
OLAH TALENTA: Trista Mufidah Aruji mengenakan kostum penari remo. Bakar menari menjadikannya dipercaya sebagai pengajar. (Trista untuk Jawa Pos)
Mau bertanya apa pun soal tari, Trista Mufidah Aruji jagonya. Sejak usia 4 tahun, dia mengenal dunia tari. Seni tari seolah mendarah daging di tubuh pelajar tersebut.
DIMAS NUR APRIYANTO, SURABAYA
KALI pertama mengetahui dan mendengar musik tari cer-cer, hatinya langsung bertaut. Ketika itu, usia Trista baru genap 6 tahun. Jari jemarinya seolah tak bisa berhenti digerakkan mengikuti alunan musik tari khas Jawa Timur tersebut.
Dunia seni tari dikenal sebelum Trista belajar cer-cer. Saat itu Trista kecil yang usianya 4 tahun baru masuk TK Islam Sabilillah Kebraon Indah Permai. Dia mengamati seniornya melenggak-lenggokkan badan hingga jari jemari. Alunan musik membuat kepalanya ikut terangguk-angguk.
Waktu terus berjalan. Trista tak lagi tercatat sebagai murid TK. Dia masuk ke sekolah dasar. Cintanya pada seni tari tak luntur.
Justru semakin menggelora.
Perlombaan seni tari kali pertama diikuti saat usianya 7 tahun di Pustekkom Fair 2015 di BPMTV Dikbud Jatim pada 1 Desember 2015. Debutnya yang melantai di panggung kompetisi itu ternyata mendulang gemuruh tepuk tangan. Trista dinyatakan sebagai penyaji terbaik dengan tari jumpritan. Semangatnya untuk mengikuti kompetisi tari terus mendidih.
Trista tidak pernah absen untuk mengasah kemampuannya dengan mengikuti kompetisi tari. Ada dua momen yang tak terlupakan anak bungsu tiga bersaudara itu. Pertama, saat dia mengikuti lomba dalam rangka HUT Ke-9 Rumah Pintar Juanda pada 2019. Namanya kembali keluar sebagai juara.
Trista seperti enggan disebut jago kandang. Dia melangkahkan kaki ke kompetisi tari level nasional. Dia berharap namanya bisa harum. ’’Jadi momen berkesan kedua yang tak terlupakan, pertama ikut lomba nasional langsung juara II yang diadakan Universitas Negeri Semarang (Unnes),” kenangnya.
Tahun lalu banyak kejutan menghampiri remaja yang berulang tahun tiap 1 Agustus itu. Mulai pemberian peran baru sebagai guru tari termuda di sanggar hingga masuk ke dalam daftar peserta audisi seni tari tahap 2 jenjang SMP. Lolos audisi yang dihelat Dinas Pendidikan Surabaya itu menjadi pengalaman perdana bagi SMP Negeri 16 Surabaya. Trista tak menyangka bahwa dirinya bisa masuk dalam barisan pemenang audisi.
Begitu Trista mendengar bahwa dirinya diberi kepercayaan sebagai guru tari, rasa bahagia menyeruak. Dia mengajarkan tari sekali dalam sepekan. Usia peserta tarinya berkisar 12‒14 tahun. Mulai kelas VI SD sampai VIII SMP. Lebih kurang 10 anak. ’’Harus sabar jadi guru tari. Ada yang diajari sampai berkali-kali juga belum bisa,” ungkapnya, lalu tertawa.
Saat ditanya, pada masa akan datang apakah impiannya menjadi praktisi tari? Trista justru menggeleng. Dengan suara lirih dan agak malu-malu di samping Andi Aruji, ayah Trista, dia menyampaikan ingin menjadi guru sejarah. ’’Itu impian saat ini,” imbuhnya.
Apalagi, lanjut dia, bicara sejarah Korea atau Majapahit. Trista bakal rela bibirnya berbusa ngobrol soal sejarah Korea-Majapahit. Sama seperti hatinya yang jatuh cinta pada tari. Dia tak masalah harus berlatih berjam-jam. Atau, leher pegal, misalnya.
Andi menyerahkan semua keputusan di tangan buah hatinya. Dia tidak pernah mengintervensi apa pun yang diinginkan anak-anaknya. Tidak terkecuali urusan mimpi. ’’Mau jadi guru tari atau guru sejarah monggo saja,” katanya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
