Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 April 2021 | 18.51 WIB

Gaes, Hidup Itu Lebih dari Sekadar Sindrom Cinderella

GEMAR MEMBACA: Kevano Abimanyu (depan) dan Rafi Ayra Wisanggeni saat asyik membaca buku anak di Toko Buku Uranus Surabaya kemarin (3/4). (PUGUH SUJADMIKO/JAWA POS) - Image

GEMAR MEMBACA: Kevano Abimanyu (depan) dan Rafi Ayra Wisanggeni saat asyik membaca buku anak di Toko Buku Uranus Surabaya kemarin (3/4). (PUGUH SUJADMIKO/JAWA POS)

Buku Anak di Luar ”Pangeran Tampan”, ”Putri Jelita”, dan ”Pernikahan Megah”


Cerita-cerita anak dalam konteks hari ini seharusnya bisa mengajak para buyung dan upik mengenali dan memahami manusia dan segala permasalahannya.

---

Setiap anak selalu percaya tak ada cerita yang tak nyata. ”Mata di Tanah Melus”

BAGI Okky Madasari, menulis buku anak itu semacam upaya menerobos batas-batas. Menyeberangi mitos-mitos lama bahwa ceria untuk para upik dan buyung itu hanya sebatas ”pangeran tampan”, ”putri jelita”, atau ”pernikahan megah”.

”Bayangkan, kesadaran dan imajinasi macam apa yang akan dimiliki anak-anak kalau sejak kecil sudah dicekoki dengan fantasi soal pangeran tampan dan pernikahan megah? Cerita-cerita macam ini akan semakin melanggengkan dikotomi peran laki-laki dan perempuan,” jelas Okky, kandidat doktor dari National University of Singapore itu, ketika dihubungi Jawa Pos melalui WhatsApp.

Bukan berarti cerita-cerita klasik itu tak perlu dibaca. Tetap perlu untuk membuka kesadaran baru, dengan konteks hari ini. Dengan nilai dan norma yang berubah. Berangkat dari kesadaran tersebut, penulis kelahiran Magetan, Jawa Timur, itu pun menghadirkan karakter Mata yang dengan riang bermandi terik di Tanah Melus atau bergelut dengan rahasia di Pulau Gapi.

Menurut pengagum buku ”Matilda” karya Road Dahl itu, cerita-cerita untuk anak seharusnya bisa mengajak anak-anak untuk mulai mengenali dan memahami dunia alias manusia dan segala permasalahannya. Sehingga anak tak hanya sebatas berpikir tentang yang baik dan buruk saja, atau surga dan neraka saja.

KELUASAN TEMA: Okky Madasari tahun ini berencana meluncurkan novel keempatnya. (Okky Madasari for Jawa Pos)

KELUASAN TEMA: Clara Ng sudah 15 tahun melahirkan puluhan karya anak. (Clara Ng for Jawa Pos)

Cerita anak juga harus bisa memberi fondasi nilai kesetaraan, kemanusiaan, kejujuran, dan keadilan. ”Saya percaya pada kekuatan cerita dalam membangun kesadaran. Dan saya percaya bahwa periode terbaik untuk itu justru adalah (pada) usia anak-anak,” imbuhnya.

Tiap tahun, mengutip hasil riset Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) 2015, diterbitkan sekitar 30 ribu judul buku di tanah air. Dari survei yang sama terlihat, dari total jumlah buku terjual pada 2013, sebanyak 22,31 persen di antaranya merupakan buku anak. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 22,64 persen.

Potensial, tapi, seperti dikatakan Okky, masih butuh pengayaan karakter dan cerita yang dihadirkan. Okky, peraih Khatulistiwa Literary Award (sekarang Kusala Sastra Khatulistiwa) lewat ”Maryam”, termasuk dalam deretan penulis yang tak spesialis menulis buku anak, tapi belakangan ikut terjun di dalamnya.

Tere Liye yang telah melahirkan sederet novel anak ada dalam deretan serupa. Februari lalu dia merilis ”Suku Penunggang Layang-Layang”. Begitu pula Clara Ng yang telah melahirkan puluhan cerita anak.

Tere mewakilkan wawancara kepada editornya di Gramedia Pustaka Utama, Nina Andiana. Dan, senada dengan Okky, Nina menyebut kebiasaan membaca sulit ditumbuhkan jika dari kecil saja anak-anak tak mudah mendapatkan bacaan yang bermutu dan sesuai dengan usia mereka. ”Inilah pentingnya menyediakan semakin banyak bacaan bagi anak,” katanya melalui e-mail kepada Jawa Pos.

Anak-anak, lanjut Nina, butuh bacaan yang sederhana, tapi mengembangkan imajinasi mereka. Untuk itu, menurut dia, perlu ada usaha bersama dari berbagai pihak. Mulai masyarakat, penerbit, bahkan pemerintah. Itu agar tema yang disajikan kepada anak-anak tidak monoton dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat di mana mereka berada. ”Ini bisa lebih menambah pemahaman bagi anak-anak tentang kondisi sosial bangsa mereka sendiri,” katanya.

