Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Maret 2018 | 10.30 WIB

Duka Mendalam Teruntuk Hanafie, Sang Pilot Pertama Sukhoi

TEMBAKAN SALVO: Tembakan salvo mengiringi pemakaman Kolonel Pnb Muhamad Hanafie, di TPU Margabaka, Lanud Abdulrachman Saleh, Rabu (21/3). - Image

TEMBAKAN SALVO: Tembakan salvo mengiringi pemakaman Kolonel Pnb Muhamad Hanafie, di TPU Margabaka, Lanud Abdulrachman Saleh, Rabu (21/3).

JawaPos.com - Indonesia berduka, salah satu penerbang terbaiknya, Kolonel (Pnb) Muhamad Jusuf Hanafie, meninggal dunia saat terbang akrobatik, di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (20/3) sore. 


Pesawat latih berjenis Super Decathlon yang dikemudikannya diduga terbang terlalu rendah sehingga kehilangan daya angkat. Pesawat latih itu pun akhirnya menabrak sejumlah pesawat lain yang terparkir di apron Akademi Penerbang Ganesha. 


Untuk diketahui bapak tiga anak itu tercatat sebagai salah satu anggota TNI AU berprestasi. Bahkan berkali-kali meraih penghargaan Satya Lancana. 


Direktur Umum Kodiklat AU, Marsma TNI Irbanto, menjelaskan, almarhum memang sosok yang banyak memiliki banyak prestasi. Sebelumnya, tercatat sebagai penerbang pesawat tempur supersonik ringan, F5. Kemudian, dia dipercaya sebagai penerbang pertama pesawat tempur buatan Rusia, Sukhoi. Hanafie atau yang akrab disapa Afi ini tercatat sebagai penerbang Sukhoi pertama di Indonesia. 


"Iya, almarhum merupakan penerbang Sukhoi pertama. Kalau tidak salah waktu tahun 2013," ujarnya di Lanud Abdulrachman Saleh, didampingi oleh Kapentak Lanud Abdulrachman Saleh, Mayor (Sus) Hamdi Londong Allo, Rabu (21/3).  


Irbanto juga menjelaskan, almarhum juga pernah dikirim ke Rusia, khusus untuk belajar mengenai Sukhoi. 


Mengenai tugasnya di sekolah penerbangan itu, Irbanto menjelaskan, Afi diperbantukan sebagai instruktur penerbang. Sudah beberapa bulan dia ditugaskan sebagai instruktur, khusus untuk weekend dan jika sedang tidak dinas. "Memang almarhum hobi terbang. Jadi diperbantukan, bukan dinas," bebernya. 


Irbanto menambahkan, kerja keras dan kehandalan Afi di dunia militer dan angkatan udara tidak bisa dianggap remeh. "Jiwa swabuana paksa di dadanya tidak bisa diragukan lagi," tegas dia.


Jenazah Afi, dikebumikan di TPU Margabaka, Pakis, Kabupaten Malang. Tembakan salvo mengiringi prosesi pemakamannya.


Suasana haru terasa kental sewaktu pemakamannya di Malang. Sasi Hanafiah, ibunda korban, berusaha tegar dengan menahan air matanya. Namun kesedihan tidak bisa sirna dari wajahnya. 


Berkali-kali, bibir perempuan yang sudah berusia senja itu bergetar, tanda dia menahan tangis. Sambil sesekali memandang nanar peti mati putra ketiganya, yang berada di bawah lindungan Sang Merah Putih. 


Meskipun berusaha tegar, namun tubuh tuanya tak kuasa menahan kesedihan. Langkahnya sempat terhenti, bahkan limbung. Beberapa orang terdekatnya harus memapah tubuh Sasi agar tidak jatuh. 


Pemandangan tak kalah memilukan juga ditunjukkan oleh istri almarhum, Florensia Harienda. Berkali-kali perempuan berkacamata itu melambaikan tangan dengan tatapan mata kosong, peti jenazah yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam liang lahat. 


Di sampingnya, anak pertama Florensia, Savana Nadira Hanasia dan anak kedua, Savara Umaira Hanasia mencoba menguatkan ibunya. "Ma, yang tenang Ma, yang ikhlas," kata Savana. 


Berkali-kali Florensia terduduk lemas di depan liang lahat suaminya. Berkali pula dia mengucapkan istighfar tanpa suara dari bibirnya. Tangannya tak henti melambai kepada suaminya, yang sudah diletakkan dalam peti.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore