Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Desember 2018 | 22.50 WIB

Semangat Mengaji di Raja Ampat

Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12). - Image

Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12).

Jarak yang jauh tidak menyurutkan langkah anak-anak di Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat untuk mendalami ilmu agama. Mereka tetap semangat menuju Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser. Alasannya, karena ada guru polisi di sana.


Desyinta Nuraini, Papua


Lantunan doa sehari-hari terdengar lantang saat JawaPos.com mengunjungi Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser, Kota Waisai, Raja Ampat, Papua Barat, Rabu (13/12). Suara renyah khas anak-anak itu membuat sejuk hati bagi siapa pun yang mendengarnya.


Mereka duduk rapih di meja panjang. Laki-laki berada di barisan sebelah kanan, dan perempuan ada di sebelah kiri.


Namun siapa sangka, yang menuntun mereka membaca doa sehari-hari bukan lah guru ngaji melainkan polisi berseragam lengkap. Ya, taman pendidikan Alquran itu menyediakan polisi sebagai tenaga pengajar.


Kepala Sekolah Ramah Anak Baitul Arsyillah Kobeoser Nur Salamah mengaku, tiga orang polisi menjadi tenaga pengajar sejak Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning menjabat pada 2017 lalu.


Dia mengaku merasa terbantu dengan para polisi pemuda itu. Sebab, tenaga pendidik Alquran di sekolah tersebut sangat minim.


"Kita cari guru-guru ngaji itu masya Allah sangat susah sekali. Alhamdulillah kami sangat berterima kasih kepada Kapolres Bapak Edy yang mengamanatkan kepada adik-adik polisi untuk mengajar, mendidik anak-anak kami," ujar Nur Salamah di lokasi.


Kehadiran para polisi berpangkat brigadir itu katanya membuat semangat para peserta didiknya. Bahkan ada yang rela menempuh jarak tiga kilometer hanya untuk mengaji di tempatnya. "Jaraknya jauh-jauh. Ada (siswa) tinggal deket Polres. Seantero Waisae (mengaji di sini)," ungkap Nur Salamah.


Senang diajar mengaji Pak Polisi diakui Ninu, 8. "Senang diajar mengaji Pak Polisi," sebut bicah kelas tiga SD yang tampak malu-malu itu saat ditanyai JawaPos.com.


Ya, tenaga pengajar agama Islam yang minim menarik perhatian Kapolres Raja Ampat AKBP Edy Setyanto Erning. Dia berinisiatif untuk menempatkan anggotanya menjadi tenaga pendidik agama Islam. Tak asal, anggotanya harus menjalani seleksi.


Dari 11 anggota yang bisa mengaji, terpilih sembilan anggota untuk menjadi tenaga pengajar di beberapa taman pendidikan Al-Quran di Kota Waisai. "Di TPA Baitul Arsylah ini, kemudian di Masjid Agung dan di mushollah sekarang bentuk masjid yang ke arah ke Polres," beber Edy di lokasi yang sama.


Biasanya, para anggota berpangkat brigadir itu mengajar mulai dari pukul 16.00-18.00 WIT. Beberapa lainnya mengajar mengaji selepas salat Magrib.


Inisiatifnya untuk menempatkan anggota sebagai guru ngaji pun disambut baik beberapa taman belajar Alquran. Kehadiran mereka juga diterima anak-anak yang menjadi peserta didik.


Bahkan dengan kehadiran pihaknya, anak-anak lebih disiplin. Betul saja, ketika melihat Pak Polisi datang, mereka langsung berlarian dan duduk rapih di meja masing-masing.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore