
SAMBIL BARBECUE: Perayaan Idul Fitri di sebuah taman di Tokyo tahun lalu yang diikuti Amelia Muriza bersama keluarga.
Adanya komunitas muslim tak jauh dari tempat tinggalnya bersama keluarga jadi obat kangen Amelia Muriza terhadap kampung halaman. Ada masak-masaknya, ada unjung-unjungnya.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
SEJAK merantau ke Tokyo, Jepang, pada 2019, Amelia Muriza belum pernah kembali lagi ke kampung halaman. Selama empat tahun pula, dia merayakan Lebaran bareng keluarga kecilnya di Negeri Matahari Terbit tersebut.
”Keluarga yang datang berkunjung ke Jepang, jadi nggak mudik. Saat pandemi malah tidak bisa mudik,” tutur perempuan asal Aceh itu kepada Jawa Pos lewat telepon sekitar sepekan sebelum Lebaran.
Momen Idul Fitri tahun lalu cukup mengobati kerinduan Amel sekeluarga. Tak jauh dari rumah mereka, terdapat komunitas muslim Indonesia. Begitu selesai menunaikan salat Idul Fitri, semua berkumpul di rumah salah seorang anggota komunitas.
”Anggota komunitas ini cukup ramai, jadi kerasa seperti di Indonesia. Setelah salat Id, kita juga unjung-unjung (bersilaturahmi, Red) dan makan-makan,” ungkap ibu empat anak itu.
Bedanya, lanjut Amel, tidak ada dekorasi atau musik bertema Lebaran di jalan-jalan dan tempat umum. Saat pandemi lebih sepi lagi. Amel hanya merayakan Lebaran di rumah dengan keluarga kecilnya. Kegiatan komunitas pun ditiadakan.
”Dua anak saya pernah Lebaran di Indonesia. Mereka nggak ada masalah dengan Lebaran di Jepang. Karena juga menyenangkan bertemu teman-teman sesama muslim saat kami berkumpul dengan komunitas tahun lalu,” imbuhnya.
Malam sebelum Lebaran, mereka berkumpul untuk masak makanan Indonesia. Ada lontong, opor, dan rawon yang siap disantap bersama di hari raya.
”Nggak kalah meriah kalau sudah kumpul bareng. Di rumah, saya masak sedikit saja karena libur Lebaran cuma sehari, besoknya aktivitas seperti biasa,” ujar dokter gigi itu.
Meski demikian, tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya masakan khas Lebaran di kampung halaman. Salah satunya lontong Aceh yang menunya lengkap. Mulai rendang, telur balado, tauco, hingga sambal goreng hati.
”Saya perpaduan keturunan Aceh Utara dan Aceh Besar. Jadi, saya suka kangen masakan gulai bebek masak ’putih’ Aceh Utara dan gulai sie reuboh-nya Aceh Besar,” ungkapnya.
Keliling rumah tetangga untuk saling sapa dan mencicipi kue kering meninggalkan kesan tersendiri baginya. Sebab, hal itu tidak mungkin bisa dia lakukan lagi di Jepang.
”Kalau di Indonesia juga biasanya ada yang datang ke rumah, terus kita beri hidangan dan angpao buat anak-anak. Karena tetangga kami semua orang Jepang, jadi hal itu tidak terjadi,” kenangnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
