Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Maret 2024 | 22.04 WIB

Mereka Yang Terdampak Industri Pengolah Nikel di Morowali, Sekarang Susah Cari Ikan, Takut Baling-Baling Kapal Besar

PICU EFEK: Smelter PT Wanxiang Nickel Indonesia di Kelurahan Bahomotete, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali (28/2). - Image

PICU EFEK: Smelter PT Wanxiang Nickel Indonesia di Kelurahan Bahomotete, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali (28/2).

Tiap hari ratusan orang yang bekerja atau tinggal di sekitar kawasan pengolahan nikel terkena ISPA. Banyak pemilik kapal yang kini juga memilih jadi pengangkut dan pengantar logistik kru kapal besar ketimbang mencari ikan yang wilayah tangkapnya kian terbatas.

SAHRUL YUNIZAR, Morowali-Dinda Juwita, Jakarta

---

PUSKESMAS Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, nyaris tidak pernah sepi. Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA adalah salah satu gangguan kesehatan yang paling sering dialami mereka yang berobat, baik pekerja di industri pengolahan nikel yang bertebaran di sana maupun warga setempat.

Catatan akhir tahun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sulawesi Tengah (Walhi Sulteng) tahun lalu, misalnya, menunjukkan 52 persen warga Desa Fatufia, Bahodopi, yang memeriksakan kesehatan di puskesmas setempat mengalami ISPA. Aktivitas PLTU captive batu bara di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) diduga memicu terjadinya pencemaran udara.

Pemerintah Kabupaten Morowali juga mencatat dari total 61 ribu kasus ISPA di Morowali, 49 ribu di antaranya muncul di Bahodopi. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menekan angka tersebut. Termasuk memasang jaring-jaring penghalang asap di sekitar PLTU captive batu bara. Namun, belum cukup.

Pada Rabu (28/2) pagi akhir bulan lalu, seorang pasien bernama Parhan termasuk yang mendatangi Puskesmas Bahodopi. Diagnosis dokter menyatakan, Parhan terkena ISPA.

”Baru kemarin terasa badan kurang enak,” kata dia saat berbincang dengan Jawa Pos.

Pria 42 tahun itu mengaku sudah beberapa kali bermasalah dengan infeksi tersebut. Bahkan dalam setahun bisa dua sampai tiga kali.

”Cepat sembuhnya, tapi mudah juga kena,” tambah perantau yang datang dari luar Sulteng dan telah dua tahun bekerja di Morowali itu.

Informasi yang dikumpulkan Jawa Pos, banyak pekerja lain yang mengalami hal serupa. Demikian pula masyarakat Bahodopi. Di hari yang sama dengan Parhan, misalnya, seorang balita diperiksa di Puskesmas Bahodopi. Lagi-lagi, ISPA.

”Pasien anak-anak ada, dewasa, usia muda ada,” ujar Kepala Puskesmas Bahodopi Abdul Malik.

Menurut Malik, harus ada pemeriksaan lebih jauh sebelum menyebut pencemaran udara sebagai penyebab tingginya angka ISPA di Bahodopi. Namun, dia tidak menampik banyaknya pasien yang mengalami infeksi tersebut.

Di seluruh wilayah Bahodopi, ada 38 jaringan puskesmas. Terdiri atas klinik dan tempat praktik dokter. Setiap hari mereka melaporkan angka pasien kepada Puskesmas Bahodopi. Jika dikalkulasi, yang terkena ISPA per hari di Bahodopi bisa tembus ratusan orang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore