
PENGABDIAN: Romo Widya Kusuma (kanan) bersama istrinya, Eng Giok Hwa, beberapa waktu lalu. Dia adalah pendiri Vihara Dhamma Jaya.
Tan Siang Kui atau akrab disapa Romo Pandita Widya Kusuma mengenal Buddha dari kedua orang tuanya. Dia mulai mengabdi pada agamanya sebagai pengurus jenazah sejak usia 17 tahun. Saat pindah ke Surabaya, dia mengabdi hingga mampu mendirikan Vihara Dhamma Jaya, Lontar.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
VIHARA Dhamma Jaya tampak megah dengan patung Buddha tinggi menjulang. Tak banyak yang tahu, kemegahan tersebut bermula dari cetiya kecil yang berkali-kali pindah lokasi sejak 1986. Cetiya meru pakan tempat ibadah agama Buddha dengan skala kecil.
Saat pindah ke Surabaya dari Samarinda pada 1984, Widya beribadah di cetiya lain. Namun, pria kelahiran 26 September 1953 itu memiliki kemauan kuat untuk membuat tempat ibadah sendiri. Cetiya pertama didirikan di kawasan Pucang Adi.
Karena ukurannya kecil, penganut Buddha yang hadir berdoa hingga ke halaman rumah. Dia juga mengumpulkan penganut Buddha melalui jejaring yang dipunya. Salah satunya pekerjaan.
”Saya dulu pernah kerja di beberapa tempat. Paling lama sebagai guru di SMA Trisila,” tuturnya.
Karena harga sewa kian naik, Widya sempat memindahkan lokasi cetiya ke kawasan Hamzah Fansyuri.
Bahkan, berbagi ruang dengan Kelenteng Genteng Sayangan. Hingga akhirnya menetap cukup lama di Jalan Tulungagung pada 22 Maret 1992.
Perpindahan itu dilatari berbagai alasan. Mulai jumlah penganut yang terus bertambah hingga cetiya tak lagi cukup. ”Pernah diusir juga oleh penduduk setempat karena tidak setuju,” kenang Widya.
”Setelah reformasi, kami akhirnya mulai mendirikan Vihara Dhamma Jaya yang sekarang kita gunakan,” tuturnya. Sebuah vihara megah dengan teguh berdiri di Jalan Bulu Jaya V/19, Surabaya.
Pembangunannya tak mulus. Widya juga pernah dituduh nyolong dana umat untuk pembangunan. ”Tapi, ya saya nggak dengarkan. Integritas itu dipegang dan dibuktikan sepanjang waktu,” tegas ayah dua anak itu.
Kini wihara tersebut sudah menaungi ribuan umat. Dua lantai wihara selalu penuh ketika ada perayaan penting.
Dedikasinya pada Buddha tak terlepas dari peran kedua orang tuanya. Termasuk dia belajar mengurus jenazah. ”Diajari oleh orang tua, pengurus jenazah memang tidak banyak di sana,” tuturnya.
Tak hanya terampil membersihkan dan memperindah jenazah serta petinya, dia juga mampu merapalkan doa parita.
”Makin dewasa makin dipercaya. Jadi dipanggil ke mana-mana, termasuk membongkar kuburan massal,” kenangnya.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
