Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Maret 2021 | 23.18 WIB

Mata Ditutup, Memainkan 150 Lagu, 5 Jam Nonstop

BERLATIH KERAS: Jefri Setiawan memainkan piano dengan mata tertutup saa sesi latihan di Jakarta (19/3). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS) - Image

BERLATIH KERAS: Jefri Setiawan memainkan piano dengan mata tertutup saa sesi latihan di Jakarta (19/3). (MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Jefri Setiawan, Pianis 15 Tahun, di Ambang Rekor Dunia Ketiga


Jefri Setiawan baru berlatih piano tiga tahun lalu dan kini harus latihan 8–10 jam sehari, sampai-sampai punggungnya sempat keseleo. Lagu Ed Sheeran sampai karyanya sendiri tentang Kendal akan ditampilkan dalam upaya pemecahaan rekor dunia lusa.

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta, Jawa Pos

---

DENTING piano sontak membuat aula Auditorium Ar-Rahman, Universitas Yarsi, Jakarta, yang riuh menjadi senyap. Seluruh perhatian langsung berpindah ke atas panggung.

Di sana, Jefri Setiawan yang ditutup matanya sudah terhanyut dalam dunianya sendiri. Jarinya tampak menari di atas tuts piano, memainkan nada-nada yang merambat pelan membentuk sebuah irama. Membuat pendengarnya sibuk menerka-nerka lagu apa gerangan yang tengah dimainkan sang pianis muda.

Ternyata Perfect, lagu milik Ed Sheeran. Tapi, tak lama lagu itu memanjakan telinga. Sebab, irama baru sudah dimainkan pianis berusia 15 tahun tersebut.

Cepat berganti. Maklum, dalam sesi latihan perdana Jumat lalu (19/3), dia masih berusaha menyesuaikan diri untuk persiapan penampilannya pada Rabu nanti (24/3). Jefri berusaha menaklukkan rekor dunia untuk dua lembaga. Yakni, European Records Book dan Amerika Book of Record dalam acara memorizing 150 songs while playing piano in blindfolded for 5 hours nonstop.

Jika berhasil, itu bakal menjadi rekor dunia ketiganya. Rekor dunia pertama putra pasangan Joko Manis dan Indah Setyoningsih itu diraih pada April 2018 di Berlin, Jerman, dalam kategori yang sama. Kemudian, pada Februari tahun lalu, dia kembali memecahkan rekor dunia dalam kompetisi yang sama di New Delhi, India.

Pada kompetisi di New Delhi tersebut, dia sudah menyiapkan 120 lagu. Namun, tim juri yang terkesan dengan kemampuannya langsung memutuskan bahwa dia lolos hanya pada 10 lagu awal.

”Jefri ingin mengharumkan nama Indonesia lagi. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang isinya berita sedih semua,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos di sela sesi latihan.

Keinginan kembali memecahkan rekor baru itu muncul sekitar tiga bulan lalu. Pianis muda asal Kendal, Jawa Tengah, itu kemudian mengajukan proposal ke European Records Book dan Amerika Book of Record. Dalam pengkajian, dia diminta untuk mengirimkan bukti-bukti terkait dengan prestasinya di kancah dunia sebelumnya. ”Lalu, mereka menantang Jefri, apa yang ingin dipecahkan lagi,” katanya.

Setelah dinyatakan layak, awal Februari lalu, siswa kelas IX SMPN 2 Kendal itu mendapat surat persetujuan dari dua lembaga tersebut. Approval letter itu kemudian menjadi acuan untuk proses uji yang bakal dilakukan dua hari lagi.

Jefri sudah menyiapkan 150 lagu. Ada lagu Indonesia dan Barat. Genrenya beragam. Mulai lagu perjuangan, pop, klasik, hingga dangdut. Misalnya, Tanah Air, Indonesia Pusaka, Gebyar-Gebyar, Can’t Help Falling in Love, Fur Elise, You Are the Reason, hingga lagu ciptaannya sendiri, Kendal Permataku. Semua di-mix menjadi satu dalam pertunjukan yang rencananya digelar selama lima jam tersebut.

