
BANGGA: Yuli Sutoto Nugroho berpose di depan salah satu monumen legendaris, Big Ben, London, saat menjalani studi S-3 di Queen Mary University of London.
Yuli Sutoto Nugroho, dosen PNS di Universitas Negeri Surabaya, tak berasal dari kalangan yang berada. Dia sempat putus sekolah dan bekerja serabutan hingga jadi cleaning service. Kini dia juga sudah jadi content creator yang menginspirasi dengan kisahnya berkuliah di London.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
TAK pernah terbayang di benak Yuli kecil bahwa dirinya bakal menjalani masa dewasanya di Benua Eropa. Di masa itu, dia hanya ingin menjalani sekolah yang bisa dibiayai orang tuanya. Tak ada cita-cita besar. ”Kebayang lulus SMA saja enggak. Orang tua saya sendiri hanya lulusan SD,” tuturnya.
Saat menjalani SMA di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dia pernah putus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak mendukung. ”Dari orang tua juga alot, saya diminta bekerja saja. Padahal, saya suka banget sekolah,” ujarnya.
Beruntung, guru bimbingan konseling sekolah memanggil Yuli dan orang tuanya untuk menawarkan beasiswa. ”Katanya, prestasi saya bagus. Jadi, diberikan biaya untuk menjalani kelas XI dan XII,” sambungnya.
Dia menjadi orang pertama yang lulus SMA di keluarganya saat itu. ”Sekarang saya juga mulai dorong adikku yang paling kecil untuk kuliah.
Biar lebih peduli juga sama pendidikan,” ucap anak kedua di antara empat bersaudara itu.
Setelah lulus SMA, Yuli sudah pesimistis untuk berkuliah. Dia merantau ke Tangerang untuk mencari pekerjaan. Mulanya, dia bertugas sebagai cleaning service di sebuah studio foto. ”Lama-lama bos saya mulai ngajarin cara foto pelanggan, cara edit foto, macam-macam,” tuturnya.
Setelah empat tahun bertahan, Yuli mulai mencari pekerjaan di pabrik. Dia ingat betul pekerjaan yang mengubah hidupnya itu. Sang bos yang melihat prestasi SMA milik Yuli melihat potensinya. Dia menawarkan untuk menyekolahkan Yuli hingga sarjana.
”Apalagi saat ditanya motivasi kerjanya apa, saya jawab ingin kuliah,” kenangnya.
Dia kemudian menuntaskan sarjana di Universitas Negeri Jakarta. Jalan Yuli meraih pendidikan bisa dibilang tanpa rencana matang, apalagi muluk-muluk.
Ada saja jalan dan kesempatan di depan mata yang membuat Yuli bisa sampai di titik ini. Begitu juga saat mendaftar S-2. ”Saat itu dikasih tahu senior tentang LPDP, masih beasiswa baru yang belum se-booming sekarang tuh,” ucap Yuli.
Dia mencoba seleksinya dan dinyatakan lolos. Yuli menuntaskan S-2 di almamater yang sama.
Belum genap sebulan lulus S-2 pada September 2018, Yuli mulai menjalani rangkaian tes CPNS sebagai dosen di Unesa. Tahun 2019, dia mulai aktif mengajar sebagai dosen fakultas teknik. Dia mulai berjuang mati-matian. Dua kali bahasa Inggris IELTS gagal.
Meski agak nyesek, dia kemudian mendaftar program peningkatan kemampuan bahasa Inggris (PKBI) dari Kemendikbudristek.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
