Bagi Dubes Australia Penny Williams PSM, Bertugas di Indonesia seperti Pulang Kampung
Jalan-jalan ke Blok M, makan bakso, dan belajar bahasa gaul adalah sebagian dari hari-hari menyenangkan Penny Williams semasa remaja saat mengikuti pertukaran pelajar di Indonesia. ’’Pengalaman di sini semasa remaja dan latar belakang pendidikan sangat membantu dalam tugas saya sebagai duta besar,” katanya.
AGAS PUTRA HARTANTO, Jakarta
---
PENNY Williams PSM masih ingat betul hari-hari itu. SMA, Pasar Baru, Blok M, dan bahasa gaul.
Hari-hari yang dihabiskannya sebagai siswa pertukaran pelajar American Field Service (AFS) Intercultural Programs. Di usia 16 tahun ketika itu, siswa asal Tasmania, Australia, tersebut tinggal bersama salah satu keluarga Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta, selama setahun.
Williams mengaku sangat menikmati hari-hari pada 1980 itu. Bersekolah di Jakarta. Memiliki kelompok pertemanan yang hebat semasa duduk di bangku SMA. Dan, sepulang sekolah biasa pergi ke Blok M untuk jalan-jalan dan membeli stiker. Atau ke Pasar Baru buat makan bakso.
Dia juga diajari bahasa gaul oleh teman-temannya. ’’Saya benar-benar merasa menjalani kehidupan sebagai remaja Indonesia. Sekaligus membantu saya beradaptasi,” katanya.
Jadi, ketika pada 1 September tahun lalu ditunjuk sebagai duta besar negaranya di Jakarta, baginya itu tak ubahnya pulang kampung. Seperti mimpi yang menjadi nyata. ”Pengalaman di sini semasa remaja dan latar belakang pendidikan saya sangat membantu dalam tugas saya sebagai duta besar,” kata Williams yang kini berusia 58 tahun kepada Jawa Pos dalam wawancara melalui surat elektronik.
Agendanya pun begitu padat setelah resmi bertugas. Tepat sebelum tahun baru 2022, misalnya, dia baru balik dari Surabaya, Jawa Timur (Jatim). Di sana, dia bertemu dengan sejumlah pemangku kepentingan.
Misalnya, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakapolda Jatim Brigadir Jenderal Polisi Slamet Hadi Supraptoyo, dan sejumlah pebisnis. Termasuk, mengunjungi tiga pabrik yang dijalankan oleh perusahaan Australia.
Sebelumnya, setelah menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, dia juga bertemu dengan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, serta mengunjungi Konsulat Jenderal Australia di Denpasar, Surabaya, dan Makassar.
”Selama perjalanan ini, saya bertemu dengan mitra pemerintah daerah, pemimpin bisnis penting, beberapa perempuan pengusaha, serta alumni universitas Australia yang menginspirasi dan berpengaruh untuk membahas pentingnya hubungan Australia-Indonesia. Menjajaki peluang untuk memperkuat hubungan kita,” katanya.
Menurut dia, Indonesia merupakan negara sahabat dan mitra penting bagi Australia. Bekerja sama di begitu banyak bidang. Mulai ekonomi, pendidikan, politik, keamanan, lingkungan, hingga kemanusiaan.
Empat dekade lebih sejak dia setahun tinggal di sini, tentu banyak sekali hal yang berubah. Dia teringat pada 1980 itu beratnya melampiaskan kerinduan kepada keluarga di Tasmania. Internet belum ada. Biaya panggilan lewat telepon internasional juga mahal.
”Dari pengalaman itu, saya memilih pindah ke Canberra dari Tasmania untuk belajar bahasa Indonesia di Australian National University (ANU) sebelum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Australia,” ungkapnya.
Dalam kapasitas sebagai Dubes, perempuan 58 tahun itu pun ingin membangkitkan kembali kerja sama Australia-Indonesia. Terutama setelah dua negeri jiran tersebut mengalami tantangan akibat pandemi Covid-19.
Komitmen tersebut sekaligus untuk menindaklanjuti kunjungan para menteri Australia ke Indonesia dan bertemu dengan mitra-mitra mereka. Yakni, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne yang telah berkunjung dua kali ke Indonesia, Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton, dan Menteri Dalam Negeri Karen Andrews.
Williams menjelaskan, Australia maupun Indonesia berkomitmen pada pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia atau Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership (IA-CEPA) didesain untuk menghilangkan hambatan perdagangan dan investasi antardua negara. Harapannya, hubungan bisnis kedua negara semakin kuat.
Sebab, ada banyak ruang bagi keduanya untuk meningkatkan perdagangan dan investasi. ”Saya bertekad untuk meningkatkan hubungan ekonomi kita selama masa jabatan saya sebagai duta besar,” ungkapnya.
Di periode-periode sebelumnya, Australia dan Indonesia telah berhasil membangun hubungan bilateral melalui program seperti New Colombo Plan, Australia Awards Scholarships. Juga, kesempatan belajar bersama seperti Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia. Meski, saat ini sebagian besar program itu telah beralih ke platform online.
Ibu empat anak tersebut juga getol mempromosikan kesetaraan gender dan kesempatan yang setara bagi perempuan dan anak perempuan. Isu itu juga dianggap serius oleh para pemimpin di dunia.
Menteri Perempuan Australia Marise Payne dalam kunjungan tahun lalu bertemu dengan I Gusti Ayu Bintang Darmawati, menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia. Keduanya berkomitmen untuk membangun program kerja sama di bidang itu. Khususnya terkait tindak kekerasan.
Dari sisi ekonomi, Indonesia adalah tetangga terdekat dan mitra strategis utama Australia. IA-CEPA memberi kerangka bisnis yang kuat dengan menetapkan aturan untuk perdagangan dan investasi. Sehingga membantu menciptakan lapangan kerja lokal, menghasilkan produk berkualitas tinggi, dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi Indonesia. Mengingat, Indonesia memiliki landasan ekonomi yang mengesankan dan beragam.
”Saya beruntung bisa menyaksikan secara langsung beberapa pekerjaan besar yang dilakukan perusahaan Australia di Indonesia,” ucapnya.
Di sektor pariwisata, warga Australia juga terbilang sangat banyak mengunjungi Indonesia. Khususnya ke Bali. Bahkan, ada yang memutuskan tinggal. Namun, sejak persebaran SARS-CoV-2 merebak, kedua negara menghadapi kesulitan di sektor tersebut.
Saat ini Australia dan Indonesia memiliki beberapa pembatasan perjalanan internasional. Meski begitu, kedua negara ingin merevisinya tahun ini. ”Saya akan senang melihat bahwa Australia terbuka untuk pelajar internasional, visa kerja, dan kategori visa khusus lainnya,” katanya.
Di luar tugasnya sebagai Dubes, hubungan dengan keluarga di Menteng, Jakarta, yang dulu ditempatinya selama mengikuti program AFS tetap terjalin baik. ”Saya masih tergabung dalam grup WhatsApp (WA) keluarga,” ungkapnya.