Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Juli 2024 | 21.46 WIB

72 Persen Ibu Alami Mom-shaming, Jadi Ibu Tak Semudah Itu

dr Ray Wagiu Basrowi. (Foto: Ferlynda Putri/Jawa Pos)

Tak ada buku panduan baku untuk menjadi ibu. Namun, Tuhan mengaruniakan intuisi kepada perempuan untuk mengasuh buah hati. Sayangnya, gaya dan cara perempuan mengasuh anaknya sering disorot negatif oleh lingkungannya.

SECARA ilmiah, mengolok-olok pola pengasuhan seorang ibu disebut mom-shaming. Olok-olok itu bisa disampaikan secara langsung maupun tidak, sendirian ataupun berkelompok. Awal bulan ini, Health Collaborative Center (HCC) merilis hasil penelitian terkait dengan mom-shaming.

Datanya cukup mencengangkan. Berdasar riset HCC, diketahui perbandingan korban mom-shaming adalah tujuh dari tiap 10 ibu. Peneliti utama dr Ray Wagiu Basrowi menyebut ibu rumah tangga sebagai kategori yang paling rentan mengalami mom-shaming.

Sebanyak 72 persen responden yang diwakili 892 ibu mengaku pernah di-mom-shaming-kan. ”Mom-shaming itu berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan emosional mereka,” kata Ray saat ditemui Jawa Pos pada 1 Juli lalu.

Penelitian yang dilakukan bersama Research Associate HCC Yoli Farradika itu menemukan fakta mayoritas ibu yang mengalami mom-shaming cenderung terpengaruh. Sebanyak 50 persen di antaranya terpaksa mengganti pola asuh. Bahkan hanya 23 persen ibu responden yang mengaku berani melawan dan menghindar dari perlakuan mom-shaming.

”Kondisi ini disebabkan kurang optimalnya peran support system, yaitu keluarga, yang seharusnya melindungi mereka,” katanya.

Yang lebih mencengangkan, dalam studi tersebut diketahui pelaku mom-shaming adalah orang-orang terdekat ibu. Bahkan lingkungan intinya. Yakni, keluarga, kerabat, dan lingkungan tempat tinggal. 

Justru, menurut Ray, peran media sosial tidak terlalu signifikan terhadap mom-shaming. ”Para ibu responden survei ini hanya sedikit yang terpengaruh mom-shaming dari media sosial, yaitu hanya sekitar 6 persen. Artinya, hipotesis selama ini bahwa media sosial berkontribusi dalam mom-shaming tidak sepenuhnya tepat,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ray menyebutkan bahwa risiko ibu tidak bekerja mengalami mom-shaming enam kali lipat lebih tinggi daripada ibu pekerja. Ini dilihat dari 67 persen responden yang merupakan ibu rumah tangga. ”Sebanyak 65 persen ibu yang mengalami mom-shaming merasa malu dan menarik diri dari interaksi sosial,” ungkapnya.

Seperti apa sih bentuk mom-shaming itu? Ray menyatakan, setidaknya ada lima topik yang sering menjadi bahan mom-shaming. Pertama, menyalahkan ibu ketika anak sakit dan menganggap cara pengasuhannya salah.

Perkara lain yang sering menjadi bahan olok-olok adalah anak yang kurus. Orang-orang terdekat sang ibu sering menghakiminya dengan mengatakan bahwa dia tidak memberi makan anaknya dengan benar.

Ibu juga kerap dipermalukan karena kondisi fisiknya pasca melahirkan. Yang lebar lah, gendut lah, atau kusut. Pilihan tidak menyusui pun kerap dilontarkan dan menjadi topik mom-shaming. Topik lain yang sering menjadi bibit olok-olok adalah pilihan ibu untuk tetap bekerja. 

Bertahun Lalu, tapi Masih Terus Jadi ”Hantu”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore