
SIAP ANTAR: Heri Kuswanto (kanan) dan Galih Pribadi sedang menyiapkan pesanan yang masuk melalui aplikasi Bakoel Sayur Online. (Robby Kurniawan/Jawa Pos)
Galih Pribadi, Heri Kuswanto, dan Sulis adalah tiga pemuda yang mendapat hikmah dari pandemi Covid-19. Bakoel Sayur Online, start-up bisnis yang dirancang pada Desember lalu, tiba-tiba kebanjiran pesananan. Menggagas sistem subsidi agar pelanggan tetap bisa berbelanja.
ROBBY KURNIAWAN, Surabaya
Pagi-pagi sekali, Galih Pribadi sibuk memeriksa pesanan yang masuk di handphone (HP) miliknya. Sudah ada 14 pelanggan. Mereka memesan beragam komoditas pangan. Baik sayur, daging, ikan, maupun bumbu dapur. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dia bersama tim Bakoel Sayur Online lantas belanja di pasar sejak pukul 01.00.
Produk yang dipilih tentu tak sembarangan. Misalnya, sayur. Pilihannya harus segar dan bagus. Setelah semua barang belanjaan terbeli, Galih bergegas pulang.
Pemuda asal Tarik, Sidoarjo, itu melanjutkan proses pesanan ke tahap pengepakan. Satu per satu dikemas dengan rapi dan higienis.
Kemasannya menggunakan styrofoam sebagai alas, lalu ditutup rapat dengan plastik wrap. Selama pengiriman, pesanan tersebut dijamin bersih. Pelanggan merasa senang. Duit pun datang. ”Barang belanjaan dari pasar tradisional, tapi dikemas layaknya di supermarket,” cerita Galih saat ditemui Jumat lalu (1/5) pukul 07.50.
Pada waktu itu, Galih baru saja mengantar pesanan di area Prambon, Balongbendo, dan Tarik. Bukannya istirahat, dia masih sibuk di dapur. Permintaan dari para konsumen semakin bertambah. Dia segera membagi tugas. Ada yang mengelompokkan barang belanjaan. Ada juga yang mengemas. ”Pesanan satu paket menu capcay,” teriaknya. ”Maaf, sambil disambi ya, Mas,” imbuhnya.
Ya, transaksi jual beli sayuran melalui Bakoel Sayur Online terus datang. Pria 34 tahun itu mengaku kebanjiran pesanan. Apalagi pada masa pandemi Covid-19. Semula, dia hanya mengirim barang belanjaan pada pagi hari. Kini bertambah hingga sore. ”Sehari, bisa 50 jenis komoditas pangan yang dipesan,” tuturnya.
Aplikasinya, jelas Galih, baru dirintis Desember 2019. Platform jual beli sayuran online itu memang terbilang baru. Namun, saat pertama isu lockdown muncul karena Covid-19, frekuensi penjualan meningkat. Masyarakat sangat butuh jasa antar untuk mencukupi kebutuhan dapur. Terutama ibu-ibu. ”Dipaksa di rumah aja untuk mengurangi kontak fisik dengan banyak orang,” terangnya.
Galih bukan satu-satunya founder Bakoel Sayur Online. Awalnya, ide start-up muncul ketika sedang berkumpul dengan dua kelompok pemuda lain. ”Saya dari pemuda Muhammadiyah. Lalu, ada Heri Kuswanto, pegiat ekologi Laskar Bumi; dan Sulis, pemuda Ansor,” jelasnya. Ketiganya punya misi dan visi yang sama dalam menyelesaikan masalah sosial.
Apa itu? ”Ada dua hal,” jawab Galih. Pertama, banyak ibu rumah tangga yang juga mempunyai profesi. Misal, bidan dan guru. Saking repotnya, mereka sulit belanja saat pagi. Kedua, mengangkat derajat petani. Hasil panennya langsung dipertemukan kepada pembeli. ”Kalau panen, harga pasti anjlok. Tapi, kenapa harga pasaran tetap tinggi? Pasti ada yang bermain,” ujarnya.
Oleh sebab itu, mereka bertiga ingin memberikan solusi atas masalah tersebut. ”Aplikasi yang bagus adalah yang diaplikasikan. Ya, langsung dijalankan. Jangan dipikirkan terus. Momennya juga pas ada Covid-19,” lanjutnya.
Sebelum diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Galih sempat berkomunikasi dengan salah seorang anggota DPRD di wilayahnya. Dia mengusulkan Bakoel Sayur Rescue. Pengiriman logistiknya dibantu para pemuda dari karang taruna atau ormas lain. ”Ya, tujuannya untuk mengurangi risiko penularan saat berkerumun di pasar,” ucapnya.
Sementara itu, Heri Kuswanto menyampaikan, kebutuhan konsumen tidak hanya dipenuhi di pasar. Pihaknya juga menjalin kemitraan dengan beberapa petani lokal. Tujuannya, memotong distribusi mata rantai penjualan yang panjang. Petani langsung dipertemukan ke pembeli. Tanpa harus ke tengkulak sehingga harga tidak terlalu jatuh. ”Siapa pun boleh bergabung,” katanya.
Hingga saat ini, Heri telah merencanakan tiga kelompok petani yang akan bergabung. Komoditas pangan yang ditanam adalah bawang, pisang, kangkung, dan empon-empon. Bagaimana harganya? ”Sangat bersaing. Tak kalah dengan harga pasar,” terangnya.
Namun, ada skenario penyesuaian harga barang belanjaan. Pihaknya melakukan subsidi silang. Misal, satu pelanggan tiba-tiba jarang memesan kembali kebutuhan dapur. Alasannya, penghasilan berkurang atau terdampak Covid-19. Tim Bakoel Sayur Online bisa menyesuaikan harga yang mampu dibeli oleh konsumen tersebut. ”Bisnis tapi masih aktivis. Saya enggak mentolo. Kalau senang belanja sama saya, jangan sampai tidak belanja. Apabila ada kendala, kita carikan solusi. Pakai gendong indit,” tuturnya.
Sementara ini, ucap Heri, aplikasi Bakoel Sayur Online dapat menampung 1.000 pesanan per hari. Tim inti bersama pengantar barang berjumlah 15 orang yang tersebar di beberapa wilayah. Tarik, Wonoayu, Sukodono, dan Sidoarjo kota. ”Insya Allah, ke depan bisa berkembang dan lebih luas jangkauannya sampai Surabaya−Mojokerto,” terangnya.
Dengan adanya pandemi Covid-19, dia berpesan untuk tidak patah semangat. Toko memang ditutup. Tapi, jangan mematikan produktivitas. Saatnya mulai beradaptasi dengan situasi terkini. ”Tak ada pelanggan yang datang. Ya, harus dicari. Mereka butuh apa, kita siap antar,” ucapnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=FlO5l8d3_cY
https://www.youtube.com/watch?v=2yAFBwUHwt0
https://www.youtube.com/watch?v=Qe7qEHeGgZ0

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
