
TOKOH INSPIRATIF: Prof Dr Nurhasan MKes di ruangan rektor Unesa. Nurhasan terpilih sebagai pemimpin universitas di periode kedua. (Unesa untuk JawaPos.com)
Setelah unggul dalam perolehan suara pemilihan rektor Unesa pertengahan Juni lalu, Prof Dr Nurhasan MKes resmi dilantik Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim di Jakarta Kamis (30/6) lalu. Sebelum menjadi rektor untuk kali kedua, Nurhasan melalui perjalanan hidup yang tidak mudah.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
”CITA-cita saya dulu sarjana saja, terus jadi guru SD,” tutur Nurhasan dengan senyum lebar. Boro-boro berpikiran menjadi rektor di salah satu PTN, ingin lulus sarjana saja sudah banyak rintangannya. Cak Hasan, begitu dia ingin disapa, lahir di keluarga yang tak mampu. Sejak SD, dia mengalami kesulitan membayar sekolah. Hasan terpaksa pindah dari sekolah negeri ke swasta karena tak bisa membayar SPP.
Pada jenjang SMP, dia mencoba peruntungan untuk bersekolah di Surabaya. Upayanya juga gagal. ”Akhirnya diterima di SMP di Bangil, Pasuruan,” kenangnya.
Dia tetap berusaha memaksimalkan kesempatannya dengan cita-cita bisa diterima di SMA negeri. Namun, dia gagal lagi karena telat mendaftar.
”Akhirnya saya melanjutkan di Sekolah Guru Olahraga (SGO),” imbuhnya. Karena ketekunannya, Hasan bisa melalui SGO tanpa membayar SPP. Dia berhasil meraih beasiswa dari kelas I hingga lulus.
Hal itu tak serta-merta membuat Hasan optimistis di jenjang selanjutnya. Dia ingin sekali menjadi sarjana, tapi apa mungkin? Biaya masih menjadi alasan yang memberatkan. Dia memilih D-2 karena pendidikan lebih singkat sehingga biaya lebih ringan. ”Pokoknya usaha supaya nilainya bagus. Alhamdulillah, bisa dapat nilai bagus dan kemudahan transfer ke D-3,” ujarnya.
Sambil menjalani kuliah, Hasan bekerja untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Hasan pernah diangkat menjadi pegawai ikatan dinas di salah satu SMP negeri di Pasuruan. ”Terus saya berunding sama kepala sekolahnya, izin mau mengajar sambil kuliah,” tutur Hasan. Tiga hari untuk mengajar, tiga hari untuk kuliah.
Permintaannya itu ditolak. Hasan diminta fokus mengajar sepenuhnya di sekolah. Dengan berat hati, Hasan memilih untuk mengembalikan SK pengangkatannya. Yang dipikirkan Hasan hanya mau menjadi sarjana. ”Orang tua tanya, kok pegawai negeri dilepas? Apalagi PNS kan idaman, kebanggaan orang tua masa itu ya,” imbuh pria kelahiran 29 April 1963 itu.
Dia terpaksa berbohong dengan mengaku bahwa dirinya hanya cuti untuk berkuliah lagi atas permintaan rektor.
Usahanya memang membuahkan hasil. Nilai-nilai yang dicetak Hasan memudahkan dia untuk melanjutkan S-1 bidang keolahragaan di IKIP Surabaya (sekarang Unesa). Di sela-sela kuliah, dia juga tetap bekerja walau tak sesuai dengan bidang yang dia kuasai. ”Karena enggak jadi guru, akhirnya pernah jadi kernet dan sopir angkot,” ucap Hasan, kemudian terkekeh. Demi kuliah, apa pun dilakoni. Buat apa malu? Usahanya halal dan bisa mengantarnya sampai ke titik ini.
Hasan juga pernah berjualan makanan ringan dan minuman di Terminal Bungurasih. ”Jadi, teman-teman saya yang banyak kalau di terminal,” tambahnya.
Kalau dikenang, Hasan mengakui perjalanannya memang berat. Namun, fokus utama untuk kuliah sampai sarjana selalu menjadi motivasi. ”Pilihan apa pun yang kita ambil, ya harus tanggung jawab. Tidak usah mengeluh,” tutur Hasan Rabu (6/7). Hasan menambahkan, prinsip hidup yang kuat itu dibangun dengan menjalankan pekerjaan sebaik-baiknya. Tak perlu mengharapkan imbalan atau balasan. Cukup fokus dengan menunjukkan bukti dan hasil kerja nyata.
Perjalanan pribadinya mendorong Hasan untuk mewujudkan pendidikan yang lebih mudah diakses. ”Dulu prestasi itu melekatnya sama nilai rapor yang bagus. Bidang nonakademik kurang dapat tempat,” tuturnya. Dampaknya, peluang bersekolah atau kuliah gratis lewat nonakademik juga kecil. Padahal, bisa jadi yang bernilai biasa punya kemampuan luar biasa di bidang tersebut.
Dalam penerimaan mahasiswa baru, Hasan dan jajarannya sengaja merancang jalur prestasi di banyak bidang. Jadi, lebih banyak mahasiswa bertalenta yang bisa mengenyam pendidikan sehingga dapat mengubah hidup mereka.
Dia ingin sekali mahasiswa saat ini punya kemampuan di bidangnya. Bukan hanya secara teori, melainkan juga hard skill dan soft skill. Dia berharap hasilnya bisa dituai sejak mahasiswa, tanpa harus menunggu lulus dulu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
