
MENYEDOT PERHATIAN: Tradisi manopeng di Banyiur Luar, Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin.
Manopeng dihelat setahun sekali dengan tujuan tak hanya untuk silaturahmi, tapi juga pengobatan. Pemerintah Kota Banjarmasin mengapresiasi pihak keluarga yang mengizinkan tradisi tersebut dibawa ke ruang publik.
WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin
---
DI atas panggung yang dibangun bersisian dengan ruas jalan, lelaki tua yang mengenakan topeng berwarna merah itu masih terus menari.
Diiringi tetabuhan, gerakannya patah-patah. Dia baru berhenti menari ketika tujuh perempuan muncul di atas panggung, seakan-akan, dialah yang memanggil mereka.
Ketujuh perempuan pada panggung yang berlangsung Minggu (13/8) dua pekan lalu di kawasan Banyiur Luar, Banjarmasin Selatan, Kalimantan Selatan (Kalsel), itu juga mengenakan topeng. Warnanya kuning. Serasi dengan kostum yang mereka kenakan. Di pinggang mereka, terikat selendang hijau.
Tak berapa lama, kondisi penari di atas panggung mulai tak terkendali. Salah seorang di antaranya bahkan tampak limbung, sebelum kemudian pingsan...
*
Itulah tradisi manopeng alias menarikan tari topeng yang turun-temurun dihelat keturunan Datuk Mahbud di Banyiur Luar. Datuk Mahbud dipercaya sebagai orang pertama yang membuka kampung di Kelurahan Basirih, Kota Banjarmasin, tersebut.
Manopeng digelar sekali dalam setahun pada bulan Muharam. Tujuannya, mempererat silaturahmi antarzuriah (keturunan) sang datuk.
Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina yang juga menyaksikan pergelaran pada malam itu mengapresiasi zuriah manopeng di Banyiur Luar yang masih mengizinkan tradisi tersebut ditampilkan kepada khalayak ramai. Pemerintah Kota Banjarmasin, lanjut dia, juga sudah menjadikan manopeng sebagai bagian dari kalender event Kota Banjarmasin.
”Kami siap membantu melancarkan pergelaran,” katanya kepada Radar Banjarmasin.
Apresiasi juga datang dari dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin sekaligus Wakil Ketua II DPW Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kalsel Novyandi Saputra. ”Konteks pergelaran manopeng itu tidak sekadar hiburan atau ritual semata. Tapi juga menjadi ruang mempertemukan banyak pihak untuk saling berkolaborasi dan bergotong royong,” katanya.
*
”Ruang pertemuan” yang dimaksud Novyandi memang kasatmata di malam pertunjukan. Di depan panggung hingga ruas Jalan Banyiur Luar, warga menyemut.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
