SUSUR SUNGAI: Nanang Purwono sedang menunjukkan aliran Sungai Kalimas. Di sekitar aliran sungai tersebut banyak tempat yang memiliki nilai sejarah dan saling berkaitan.
Dari literasi yang dibacanya, Nanang Purwono meyakini bahwa cikal bakal Surabaya berawal dari Sungai Kalimas. Sejak 2010, dia mulai menulis catatan tentang sungai itu. Pada Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) Ke-730, notulensi tersebut dikumpulkan dan dibuat menjadi buku yang bertajuk Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas.
DIAN WAHYU PRATAMA, Surabaya
PADA 2018, Nanang mulai turun langsung mengamati dari dekat Sungai Kalimas. Susur sungai itu dimulai dari Pintu Air Ngagel. Bangunan peninggalan Belanda tersebut menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS).
Dari Pintu Air Ngagel, Pria 56 tahun itu perlahan bergerak ke utara hingga Pelabuhan Rakyat Kalimas. Selama kurun waktu lima tahun terakhir, Nanang hampir setiap hari bolak-balik dari rumah ke tepi Sungai Kalimas. Selain mengamati, dia juga berdiskusi dengan tokoh masyarakat.
Total jarak tempuh pengamatan itu sejauh 10 kilometer. Ada 73 titik yang diamati. Meski sempat diterpa cuaca buruk hingga minimnya informasi yang didapat di beberapa lokasi, Nanang tidak menyerah.
’’Ya, dibawa enjoy saja. Kalau capek, istirahat sebentar sambil nyeruput es cao,” tuturnya saat ditemui Selasa (9/5).
Sebagai pijakan observasinya, Nanang melakukan kajian literasi. Beberapa sumber seperti Oud Soerabaia, Nieuwe Soerabaia, Er Werd Een Stad Geboren, hingga Soerabaja menjadi bahan rujukannya.
’’Temuan beberapa sumber literatur, hasil pengamatan di lapangan, hingga prasasti dikorelasikan. Itu menjadi sumber tulisan dalam buku saya,’’ ujarnya.
Dari riset hingga susur sungai selama bertahun-tahun itu, Nanang mampu menghasilkan karya tulis yang berisi 10 bab dengan tebal 200 halaman. Judulnya Meneropong Sejarah Surabaya dari Sungai Kalimas.
Lewat judul itu, dia ingin membawa pembaca mengetahui cerita sejarah setiap tempat yang ada di sekitar Sungai Kalimas. ’’Ini tidak banyak orang tahu,” tambahnya.
Menurut Nanang, tambahan informasi sejarah dari buku itu sangat dibutuhkan oleh warga. Utamanya penggiat sejarah.
’’Sehingga warga tidak sekadar berwisata naik perahu keliling Kalimas. Mereka juga mengetahui nilai sejarahnya. Khususnya bagi generasi muda,” jelasnya.
Pada buku keempatnya itu, Nanang ingin mengajak para pembaca mengetahui sejarah tempat di sekitar Sungai Kalimas secara runtut. Sebab, antara satu spot dan yang lain memiliki keterkaitan cerita sejarah. ’’Paling banyak titiknya di wilayah Surabaya Utara,” tambahnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
