Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Agustus 2018 | 02.24 WIB

Syair Merdeka Para Lansia dan Kritik Untuk Generasi Zaman Now

Salah seorang peserta tengah tampil membacakan puisi di Museum Nasional Medan. - Image

Salah seorang peserta tengah tampil membacakan puisi di Museum Nasional Medan.

"Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru@ kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?"


Prayugo Utomo/JawaPos.com, Medan


Penggalan puisi gubahan penyair Chairil Anwar yang ditulis 1948 silam, dibacakan para perempuan sepuh di Museum Nasional, yang berada di Jalan HM Joni, Medan. Guratan keriput di wajah menggambarkan usia mereka yang tak muda lagi.


Suasana haru terlihat dari wajah para lansia yang duduk di barisan bangku penonton. Mata mereka berkaca-kaca, mendengar lirih suara rekannya yang membaca puisi.


Meski tak muda lagi, para lansia tampil anggun memakai kebaya, lengkap dengan riasan wajah. Diantara mereka bahkan ada yang memakai kostum safari ala Presiden Soekarno. Semangat mereka melantunkan syair-syair yang dibuat penyair tempo dulu patut diacungi jempol.


Ternyata, para perempuan-perempuan lansia itu membacakan puisi dalam rangka berkompetisi. Mereka membaca puisi perjuangan untuk peringati Hari Kemerdekaan Indonesia yang tak lama lagi akan diperingati.


Ada 43 perempuan Lansia yang ikut di kompetisi itu. Seluruhnya adalah anggota Wirawati Catur Panca Provinsi Sumatera Utara, organisasi kelaskaran wanita yang berdiri sejak 1950 silam. Pantas saja mereka tidak grogi untuk tampil dihadapan penonton. Satu persatu peserta maju. Mereka membacakan puisi dengan teks yang sudah disediakan panitia.


Salah satu peserta bernama Dokter Hj Surawana Sudian, 69. Dalam kesempatan itu, ia mengenakan kostum safari putih lengkap dengan peci hitam dengan balutan pita merah putih. Saat berbincang dengan JawaPos.com, matanya berkaca-kaca mengingat perjuangan para pahlawan.


"Lomba ini bentuk apresiasi kami kepada para pejuang. Kami ingin jasa mereka terus diingat. Coba pahami puisi Karawang Bekasi itu. Isinya menyat hati," kata perempuan yang menjabat sebagai Ketua Keluarga Besar Wirawati Catur Panca itu, disela perlombaan di Museum Nasional,Kamis (9/8).


Sekarang, lanjut perempuan tua itu, anak muda sering abai dan melupakan jasa para pejuang. Karena mereka tidak mengetahui bagaimana para pejuang merebut kemerdekaan.


"Anak muda sekarang jangan hanya taunya dibelakang meja saja. Main gadget, tapi tidak tau sejarah," tukasnya.


Mereka ingin memotivasi pemuda lewat kegiatan yang sudah dilakukan sejak 2011 lalu. Melalui kompetisi ini, mereka juga ingin menunjukkan kalau puisi-puisi perjuangan harus diingat generasi milenial atau zaman now.


"Dulu banyak pejuang yang mati muda. Mereka berkorban untuk Indonesia. Pemuda sekarang, apakah ingat soal itu. kemerdekaan ini direbut bukan hanya enak saja diambil atau dikasih. Itu diperjuangkan dengan darah, harta dan keluarga," ujarnya.


Lansia lainnya yang ikut dalam perlombaan itu adalah Roslina, 71. Meski sudah berumur, Roslina masih beraktifitas sebagai instruktur senam. Tujuannya datang sama seperti Surawana. Mengingat kisah perjuangan kemerdekaan 73 tahun lalu lewat syair.


Dia pun mengingatkan kepada para pemuda untuk membangun bangsa dan negara. Terlebih mengingat kebudayaan Indonesia. Apalagi sekarang sudah mendekati hari kemerdekaan.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore