Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Oktober 2018 | 21.59 WIB

Cerita di Balik Panggung Festival Gandrung Sewu Banyuwangi

MENUNGGU JEMPUTAN: Para penari fragmen awal Festival Gandrung Sewu bersantai di koridor SDN Kepatihan Banyuwangi, Sabtu (20/10). - Image

MENUNGGU JEMPUTAN: Para penari fragmen awal Festival Gandrung Sewu bersantai di koridor SDN Kepatihan Banyuwangi, Sabtu (20/10).


Tidak mudah menjadi penari Festival Gandrung Sewu. Dibutuhkan kerja keras dan usaha ekstra. Mereka harus melalui proses seleksi dan latihan yang ketat.


RESVIA AFRILENE, Banyuwangi


---


SUASANA SDN Kepatihan Banyuwangi hiruk pikuk Sabtu pagi (20/10). Ruang-ruang kelas bercat hijau terlihat penuh. Puluhan anak sedang dirias di dalamnya. Mereka sudah mengenakan busana penari gandrung. Lengkap dengan omprok dan mahkota gandrung yang ditenteng ke sana kemari penuh rasa bangga.


Sekolah di seberang Taman Blambangan itu menjadi lokasi persiapan akhir Festival Gandrung Sewu. Sebab, letaknya hanya sekitar 1 kilometer dari lokasi event di Pantai Boom.


Keribetan juga terasa di luar ruang kelas. Berjalan mengitari area sekolah bak dikelilingi panggung gandrung.


Halaman, koridor, sampai pendapa jadi tempat pemanasan ribuan penari.


"Baru pertama kali bisa ikut. Tahun lalu nggak lolos," ujar Zahra Bina Dina, penari yang tengah dirias. Dia terlihat bersemangat. Berkali-kali Dina membetulkan lipatan sewek alias jaritnya. Bocah 10 tahun tersebut adalah satu-satunya penari gandrung yang lolos seleksi ketat dari SDN 3 Tampo.


Bagi Dina, terpilih sebagai penari Festival Gandrung Sewu adalah prestasi besar. Maklum, proses seleksi memang ketat. Dari tiga ribu lebih pendaftar, hanya 1.173 orang yang berhak tampil di Pantai Boom Sabtu sore itu. "Sudah latihan lebih dari setahun. Lomba di Kecamatan Cluring menang, baru diajukan ikut seleksi," ucap Dina sambil tersipu malu.


Kegigihan Dina patut diacungi jempol. Pasalnya, tidak sedikit teman Dina yang menyerah saat latihan di hari-hari menjelang seleksi. "Latihannya itu sampai malam. Tapi, nilai sekolah harus tetap bagus, jadi teman-teman capek," ungkapnya.


Semangat Dina mengalir dari ayahnya, Budiono, yang terus mendukungnya. Pria paro baya itu terus menemani Dina. Dia terlihat sama bahagia dengan Dina. "Senang sekali akhirnya lolos," ungkap Budiono semringah. "Deg-degan sekali waktu dinilai langsung sama tim produksi yang sudah berpengalaman," imbuhnya.


Dina sebenarnya sempat goyah. Dia tak percaya diri bakal lolos. Namun, Budiono senantiasa memotivasi putri semata wayangnya itu. Bahwa gandrung sejatinya bercerita soal perjuangan. "Gandrung itu sejarahnya telik sandi. Kalau gampang menyerah, ya jangan harap jadi gandrung sejati," tutur Budiono.


Bukan hanya Dina yang punya kisah sulitnya menaklukkan seleksi Gandrung Sewu. Indi Julia Ridhayul Khasanah punya pengalaman serupa. Gadis 16 tahun itu bahkan berkali-kali terserang demam selama proses menuju perhelatan akbar tersebut. "Saya nggak mau absen. Ini tahun terakhir," ucapnya tegas saat diwawancarai Jawa Pos selagi berswafoto dengan kawan-kawannya.


Menurut Indi, tari gandrung sudah menjadi identitasnya. Saat SD pada 2012, Indi terpilih dalam Festival Gandrung Sewu. Itulah kali pertama festival yang kini masuk dalam seratus event pariwisata nasional tersebut dihelat. "Saya sudah ikut mulai Pak Sumitro (maestro karawitan sekaligus penggagas Festival Gandrung Sewu, Red) yang mengonsep. Jadi bagi saya sudah seperti ulang tahun, acara penting," ungkap dara yang kini duduk di bangku kelas XI SMAN 1 Banyuwangi itu.


Cerita baru dalam festival, gerakan anyar, sampai pergantian busana selalu dialaminya. Tiap tahun ada tantangan berbeda. Tapi, tahun ini berat. Indi nyaris tidak ikut berpartisipasi. "Bolak-balik demam sebelum seleksi, sampai 39 derajat Celsius," katanya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore