
SUSTAINABLE: Hanna Agustin menunjukkan keycaps karyanya yang dibuat dari bahan daur ulang, Rabu (14/6).
Hanna Agustin mengkreasikan plastik daur ulang menjadi keycaps atau tombol karakter yang menarik. Saat WFH, produknya makin diminati. Hanna punya keyakinan produk ramah lingkungan sekarang punya nilai jual.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
SEJAK pandemi merebak dua tahun lalu, budaya kerja mulai bergeser dari kantor ke rumah. Mereka work from home (WFH), bekerja di depan laptop dari pagi hingga sore. Pelaku bisnis memanfaatkan WFH untuk membuat artisan keycaps atau tombol karakter pada keyboard laptop atau PC.
Tren tombol karakter tersebut cepat meluas. Siswa dan mahasiswa ikut mempercantik keyboard dengan tombol-tombol cantik. Itu dilakukan agar mereka semakin semangat beraktivitas. ”Kalau dulu, saya bikin sendiri dari bahan polymer clay,” jelas Hanna.
Dia sempat membuat beberapa karakter. Di antaranya, beruang dan bebek. Tombol terlebih dahulu dicetak sesuai kebutuhan keyboard, kemudian bagian atas dihias dengan telinga dan lukisan mata serta hidung.
Karya yang semula menjadi tugas kuliah itu ternyata diminati. Hanna pun terus mengembangkannya.
”Aku pikir isu lingkungan ini harus terus diangkat. Bahkan, produk ramah lingkungan sekarang punya nilai jual sendiri,” jelasnya.
Dia mulai melirik metode pelelehan plastik untuk digunakan sebagai tombol keyboard. Yang dicoba tutup botol plastik. Memang tampaknya simpel. Tapi, dia butuh waktu setahun agar tombol dari plastik itu bisa digunakan dengan nyaman.
”Prosesnya ternyata rumit. Mulai dari cara cetak, cetakannya sendiri, sampai memuluskan keycaps-nya supaya nyaman dipakai,” jelasnya saat ditemui, Rabu (14/6).
Plastik yang digunakan berjenis HDPE dan LDPE. Bahan itu dilelehkan dengan oven. Suhunya harus mencapai 200 derajat Celsius agar plastik-plastik tersebut leleh sempurna. Setelah mencapai suhu yang ditetapkan itu, plastik yang meleleh segera dikeluarkan dari oven dan dituangkan pada cetakan yang sudah ada.
”Cetakanku hanya untuk dua tombol. Jadi, sekali bikin hanya bisa dua,” ucapnya.
Cetakan yang telah diisi lelehan plastik itu harus ditekan dengan dongkrak. Ya, dongkrak mobil. Setelah suhu agak hangat, dongkrak dilepaskan. Berlanjut tahap penyelesaian manual.
”Sisi pinggirnya agak tajam. Jadi harus dipotong tipis, kemudian diampelas,” ucap mahasiswa Visual Communication Design UC itu.
Dengan ukuran tombol yang mungil, semua pengerjaan memang harus dilakukan ekstrahati-hati. Meleyot sedikit, tombol sudah jadi produk gagal. Menurut Hanna, untuk satu kali pembuatan, membutuhkan 8–10 tutup botol. Bergantung pada gramasi atau kepadatan tutup yang dipakai.
”Satu tutup botol itu biasanya punya berat sekitar 2–3 gram. Jadi kalau 8–10 tutup botol, bisa sekitar 16–30 gram,” jelasnya.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