Dia mengaku sudah melakukan persiapan maksimal. Lagu 99 persen aman. Penghafalan urutan lagu pun sudah di luar kepala. Namun, yang masih menjadi tantangan baginya adalah ketahanan stamina. Sebab, dia harus duduk selama lima jam nonstop.

”Waktu di Jerman, Jefri main 100 lagu nonstop 3,5 jam. Itu Jefri ngerasain capek yang luar biasa. Makanya, ini bakal jadi tantangan banget,” tutur bocah yang berulang tahun tiap 2 Maret itu.

Belum lagi dia harus pandai-pandai mengatur emosi. Jefri tak boleh terburu-buru dalam bermain. Hal itu bisa merusak konsentrasi. Tempo permainan juga akan berubah. Padahal, dibutuhkan ketenangan dan kestabilan untuk tetap on the track memainkan 150 lagu. Apalagi, dia bermain dalam kondisi mata tertutup. Jadi, hanya mengandalkan hafalan dan nada yang muncul dari tuts pianonya. ”Tapi, tidak boleh monoton. Karena standar musik Amerika dan Eropa kan tinggi,” jelasnya.

Beruntung dia melatih diri sejak awal pengajuan proposal tiga bulan lalu. Sulung tiga bersaudara itu harus pandai-pandai membagi waktu antara sekolah dan latihan.

Setiap hari dia harus bangun pukul 03.00 WIB agar bisa latihan sebelum sesi sekolah daringnya dimulai. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian belajar, dia akan kembali menghampiri pianonya di rumah.

Namun, menjelang perhelatan akbarnya di Jakarta, Jefri terpaksa mengambil cuti sebulan. Sebab, dia harus berada di ibu kota dua minggu sebelum pentas pemecahan rekor dunia dimulai. Sebab, lagi-lagi, staminanya harus benar-benar dijaga.

”Sehari bisa 8–10 jam latihan,” tuturnya.

Karena latihan tanpa henti itu, Jefri mengaku sempat bermasalah dengan punggungnya. Tak adanya sandaran pada kursi membuat punggungnya sedikit keseleo hingga berakibat nyeri. Mau tak mau dia di-treatment khusus.

”Sakit banget. Jadi, sekitar tiga minggu lalu harus dipijat khusus,” kenangnya.

Tapi, latihan itu sepadan dengan tanggung jawab yang akan diembannya. Jefri merasa, dirinya harus bisa menunjukkan bahwa pandemi ini tidak menghalangi semua orang untuk bisa berprestasi.

Sang ibu, Indah Setyoningsih, pun mengamini. Dia menilai beban yang dirasakan Jefri sangat berat. Karena itu, sang putra pun mati-matian berlatih demi mempertaruhkan nama baik bangsa.

Dia teringat dulu ketika mereka berjuang di Berlin. Meski masih dilanda rasa lelah dan jet lag, sang putra bisa tampil gemilang. ”Saat tiba di Berlin, ternyata musim dingin. Saya khawatir saat tampil Jefri apa mampu,” ungkapnya ketika ditemui di tempat yang sama.

Kekhawatiran tersebut ternyata terkikis oleh penampilan Jefri yang cemerlang. Sang putra justru sangat bersemangat hingga berhasil memecahkan rekor dunia.

Jefri mulai belajar piano sejak tiga tahun lalu. Itu pun secara otodidak. Namun, sebelumnya, dia menguasai keyboard sejak usia 6 tahun.

Awalnya, dia hanya penasaran pada alat musik berbentuk kotak tersebut. Ketertarikannya bermula saat melihat keyboard di salah satu lokasi les musik di Kendal, Jawa Tengah. Padahal, ada alat musik lain saat itu.

Mengetahui hal itu, sang papa kemudian membelikannya pianika. Lalu, sambil menabung, dia diberi hadiah keyboard yang akhirnya membawanya ke ambang rekor dunia ketiga sekarang ini.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=0XvEbXFaOAA
Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore