Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 Juni 2020 | 21.09 WIB

Dokter Tri Maharani dan Cerita Kesembuhan Covid-19

ISOLASI: Dokter Tri Maharani beserta tim medis RS Gambrian Kediri, tempat dia menjalani perawatan sejak  13 Juni lalu. (TRI MAHARANI FOR JAWA POS) - Image

ISOLASI: Dokter Tri Maharani beserta tim medis RS Gambrian Kediri, tempat dia menjalani perawatan sejak 13 Juni lalu. (TRI MAHARANI FOR JAWA POS)

Dr dr Tri Maharani MSi SpEM harus menukar sementara jas putih yang biasa dikenakan saat bertugas dengan baju pasien. Dokter yang dikenal jago menangani bisa ular itu terkonfirmasi Covid-19. Begitu pulang dari rumah sakit (RS), dia punya tekad membuat alat rapid PCR.

ADINDA AZMARANI, Surabaya, Jawa Pos

---

”AKU ini diberi kesempatan hidup kedua oleh Tuhan,” kata dokter Maha (sapaan dr Tri Maharani) saat bercerita melalui telepon tadi malam (18/6). Dia bertutur bahwa sejumlah kenalannya masuk daftar puluhan dokter yang meninggal karena Covid-19. ”Sungguh luar biasa sembuh,” ucapnya.

Dari dua kali tes swab yang dilakukan pada Senin dan Selasa lalu, dokter spesialis emergensi itu dinyatakan negatif. Sesuai standar WHO, dia dinyatakan sembuh. Tapi, dia belum pulang. Virus SARS-CoV-2 membuatnya terkena pneumonia. Pagi ini rencananya dia menjalani CT scan toraks untuk melihat kondisi paru-parunya. ”Untuk pulang, semua kelainan itu harus sudah benar-benar minimal,” ucap perempuan 48 tahun tersebut.

Maha merasa tertular Covid-19 dari seorang petugas laundry di RS Daha Kediri, tempat dia bertugas. Seorang pria paro baya yang merasakan batuk, sesak napas, mual, dan demam.

”Saya pikir, ’Waduh, ini kan gejala Covid-19. Mau enggak Pak saya antar ke Tulungagung?’” katanya.

Maha menawari pasien tersebut memeriksakan diri ke RS rujukan Covid-19 di kota sebelah. Sebab, di RS tempatnya tidak disediakan tes swab. Bersama anak dan istri pasien itu, Maha berangkat ke Tulungagung. Maha sendiri menyadari bahwa kondisinya sedang sangat lelah karena bekerja 16 jam sehari sebelumnya.

Sesampai di sana, pasien drop dan dilarikan ke UGD. ”Dari hasil pemeriksaan, hasilnya kurang bagus. Secara patologis klinis dia dinyatakan suspect Covid-19. Tapi, rapid test-nya nonreaktif,” katanya.

Pasien kemudian dirawat inap dan Maha memutuskan pulang. Sebelumnya Maha juga sudah menjalani rapid test dan hasilnya nonreaktif. Keesokan harinya pada 6 Juni seorang dokter kenalan Maha menawari tes swab gratis. Syaratnya hanya mengurus berkas BPJS Kesehatan. Melihat kondisi petugas laundry itu, tanpa pikir panjang Maha mengiyakan. Sekaligus meminta dirinya dan beberapa rekan tenaga medisnya ikut dites. Pada 11 Juni hasil tes keluar. Maha dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. ”Rasanya kayak kena petir, tapi ya bagaimana lagi? Aku kan dokter, harus bisa menghadapinya,” tutur dia.

Setelah melapor ke dinas kesehatan setempat, Maha menjalani karantina mandiri di rumah. Namun, baru dua hari di rumah, dia merasa tidak aman. ”Di rumah banyak orang dan anak-anak. Kalau mereka tidak terproteksi menyeluruh, kasihan,” kata dokter yang sempat menjadi relawan di RS rujukan Covid-19 RSPI Sulianti Saroso Jakarta selama dua minggu itu.

Selain itu, yang bikin Maha tidak nyaman adalah respons orang-orang di sekitar. Begitu dia dinyatakan positif, rasanya semua orang jadi panik. Ketua RT, RW, sampai camat menghubungi keluarganya. Wali kota juga mengumumkannya di radio. Keluarga Maha mendapat banjir telepon. Tak sedikit yang bernada negatif. ”Saking banyaknya tekanan masyarakat, sampai kakak ikut menyalahkan, kok aku bisa kena. Ya aku bilang, enggak tahu Mbak, wong sudah proteksi maksimal,” jelasnya.

Beberapa pasiennya juga menelepon. Khawatir ketularan. Namun, Maha menyebut risiko itu kecil sekali. Selama bertugas, dia selalu melengkapi diri dengan APD level III. Tidak ada sentuhan langsung dan setiap pertemuan hanya berjalan 1–5 menit. ”Tapi, untuk mereka yang tetap khawatir, ya enggak apa-apa kalau mau tes,” katanya.

Hari itu Maha kemudian menelepon Pelayanan Gawat Darurat Public Safety Center (PSC) 119. Dia dijemput untuk periksa ke RS Kilisuci Kediri. Menjalani tes darah dan foto toraks, diketahui ternyata Maha terkena pneumonia. Gula darahnya juga mendadak tinggi. ”Bahaya sekali kan Covid ini. Tak sampai seminggu saya yang awalnya segar bugar, sudah begitu,” ujarnya.

Menyadari kondisinya tidak baik-baik, Maha mengambil opsi untuk isolasi di RS Gambiran. Jika sebelumnya berstatus asimtomatis, karena ada pneumonia, kini dia masuk kategori bergejala alias simtomatis. Pada 6–11 Juni itu, Maha mengaku memang tak merasakan keluhan yang kuat. Paling hanya pegal-pegal. Dia menganggapnya karena lelah bekerja. Sampai dinyatakan terkonfirmasi, dia juga belum punya keluhan. Pada 13 Juni saat mulai isolasi itulah baru tubuhnya terasa sakit sekali. ”Di sekujur tubuh nyeri. Rasanya kayak orang dipukuli,” ceritanya.

Pada 14 Juni dini hari mulai pukul 12 sampai 3 Maha batuk terus. Namun, setelahnya kondisi berangsur membaik. Bisa tidur dengan nyenyak, juga makan dengan lahap. Obat yang diminum sebelum masuk RS adalah obat yang dianjurkan untuk pasien flu burung oseltamivir, antibiotik azitromisin, dan vitamin C. Dia mendapatkan resep dari rekannya seorang dokter paru yang juga survivor Covid-19.

Saat sudah masuk RS, obatnya ditambah dengan levofloksasin untuk meredakan pneumonianya. ”Dan beberapa obat simtomatis sesuai dengan keluhan dan keadaan saya. Misalnya nyeri, ya diberi antinyeri,” katanya. Meski haru menjalani semua itu, Maha mengaku tidak pernah menyesal membantu petugas laundry tersebut. ”Saya malah senang karena beliau dapat perawatan yang tepat,” ujarnya.

Hanya, Maha ingin terus mengingatkan bahwa Covid-19 ini adalah penyakit serius. Dia sedih melihat masih ada yang menganggap sakit ini sepele sehingga tak mengindahkan protokol kesehatan. Maha juga menyayangkan prosedur tes di Indonesia yang terlalu berbelit-belit. Pasien baru bisa melakukan swab test jika hasil rapid test-nya reaktif. Padahal, semua tahu rapid test kurang akurat. Maha pun mendapat hasil nonreaktif pada rapid test hingga tiga kali. Namun nyatanya, setelah dua kali swab test, hasilnya positif.

Maha berpendapat, sudah seharusnya tes swab menjadi acuan standar yang bisa dilakukan masyarakat umum. Tidak seperti sekarang. Rapid test reaktif baru di-swab. ”Harusnya pakai kriteria WHO, yakni confirm atau nonconfirm. Itu dengan cara PCR atau swab. Jadi, enggak usah ada istilah OTG, PDP, dan sebagainya. Akibatnya, kita jadi enggak tahu angka pastinya dan tidak bisa buat kurva epidemiologinya,” tutur dia.

Maha juga berharap pihak RS tidak malu mengakui jika ada nakes yang positif dan meminta memperlakukannya dengan baik. ”Tolong di-support. Dan kalau ada nakes yang positif, RS juga hendaknya mau ditutup untuk menghindari penularan,” katanya.

Maha juga mengharapkan stigma masyarakat terhadap pasien Covid-19 berubah. Tidak perlu terlalu kepo hingga mengganggu keluarga pasien atau melakukan perundungan. Begitu pulang nanti, Maha akan menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.

Saat-saat itu akan digunakannya untuk menyelesaikan sejumlah hal yang sudah direncanakan. Termasuk membuat alat rapid PCR. ”Dengan alat ini nanti tes swab bisa dilakukan dengan efisien dan hasilnya juga cepat diketahui,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=LVbwyZJXpKg

 

https://www.youtube.com/watch?v=-itcC9SUsv0

 

https://www.youtube.com/watch?v=1PWFkSdr9BQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore