
BELAJAR OTODIDAK: Aseyan berfoto di samping robot SSC bikinannya yang diletakkan di gapura Jalan Tembok Gede III. (Eko Hendri/Jawa Pos)
Aseyan, warga Jalan Tembok Gede III, Kelurahan Bubutan, tak pernah sekali pun belajar di perguruan tinggi. Namun, kreativitas pria 51 tahun itu membuat banyak mahasiswa kesengsem dan ingin belajar kepadanya.
Eko Hendri Saiful, Surabaya
Dua robot menyambut di gapura Jalan Tembok Gede III, RT 3, RW 2, Kelurahan Bubutan. Keduanya berbeda ukuran. Satu robot memiliki tinggi sekitar 2 meter, sedangkan satunya lagi lebih pendek.
Semakin dekat, semakin tampak keunikan robot. Kepalanya disusun dari limbah barang elektronik. Yakni, TV dan helm bekas. ’’Sebenarnya saya ingin robot bisa berjalan keliling kampung setiap sore. Tapi, keinginan itu belum keturutan,” ungkap Aseyan saat menerima kunjungan Jawa Pos Sabtu (30/11). Tanpa dikomando, pria yang lahir di Sidoarjo itu langsung memamerkan karyanya.
Yang paling dibanggakan Aseyan adalah robot Surabaya Smart City (SSC) yang belum lama ini di-launching. Robot SSC memiliki tinggi sekitar 2 meter. Karena cukup sulit, proses pembuatannya memakan waktu sebulan.
Aseyan mengatakan, pembuatan robot tersebut awalnya hanya iseng. Saat itu dia melihat temannya membuang kerangka lampu penerangan jalan umum yang sudah tak terpakai. Lalu, muncul ide kreatif Aseyan untuk memanfaatkannya.
’’Jadi, 70 persen bahan SSC (robot SSC, Red) dari PJU bekas. Ada 20 lampu yang kami olah,” ungkap Aseyan. Untuk merancangnya, bapak dua anak itu mengaku tak sendirian. Ada warga yang ikut membantu membuat robot berdiri.
Kini, karya Aseyan cukup digandrungi. Sebab, selain bisa bergerak ke kanan-kiri, robot tersebut dapat berbicara. Ada speaker dan peralatan elektronik yang tersambung ke alat perekam.
’’Robot ini memiliki jasa besar bagi ibu-ibu. Ini jadi hiburan anak-anak saat mereka rewel,” kata Aseyan, lantas tertawa. Berkat robot tersebut, lulusan SMP Dharma Wanita Wonoayu itu semakin populer. Selain warga kampung lain, banyak mahasiswa yang mendatangi rumah Aseyan untuk menimba ilmu.
Apalagi, karya pria itu tidak hanya satu. Aseyan memiliki karya lain yang juga mendapat banyak apresiasi. Namanya robot Paijo. Robot itu juga diletakkan di gapura pintu masuk Jalan Tembok Gede IIII.
Berbeda dengan SSC, Paijo lebih mungil. Robot itu dibuat dari lampu dan TV bekas. Paijo diciptakan sebagai simbol kekompakan warga menjaga kebersihan lingkungan. Dengan begitu, robot tersebut tak bisa lepas dari sapu di tangannya.
Aseyan ingin keahlian yang dimilikinya bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Ketua RT 3, RW 2, Kelurahan Bubutan, itu tidak hanya menyumbangkan robot yang dibuatnya. Dia juga menghias Jalan Tembok Gede III dengan berbagai bahan daur ulang yang menarik dan menghibur masyarakat. Aseyan menggagas lahirnya Kampung Pintar.
Dia menegaskan bahwa keahliannya dalam membuat kerajinan berbahan limbah benar-benar muncul secara otodidak. Aseyan tidak pernah belajar di jurusan elektronika. Kemahirannya didapat dari aktivitas mengamati usaha bengkel milik tetangganya. Dari situ, suami Titik Widyawati itu belajar mereparasi barang elektronik dan membuat robot.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
