
Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12).
Jarak yang jauh tidak menyurutkan langkah anak-anak di Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat untuk mendalami ilmu agama. Mereka tetap semangat menuju Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser. Alasannya, karena ada guru polisi di sana.
Desyinta Nuraini, Papua
Lantunan doa sehari-hari terdengar lantang saat JawaPos.com mengunjungi Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12). Suara renyah khas anak-anak itu membuat sejuk hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
Mereka duduk rapih di meja panjang. Laki-laki berada di barisan sebelah kanan, dan perempuan ada di sebelah kiri.
Namun siapa sangka, yang menuntun mereka membaca doa sehari-hari bukan lah guru ngaji melainkan polisi berseragam lengkap. Ya, taman pendidikan Alquran itu menyediakan polisi sebagai tenaga pengajar.
Kepala Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser Nur Salamah mengaku, tiga orang polisi menjadi tenaga pengajar sejak Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning menjabat pada 2017 lalu.
Dia mengaku merasa terbantu dengan para polisi pemuda itu. Sebab, tenaga pendidik Alquran di sekolah tersebut sangat minim.
"Kita cari guru-guru ngaji itu masya Allah sangat susah sekali. Alhamdulillah kami sangat berterima kasih kepada Kapolres Bapak Edy yang mengamanatkan kepada adik-adik polisi untuk mengajar, mendidik anak-anak kami," ujar Nur Salamah di lokasi.
Kehadiran para polisi berpangkat brigadir itu katanya membuat semangat para peserta didiknya. Bahkan ada yang rela menempuh jarak tiga kilometer hanya untuk mengaji di tempatnya. "Jaraknya jauh-jauh. Ada (siswa) tinggal deket Polres. Seantero Waisae (mengaji di sini)," ungkap Nur Salamah.
Senang diajar mengaji Pak Polisi diakui Ninu, 8. "Senang diajar mengaji Pak Polisi," sebut bicah kelas tiga SD yang tampak malu-malu itu saat ditanyai JawaPos.com.
Ya, tenaga pengajar agama Islam yang minim menarik perhatian Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning. Dia berinisiatif untuk menempatkan anggotanya menjadi tenaga pendidik agama Islam. Tak asal, anggotanya harus menjalani seleksi.
Dari 11 anggota yang bisa mengaji, terpilih sembilan anggota untuk menjadi tenaga pengajar di beberapa taman pendidikan Al-Quran di Kota Waisai. "Di TPA Baitul Arsylah ini, kemudian di Masjid Agung dan di mushollah sekarang bentuk masjid yang ke arah ke Polres," beber Edy di lokasi yang sama.
Biasanya, para anggota berpangkat brigadir itu mengajar mulai dari pukul 16.00-18.00 WIT. Beberapa lainnya mengajar mengaji selepas salat Magrib.
Inisiatifnya untuk menempatkan anggota sebagai guru ngaji pun disambut baik beberapa taman belajar Alquran. Kehadiran mereka juga diterima anak-anak yang menjadi peserta didik.
Bahkan dengan kehadiran pihaknya, anak-anak lebih disiplin. Betul saja, ketika melihat Pak Polisi datang, mereka langsung berlarian dan duduk rapih di meja masing-masing.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
