
Tim BKSDA Jatim saat proses pelepasliaran monyet ekor panjang di Nusa Barong.
Sebelum sampai ke tahap pelepasliaran, BKSDA Jatim harus melakukan identifikasi, observasi, survei, hingga tes DNA untuk jenis primata. Hewan bekas peliharaan termasuk yang paling sulit beradaptasi saat dikembalikan ke habitat.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
---
BERJALAN 2–3 kilometer sambil membawa puluhan satwa, sering. Terjebak di kubangan, tak satu–dua kali. Digigit hewan yang akan dilepasliarkan, pernah.
Pada setiap proses pelepasliaran satwa seperti yang rutin dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur (Jatim), ada liku-liku panjang yang mesti dilalui. Maret lalu, misalnya, saat 48 lutung jawa hendak dikembalikan ke habitat di Pulau Nusa Barong yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Jember.
”Lumpur setinggi lutut tersebut menjebak kaki tim di lapangan. Apalagi waktu itu masih musim hujan,” kenang Kepala BKSDA Jatim Nur Patria Kurniawan kepada Jawa Pos Kamis (14/9) pekan lalu di Surabaya.
Survei lokasi juga harus dilakukan terlebih dahulu. Mulai jenis habitat, jumlah populasi, ketersediaan pangan, hingga keberadaan ancaman. Jangan sampai penambahan satwa justru menambah konflik antarmereka di dalam hutan.
BKSDA Jatim biasanya menggandeng JSI (Jaringan Satwa Indonesia) dan JLC (Javan Langur Center). ”Dua lembaga itu tempat sekolahnya primata sebelum dilepaskan ke habitatnya. Terutama bagi yang perilaku liarnya sudah hilang,” ujarnya.
Prosedur ketat memang diterapkan BKSDA Jatim sebelum sampai ke tahap pelepasliaran. Mulai identifikasi, pemeriksaan, observasi, hingga tes DNA untuk jenis primata seperti orang utan. ”Kami harus memastikan asal primata itu dari mana, apalagi jika didapat dari razia penyelundupan,” kata Nur Patria.
Kalau sifat liar satwa hilang, harus disekolahkan dulu ke sekolah yang diorganisasi JCI dan JLC tadi. Di sana satwa dilatih untuk beradaptasi menghindari musuh, mencari makanan, hingga bertahan di alam liar.
Tapi, sebagaimana juga manusia, sekolah bukan jaminan keberhasilan. Misalnya saat monyet ekor panjang yang dilepaskan di Cagar Alam Pulau Sempu, Kabupaten Malang, beberapa waktu lalu. Sehari setelah dikembalikan, ada nelayan melapor seekor monyet ikut di perahu.
Saat diobservasi, primata itu dulunya dipelihara sehingga tidak takut dengan kehadiran orang. ”Akhirnya saya telepon JLC, ini ada monyet yang tidak lulus, harus remedi, hahaha,” ungkap Nur Patria.
Hasil sekolah para primata selalu dilaporkan ke BKSDA Jatim. Begitu pun sebaliknya ketika ada primata yang dinilai belum lulus. BKSDA Jatim juga melakukan sosialisasi ke warga sekitar. Mereka diminta melapor jika ada hewan yang keluar hutan.
Sebetulnya pemantauan juga dilakukan tim di lapangan. Untuk lutung, contohnya, butuh pengawasan tiga hari hingga seminggu. ”Satwa juga butuh adaptasi di habitatnya,” ucap dia.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
