
HARU: Trena (kiri) dan Treni berpelukan di mobil setibanya Treni di Tasikmalaya Kamis (22/10). (DENDEN AHDANI/RADAR TASIKMALAYA TV)
Bagi Trena, Treni adalah saudara kembar yang selama ini cuma dia dengar ceritanya dari sang bapak. Bagi Treni, Trena adalah saudara kembar yang sampai pekan lalu tidak dia ketahui sama sekali.
FIRGIAWAN, Tasikmalaya, M. SUBCHAN A., Blitar, Jawa Pos
---
UNTUK lebih dari dua puluh tahun keterpisahan. Untuk lebih dari dua dekade ketidaktahuan.
Untuk lebih dari dua dasawarsa pencarian tanpa hasil.
Untuk semuanya itu, siapa yang sanggup menahan haru? Bapak dan anak itu pun berpelukan erat dengan air mata deras mengalir. Rindu, kelegaan, dan kegembiraan melebur pada pagi buta yang dingin di Stasiun Kereta Api Tasikmalaya kemarin (22/10) itu.
Itulah pertemuan pertama Enceng Dedi, sang ayah, dengan Elis Treni Mustika, putrinya, setelah terpisah sejak 2005. ’’Saya tidak tahan karena terharu dan menangis tidak henti,’’ ujar Treni sebagaimana dilansir Radar Tasikmalaya.
Tangis itu kembali pecah saat Treni masuk ke mobil yang digunakan untuk menjemputnya. Di sana, saudara kembarnya, Eeus Trena Mustika, telah menunggu. Padahal, Trena dalam perbincangan sebelumnya secara jarak jauh bilang akan menunggu di rumah.
Dua perempuan berusia 24 tahun tersebut berpelukan lama sekali. Bagi Trena, inilah saudara kembar yang selama ini diceritakan bapak dan saudara-saudaranya. Bagi Treni, inilah saudara kembar yang sampai dua pekan lalu tidak dia ketahui sama sekali.
Cinderella story itu bermula ketika mereka terpisah setelah lahir di Maluku 24 tahun lalu. Karena ada persoalan tertentu, mereka berdua dipisahkan.
Trena diasuh keluarga kandung di Tasikmalaya, sedangkan Treni diasuh keluarga transmigran dari Pulau Jawa. Kerusuhan di Ambon kala itu membuat keduanya terpisah jauh. Treni tiba di Jawa lebih awal, dibawa ke kampung halaman ibu asuhnya di Blitar, Jawa Timur, pada 1996.
Trena beserta orang tua kandungnya kembali ke Tasikmalaya sekitar 1999. Sejak saat itu, komunikasi dua keluarga tersebut terputus.
’’Pada 1996, saat tiba kembali di Jawa, handphone belum seperti sekarang, saya kehilangan kontak dengan Pak Enceng,’’ kata Rini, ibu yang merawat Treni sejak masih bayi.
Enceng juga sudah pasrah. Berbagai upaya telah dia lakukan bersama keluarga sekembalinya ke Tasikmalaya untuk menemukan Treni.
’’Saya alhamdulillah bisa berkumpul dan bahagia sekali,’’ ucap ayah sembilan anak (termasuk si kembar Trena-Treni) itu.
Dalam percakapan dengan Jawa Pos Radar Blitar sebelum keberangkatan ke Tasikmalaya, Treni mengaku selama ini yang dia tahu Rini-lah ibu kandungnya. Rini, kata Treni, merawatnya penuh kasih.
Rini menamainya Treni Fitriyana. Dia juga memilih untuk menyimpan rapat rahasia masa lalu sang putri. Treni meyakini itu dilakukan demi kebaikannya.
’’Ibu asuh yang selama ini merawat saya sudah saya anggap ibu kandung. Saya tidak ingin melukai perasaannya. Saya tahu perasaan ibu,’’ terang Treni yang sudah bersuami Miftahul Huda dan telah dikaruniai dua anak.
Sampai akhirnya, TikTok mempertemukan mereka. Awalnya, Treni yang berbisnis secara daring memang mengakrabi semua platform media sosial.
Dari unggahan videonya, tetangga Trena di Tasikmalaya mengira video tersebut videonya. Sebab, wajahnya sangat mirip.
Trena yang tak akrab dengan media sosial pun mengaku bingung ketika banyak teman dan tetangga yang menunjukkan video wanita yang mirip dengannya. Tapi, setelah menyimak videonya dengan saksama dan berulang-ulang, dia semakin yakin wanita dalam video itu adalah saudara kembarnya. Apalagi, namanya Treni, nama yang sama yang selama ini dicari olehnya dan keluarga.
Photo
Trena dan Treni berziara di ke makam ibu kandung mereka. (DENDEN AHDANI/RADAR TASIKMALAYA TV)
Tapi, bukan Trena yang pertama mengontak Treni di Blitar. Melainkan saudara mereka yang lain. Treni sempat tak menggubris upaya pendekatan itu. Dia khawatir itu upaya untuk menipu saja. Apalagi, sang ibu selama ini tak pernah cerita apa pun.
’’Tetapi, setelah saya berkomunikasi dengannya (Trena) lewat video call, baru percaya. Cara berkudung, cara bicaranya, dan wajahnya mirip banget sama saya,’’ ungkap Treni yang selama ini tinggal di Dusun Ringinanom, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.
Dan, insting sebagai saudara kembar tersebut pun sudah terpampang pada kemarin pagi itu. Kerudung mereka sama-sama hijau. ’’Padahal, kami tidak janjian,’’ kata Trena.
Mereka juga punya kesamaan hobi dan kebiasaan. Bahkan tensi darah pun sama, di kisaran 80–90. ’’Sifat egois dan suka nyanyi juga sama, hobi makan bakso juga sama,’’ seloroh Trena yang disambut gelak Treni setelah keduanya puas berpelukan dan bertangisan di dalam mobil.
Baca juga:
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022