
SAHABAT LAMA: KH Ma
Berpisah setelah mondok di Tebuireng Jombang, KH Ma’ruf Amin dan KH Sam’un bertemu lagi di Kuching, Malaysia. Kepada wartawan Jawa Pos M. HILMI SETIAWAN yang mengikuti lawatan wakil presiden, Sam’un mengenang sejak dulu sahabat lamanya itu sudah memperlihatkan bakat sebagai calon kiai besar.
---
BARU sejurus Ma’ruf Amin berpidato, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Ahmad Erani Yustika menghampiri seorang pria yang duduk di deretan kursi agak ke tengah. Dengan takzim Erani mempersilakan pria berpeci dan berbaju batik itu untuk pindah ke deretan terdepan.
Nama pria tersebut KH Sam’un, sebelumnya sempat disinggung Ma’ruf di awal pidato. ”Alhamdulillah, kami berdua diberi kesehatan. Dulu kami satu kamar bareng,” kata Ma’ruf dalam dialog kebangsaan dengan warga negara Indonesia (WNI) di hotel tempatnya menginap di Kuching, Malaysia, akhir November lalu itu (29/11).
Ya, pada 1958 sampai 1961, Ma’ruf dan Sam’un rekan satu kamar ketika sama-sama mondok di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Tapi, sesudahnya mereka tak pernah bertemu lagi. Sampai akhirnya bertemu di Kuching, 62 tahun berselang.
Karena itu, begitu turun dari panggung, Ma’ruf yang didampingi sang istri Wury Ma’ruf Amin melanjutkan kesempatan bereuni dengan sang sahabat lama tersebut. Mereka lama berbincang hangat. Termasuk berkesempatan berfoto berdua.
”Ya tanya-tanya soal kondisi saat ini. Alhamdulillah, kami berdua diberi kesehatan dan bisa bertemu,” kata Sam’un kepada Jawa Pos yang mengikuti lawatan wakil presiden ke negeri jiran itu.
Keduanya sempat bertegur sapa sebentar sebelum Ma’ruf menuju podium untuk berpidato. Sam’un datang sendirian pagi itu. Selama ini dia tinggal di Kuching bersama sang istri. Namun, pendamping hidupnya tersebut tengah pergi ke Kuala Lumpur untuk menemani putri bungsu mereka yang baru saja melahirkan.
Sam’un yang menjadi penasihat pendidikan keagamaan di Pemerintahan Negara Bagian Sarawak sebenarnya juga ikut mendampingi di Kuala Lumpur. Tapi, begitu mendengar Ma’ruf akan bermuhibah, dua hari sebelum kedatangannya, dia langsung pulang ke Kuching.
Pria asal Cirebon, Jawa Barat, yang masih berstatus WNI itu kali terakhir bersua Ma’ruf pada 1961. ”Macam mimpi bisa bertemu lagi,” katanya.
Semasa nyantri di Tebuireng, selama tiga tahun Sam’un satu kamar dengan mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut. Bersama santri lainnya, mereka biasa tidur beralas tikar.
Sam’un yang tinggal di Sarawak sejak 1975 mengatakan, satu kamar kadang berisi lima orang, tapi tak jarang juga bisa sampai sepuluh orang. ”Kalau tidur sudah seperti ikan pindang,” kenangnya.
Setiap malam mereka rutin mengaji bareng. Setelah selesai belajar di madrasah atau di pondok bersama ustad, materinya diulang kembali di kamar masing-masing. Mulai pelajaran membaca Alquran, bahasa Arab, membaca kitab kuning, dan lainnya. Satu santri mengaji, santri lainnya menyimak bacaannya.
Sam’un menceritakan, waktu itu bakat menjadi kiai dan tokoh agama besar sudah terlihat pada diri Ma’ruf. Dia sering bertugas menyimak bacaan Alquran rekan-rekannya. ”Saya pernah beberapa kali ditegur Pak Ma’ruf Amin,” ungkapnya. Yaitu ketika bacaan Alquran yang dia bawakan salah atau kurang tepat. Tapi, teguran itu selalu disampaikan Ma’ruf dengan sopan.
Mereka berdua satu kelas juga di madrasah tsanawiyah (MTs). Tapi, setelah mondok, keduanya berpisah. Sam’un melanjutkan studi mendalami bahasa Arab. Dia sempat kuliah di Mesir hingga Libya. Saat di Libya, Sam’un bergabung dengan Badan Dakwah Internasional. Salah satu kegiatannya mengirim ahli bahasa Arab ke penjuru dunia. ”Semula saya pilih ke Singapura,” katanya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
