
GEMAR MEMBACA: Kevano Abimanyu (depan) dan Rafi Ayra Wisanggeni saat asyik membaca buku anak di Toko Buku Uranus Surabaya kemarin (3/4). (PUGUH SUJADMIKO/JAWA POS)
KELUASAN TEMA: Okky Madasari tahun ini berencana meluncurkan novel keempatnya. (Okky Madasari for Jawa Pos)
KELUASAN TEMA: Clara Ng sudah 15 tahun melahirkan puluhan karya anak. (Clara Ng for Jawa Pos)
Cerita anak juga harus bisa memberi fondasi nilai kesetaraan, kemanusiaan, kejujuran, dan keadilan. ”Saya percaya pada kekuatan cerita dalam membangun kesadaran. Dan saya percaya bahwa periode terbaik untuk itu justru adalah (pada) usia anak-anak,” imbuhnya.
Tiap tahun, mengutip hasil riset Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) 2015, diterbitkan sekitar 30 ribu judul buku di tanah air. Dari survei yang sama terlihat, dari total jumlah buku terjual pada 2013, sebanyak 22,31 persen di antaranya merupakan buku anak. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 22,64 persen.
Potensial, tapi, seperti dikatakan Okky, masih butuh pengayaan karakter dan cerita yang dihadirkan. Okky, peraih Khatulistiwa Literary Award (sekarang Kusala Sastra Khatulistiwa) lewat ”Maryam”, termasuk dalam deretan penulis yang tak spesialis menulis buku anak, tapi belakangan ikut terjun di dalamnya.
Tere Liye yang telah melahirkan sederet novel anak ada dalam deretan serupa. Februari lalu dia merilis ”Suku Penunggang Layang-Layang”. Begitu pula Clara Ng yang telah melahirkan puluhan cerita anak.
Tere mewakilkan wawancara kepada editornya di Gramedia Pustaka Utama, Nina Andiana. Dan, senada dengan Okky, Nina menyebut kebiasaan membaca sulit ditumbuhkan jika dari kecil saja anak-anak tak mudah mendapatkan bacaan yang bermutu dan sesuai dengan usia mereka. ”Inilah pentingnya menyediakan semakin banyak bacaan bagi anak,” katanya melalui e-mail kepada Jawa Pos.
Anak-anak, lanjut Nina, butuh bacaan yang sederhana, tapi mengembangkan imajinasi mereka. Untuk itu, menurut dia, perlu ada usaha bersama dari berbagai pihak. Mulai masyarakat, penerbit, bahkan pemerintah. Itu agar tema yang disajikan kepada anak-anak tidak monoton dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat di mana mereka berada. ”Ini bisa lebih menambah pemahaman bagi anak-anak tentang kondisi sosial bangsa mereka sendiri,” katanya.
Pemerintah juga akan diuntungkan dengan semakin banyaknya bacaan untuk anak. Sebab, ada saatnya justru penanaman pemahaman melalui cerita-cerita fiksi anak bisa lebih efektif. ”Bisa melalui kartun, atau jika ingin meningkatkan minat baca orang Indonesia, bisa lewat buku,” katanya.
Clara Ng juga mengusulkan kepada semua yang terlibat dalam dunia pendidikan agar membiasakan pengajaran mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa asing di sekolah-sekolah dengan melibatkan buku cerita. ”Lalu mengaitkannya dengan isu-isu lokal dan isu-isu dunia. Kemudian juga mengaitkan dengan teori-teori atau pengetahuan dengan buku-buku nonfiksi. Bahkan juga mengaitkannya dengan hasil kerja para pemikir maupun penemu,” bebernya.
Photo
GEMAR MEMBACA: Kevano Abimanyu (depan) dan Rafi Ayra Wisanggeni saat asyik membaca buku anak di Toko Buku Uranus Surabaya kemarin (3/4). (PUGUH SUJADMIKO/JAWA POS)
Dengan diskusi yang dalam seperti itu, Clara menambahkan, anak-anak akan selalu ditantang tak hanya untuk berpikir secara imajinatif, tapi juga kritis. Serta meluaskan pengetahuan mereka.
Clara juga tergerak menulis buku anak dengan alasan serupa Okky: kegelisahan pada minimnya pilihan bacaan anak-anak. ”Dulu waktu pertama kali menulis buku cergam (cerita bergambar), saya hanya ingin mendongeng untuk anak saya. Saat itu anak-anak saya masih kecil,” imbuhnya.
Hal itu kemudian mendorong Clara untuk terus melahirkan buku-buku anak. Tak terasa dia sudah 15 tahun melakukannya, sembari juga tetap menulis karya untuk orang dewasa. ”Sampai hari ini saya sudah menulis untuk pembaca cilik usia balita sampai remaja,” kata Clara yang juga mengaku terinspirasi dari cergam karya Shel Silverstein yang dibacanya semasa kuliah.
Proses itu berjalan beriringan dengan penulisan karya-karya untuk orang dewasa. ”Buat saya, menulis buku cerita anak, remaja, dan dewasa punya permasalahan dan kesulitan yang berbeda. Tapi pada dasarnya sama,” imbuh penulis ”Tea for Two” yang ikut terlibat dalam pendirian komunitas Fiksimini di Facebook bersama sastrawan Agus Noor dan Eka Kurniawan itu.
Selain pilihan bacaan, akses terhadap bacaan juga masih jadi kendala bagi banyak anak Indonesia. Teritori Indonesia yang luas dan berpulau-pulau menyulitkan distribusi buku.
Muaranya, ini akan mematikan motivasi anak-anak untuk membaca. Dan dari sana bisa lahir masalah baru: ketidakmampuan menelusuri gagasan, tidak mampu kritis terhadap makna kalimat secara eksplisit maupun implisit, ketidakmampuan menilai konteks, serta ketidakmampuan bersikap reflektif. ”Membaca itu jadi tantangan bagi kemampuan intelektual serta imajinasi anak,” katanya.
Imajinasi yang bisa tumbuh karena, seperti ditulis di kalimat pembuka Okky dalam ”Mata di Tanah Melus”, tiap anak selalu percaya semua cerita itu nyata adanya. Dari cerita si cerdik kancil, misalnya, anak bisa tertantang untuk berpikir luas bagaimana menyiasati kondisi sulit. Dari gajah yang menyerah pada gigitan semut terkandung ajakan, ”Hei, gaes (guys), yang kecil itu tak selalu kalah lho dengan yang besar.”
Namun, saat ini sudah mulai ada karya cerita yang menyuguhkan nilai-nilai berbeda. Lihat saja Disney yang mulai memperkenalkan cerita Moana. Cerita tentang anak perempuan petualang, yang berusaha mengarungi lautan dengan membawa misi khusus. Artinya, tokoh dalam cerita ini tidak hanya digambarkan sebagai anak perempuan yang menunggu datangnya sang pangeran berkuda.
Okky sudah melihat semangat perubahan pada cerita anak itu, misalnya, di Disney. Mereka merilis Moana, si upik dari Kepulauan Pasifik yang tidak putih, tidak berambut keriting, dan akrab dengan alam.
Baca juga: Si Tampan Han Chandra, dari Catwalk Jadi Penulis Buku Anak

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
