Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Mei 2021 | 09.48 WIB

Anggota Polres Gresik Aiptu Bambang, Sudah 25 Tahun Tidak Pernah Mudik

BERI KABAR: Aiptu Bambang Suratno menelepon orang tuanya di Sulawesi Tenggara untuk mengabarkan tidak bisa mudik karena menjalankan tugas. (Ludry Prayoga/Jawa Pos) - Image

BERI KABAR: Aiptu Bambang Suratno menelepon orang tuanya di Sulawesi Tenggara untuk mengabarkan tidak bisa mudik karena menjalankan tugas. (Ludry Prayoga/Jawa Pos)

Banyak aparat karena tugas dan pelayanan, tidak ada kesempatan mudik selama bertahun-tahun. Salah seorang di antaranya adalah Aiptu Bambang Suratno. Anggota Polres Gresik itu sudah 25 tahun tidak mudik ke kampung asalnya. Desa Langgea, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Tapi, tidak berarti terputus dengan orang tua dan sanak keluarga.

LUDRY PRAYOGA, Gresik

BAMBANG baru sampai Asrama Polisi (Aspol) Gresik. Di situlah, polisi berusia 56 tahun itu tinggal. Wajahnya terlihat tetap penuh semangat. Dia baru melaksanakan piket pengamanan penjagaan larangan mudik di Mapolsek Sidayu. Bambang lalu mengeluarkan handphone (HP).

’’Halo Mamak, bagaimana kabar? Ini ada sedikit rezeki THR dari komandan, aku kirim ya,’’ katanya kepada seorang perempuan di ujung telepon itu. Mamak yang dimaksud ternyata sang ibu. Bambang biasa memanggilnya Mamak Tua.

Di depan layar kamera, senyum Bambang tampak terus mengembang. Tidak lama, dia melambaikan tangan. ’’Jangan lupa jaga kondisi kesehatan, Mak. Doakan anakmu di tanah rantau ya,’’ ungkapnya.

Bambang bertugas di Gresik sejak 1996. Sejak itu, bapak tiga anak tersebut tidak pernah menikmati momen Hari Raya Idul Fitri di kampung halaman. ’’Ya banyak pertimbangannya. Untungnya, keluarga besar paham bahwa anggota polisi wajib untuk melayani masyarakat,’’ paparnya.

Larangan mudik pun tidak membuatnya gundah. Setidaknya, alumnus Bintara Polda Sulawesi Tenggara 1986 itu melakukannya sejak 25 tahun terakhir. ’’Banyak cara melepas rindu, apalagi teknologi sekarang sangat membantu untuk menyambung silaturahmi,’’ katanya.

Dia pun bercerita, dulu kondisi kampung halamannya sangat jauh dari kata modern. Akses dari pusat kota menuju desanya membutuhkan waktu tiga jam lebih. ’’Dulu untuk memberi kabar, berkirim surat. Jika beruntung, bisa dengar suara Mamak lewat sambungan telepon dari wartel (warung telepon),’’ ungkapnya.

Risiko sebagai aparat pelayan masyarakat, mudik Lebaran merupakan momen yang jarang didapat anggota. Meski demikian, Bambang bersyukur bisa menjadi bagian dari warga Gresik. Dia mengaku belajar banyak dari orang-orang Kota Santri. ’’Semangat kerjanya, keramahannya, dan guyub rukun,’’ ungkapnya.

Karena itu, dia optimistis masyarakat bisa mematuhi larangan mudik pemerintah. Terutama warga Gresik. Dengan demikian, persebaran pandemi Covid-19 dapat ditekan dan bisa segera berakhir. ’’Tentu kita semua berharap bisa segera normal dan menikmati suasana Lebaran seperti sediakala,’’ harapnya.

Baca Juga: Mudik Lokal Dilarang, Pemkot Surabaya Perketat Perbatasan

Pengabdian Bambang di Korps Bhayangkara setidaknya tinggal dua tahun lagi. Berjibun pengalaman selama di Gresik tentu tidak akan terlupakan. Dia ingin pengalaman dan pengetahuan itu menjadi modal berharga saat pensiun. ’’Saya ingin menjadi petani atau petambak di kampung, mudah-mudahan berhasil. Juga untuk merawat orang tua,’’ katanya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore