
PUNYA CIRI KHAS: Gus Miftah menyesuaikan dengan pergerakan zaman dalam berdakwah. (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)
Photo
MEMANFAATKAN INTERNET: Setahun terakhir Habib Husein Jafar al Hadar melakukan pengajian secara virtual. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Habib Husein Jafar al Hadar yang dikenal di dunia maya sebagai ’’imam pemuda tersesat” juga sudah setahun terakhir melakukan pengajian secara virtual. Tepatnya dengan aplikasi telekonferensi Zoom. Antusiasme dan efektivitas pengajian Zoom, kata dia, tidak kalah dengan tatap muka. Bahkan, dalam beberapa hal justru lebih efektif karena beberapa keunggulan.
Misalnya, pengajian bisa diakses dari mana saja. Mereka yang memiliki aktivitas padat tetap bisa mengaji tanpa mengorbankan rutinitas mencari nafkah. Fleksibilitas semacam itu sangat dibutuhkan.
Dalam pengajian virtual, dia juga bisa menyampaikan slide materi-materi agama sehingga lebih mudah dipahami. Keunggulan lainnya, pengajian itu bisa direkam dan diputar berulang-ulang. ’’Dulu, awal-awal kurang efektif dan antusiasmenya kurang lantaran masih terkendala hal-hal teknis di masa-masa awal pandemi,” tuturnya.
Husein mengatakan, sejak awal dirinya menyampaikan gagasan bahwa di antara hikmah pandemi adalah edukasi dan kreativitas bagi kalangan moderat untuk masuk ke digital. Memanfaatkan internet dan medsos daripada menjauhinya. ”Karena kalangan ini masih cenderung konvensional dan tradisional dalam dakwahnya sehingga kurang merambah ranah digital,” katanya.
Sekitar dua tahun lalu, sudah ada inisiasi pengajian online. Namun, jumlahnya masih terbatas. ’’Di antara yang paling populer, pengajian online Gus Ulil Abshar Abdalla, mengaji Ihya Ulumuddin,” katanya.
Kala itu, menurut dia, ngaji online masih semacam mubah. Lalu, menjadi sunah. Orang mulai sadar, tapi belum banyak memasukinya. Kemudian, setelah ada pandemi, seolah hukumnya wajib karena dipaksa oleh keadaan. ”Dan sebenarnya saat ini misi moderasi agama hukumnya sudah wajib karena minimal satu dekade yang lalu kelompok-kelompok nonmoderat sudah membanjiri medsos dengan dakwah-dakwah mereka,” tuturnya.
Itu terlihat dari sepuluh website teratas dalam konteks keislaman kelompok moderat yang menurut riset hanya menyumbang sekitar tiga. ’’Itu pun dari kalangan NU yang beberapa tahun terakhir sangat getol mengembangkan dakwah digital,” katanya. Husein yakin, jika kaum moderat hadir, pasti akan mendapatkan sambutan yang bagus.
Photo
LEBIH FLEKSIBEL: Asrorum Ni'am Sholeh membatasi durasi ngaji virtual maksimal satu jam. (DOKUMENTASI PRIBADI)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Ni’am Sholeh juga menggeser kegiatan ceramahnya dari konvensional ke digital sejak pandemi melanda Indonesia. Semula, kegiatan pengajian di platform digital dilakukan untuk santri-santri Al-Nahdlah Islamic Boarding School yang dia pimpin. Sebab, para muridnya belajar dari rumah masing-masing. ’’Seiring dengan kemudahan akses, akhirnya banyak masyarakat nonsantri yang ikut bergabung dan menjadi jamaah tetap,’’ jelas Asrorun.
Ada sejumlah kitab yang dia ulas dalam pengajian virtualnya. Misalnya, kitab Nashaihul Ibad, Kifayatul Ahyar, dan Arba’in Nawawi. Asrorun mengatakan, kegiatan mengaji online itu dilakukan sekali dalam sepekan.
Rencananya, Ramadan ini kegiatan ngaji virtual melalui aplikasi Zoom dan sejenisnya dijalankan setiap hari. Durasinya maksimal satu jam.
Menurut Asrorun, dari sisi teknis, ceramah virtual dengan memanfaatkan teknologi digital lebih fleksibel. Dalam metode konvensional, kegiatan ceramah sering terbentur dengan aktivitas dinas karena harus ada kehadiran fisik. Misalnya jika ada tugas atau dinas luar atau sejenisnya. ’’Otomatis ngajinya prei (libur, Red),’’ kata mantan ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu.
Sebaliknya, dengan memanfaatkan media virtual, di mana pun dan kapan pun bisa menjalankan ceramah. Dengan begitu, bisa menjaga keistiqamahan atau keajekan pengajian. Peserta pengajian pun bisa semakin luas.
Interaksi dengan jamaah juga tidak menjadi masalah. Sebab, jamaah bisa menyampaikan pertanyaan untuk pendalaman melalui fitur chat atau langsung bertanya.
Asrorun menjelaskan sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam mengikuti kegiatan pengajian virtual. Menurut dia, media sosial atau dunia virtual merupakan free market of ideas. Selain itu, free market of religious knowledge. Siapa pun bisa menyampaikan ceramah keagamaan melalui virtual. Isinya bisa sangat beragam. Contohnya, ada yang moderat, ekstrem kanan atau konservatif, hingga ekstrem kiri atau liberal.
Asrorun menjelaskan, dengan karakteristik media virtual yang bebas untuk siapa pun, umat perlu membekali diri untuk bisa mengidentifikasi guru yang otoritatif di urusan keagamaan. Supaya tidak terjadi miss leading dalam belajar agama.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa’adi menuturkan, Kemenag sudah melakukan program penguatan kompetensi penceramah agama. ’’Total, sudah ada 8.200 penceramah,’’ katanya.
Baca juga: Nasihat Gus Miftah Khusus untuk Atta Halilintar di Hari Pernikahan
Penceramah peserta program penguatan kompetensi itu juga mendapatkan materi dakwah di media sosial. Mereka dibekali keterampilan untuk menyiapkan konten dakwah digital. Upaya itu sekaligus menjadi kontranarasi terhadap kelompok intoleran yang juga memanfaatkan media digital untuk menyebarkan pemahamannya.
Pada prinsipnya, Kemenag terus mengampanyekan moderasi beragama. Para penceramah yang menggunakan media konvensional maupun digital diharapkan ikut memberikan pemahaman keagamaan yang moderat.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=Rq41DRB11zQ

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