Pemerintah juga akan diuntungkan dengan semakin banyaknya bacaan untuk anak. Sebab, ada saatnya justru penanaman pemahaman melalui cerita-cerita fiksi anak bisa lebih efektif. ”Bisa melalui kartun, atau jika ingin meningkatkan minat baca orang Indonesia, bisa lewat buku,” katanya.

Clara Ng juga mengusulkan kepada semua yang terlibat dalam dunia pendidikan agar membiasakan pengajaran mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa asing di sekolah-sekolah dengan melibatkan buku cerita. ”Lalu mengaitkannya dengan isu-isu lokal dan isu-isu dunia. Kemudian juga mengaitkan dengan teori-teori atau pengetahuan dengan buku-buku nonfiksi. Bahkan juga mengaitkannya dengan hasil kerja para pemikir maupun penemu,” bebernya.

Photo

GEMAR MEMBACA: Kevano Abimanyu (depan) dan Rafi Ayra Wisanggeni saat asyik membaca buku anak di Toko Buku Uranus Surabaya kemarin (3/4). (PUGUH SUJADMIKO/JAWA POS)

Dengan diskusi yang dalam seperti itu, Clara menambahkan, anak-anak akan selalu ditantang tak hanya untuk berpikir secara imajinatif, tapi juga kritis. Serta meluaskan pengetahuan mereka.

Clara juga tergerak menulis buku anak dengan alasan serupa Okky: kegelisahan pada minimnya pilihan bacaan anak-anak. ”Dulu waktu pertama kali menulis buku cergam (cerita bergambar), saya hanya ingin mendongeng untuk anak saya. Saat itu anak-anak saya masih kecil,” imbuhnya.

Hal itu kemudian mendorong Clara untuk terus melahirkan buku-buku anak. Tak terasa dia sudah 15 tahun melakukannya, sembari juga tetap menulis karya untuk orang dewasa. ”Sampai hari ini saya sudah menulis untuk pembaca cilik usia balita sampai remaja,” kata Clara yang juga mengaku terinspirasi dari cergam karya Shel Silverstein yang dibacanya semasa kuliah.

Proses itu berjalan beriringan dengan penulisan karya-karya untuk orang dewasa. ”Buat saya, menulis buku cerita anak, remaja, dan dewasa punya permasalahan dan kesulitan yang berbeda. Tapi pada dasarnya sama,” imbuh penulis ”Tea for Two” yang ikut terlibat dalam pendirian komunitas Fiksimini di Facebook bersama sastrawan Agus Noor dan Eka Kurniawan itu.

Selain pilihan bacaan, akses terhadap bacaan juga masih jadi kendala bagi banyak anak Indonesia. Teritori Indonesia yang luas dan berpulau-pulau menyulitkan distribusi buku.

Muaranya, ini akan mematikan motivasi anak-anak untuk membaca. Dan dari sana bisa lahir masalah baru: ketidakmampuan menelusuri gagasan, tidak mampu kritis terhadap makna kalimat secara eksplisit maupun implisit, ketidakmampuan menilai konteks, serta ketidakmampuan bersikap reflektif. ”Membaca itu jadi tantangan bagi kemampuan intelektual serta imajinasi anak,” katanya.

Imajinasi yang bisa tumbuh karena, seperti ditulis di kalimat pembuka Okky dalam ”Mata di Tanah Melus”, tiap anak selalu percaya semua cerita itu nyata adanya. Dari cerita si cerdik kancil, misalnya, anak bisa tertantang untuk berpikir luas bagaimana menyiasati kondisi sulit. Dari gajah yang menyerah pada gigitan semut terkandung ajakan, ”Hei, gaes (guys), yang kecil itu tak selalu kalah lho dengan yang besar.”

Namun, saat ini sudah mulai ada karya cerita yang menyuguhkan nilai-nilai berbeda. Lihat saja Disney yang mulai memperkenalkan cerita Moana. Cerita tentang anak perempuan petualang, yang berusaha mengarungi lautan dengan membawa misi khusus. Artinya, tokoh dalam cerita ini tidak hanya digambarkan sebagai anak perempuan yang menunggu datangnya sang pangeran berkuda.

Okky sudah melihat semangat perubahan pada cerita anak itu, misalnya, di Disney. Mereka merilis Moana, si upik dari Kepulauan Pasifik yang tidak putih, tidak berambut keriting, dan akrab dengan alam.

Baca juga: Si Tampan Han Chandra, dari Catwalk Jadi Penulis Buku Anak









Jadi, ayo biasakan anak-anak membaca. Jangan biarkan mereka tumbuh seperti orang yang diceritakan Antoine de Saint-Exupery dalam ”Le Petit Prince”: ”Tidak paham apa-apa dan malah jadi beban bagi anak-anak yang harus menjelaskan segala sesuatunya.”

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=o1P4hvyhuSs

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore