masyarakat tetap mempunyai akses air bersih sampai ketemu dengan musim hujan berikutnya.

Dia mencontohkan, satu orang membutuhkan 10 liter air bersih dalam sehari. Berarti untuk sebulan, butuh 300 liter air. Lalu, dibuat estimasi, dalam satu tahun, durasi musim kemaraunya berapa bulan. Lewat perhitungan itu, akan ketemu berapa banyak air hujan yang harus mereka tangkap dan disimpan dalam tandon.

”Saat kemarau El Nino tahun lalu, sepuluh bulan kemaraunya,” tuturnya. Maka, satu orang dianjurkan menyimpan 3.000 liter air bersih. Ketika musim kemarau tiba, warga yang tergabung dalam komunitas Banyu Bening tinggal memanen air bersih dari air hujan yang sudah mereka simpan. Hitungan mereka benar-benar cukup detail. Ketika ada kelebihan, dianjurkan untuk dikembalikan lagi ke dalam tanah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore