
Seni susun batu yang tengah tren di kalangan anak muda
JawaPos.com - Seni menyusun batu atau Rock Balancing Art sempat menghebohkan Indonesia beberapa waktu lalu. Namun sebenarnya, dari mana style ini bermula?
Menurut pendiri komunitas Balancing Art Indonesia, Suryadi, seni ini sebenarnya sudah ada sejak zaman baheula. "Namanya susun batu. Sejak zaman dulu di Indonesia sudah ada," ujar warga Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Minggu (4/3).
Salah satu bukti dari seni itu, adalah sebuah mahakarya berupa Candi Prambanan yang terletak di Kabupaten Sleman DIJ. Menurut dia, keberadaan candi itu merupakan simbol yang paling nyata. "Candi itu simbol interlock yang paling besar," katanya.
Seni itu berkembang di Italia, Hawai, Eropa, Amerika. Kemudian pada 1990-an, seniman Bill mulai mengembangkannya. Barulah menyebar ke negara-negara Asia, seperti Jepang, Tiongkok, kemudian Indonesia.
Di Indonesia sendiri saat ini baru menjadi heboh. Setelah adanya kejadian di Jawa Barat, muncul fenomena banyaknya tumpukan batu yang ada di sungai.
Menarik perhatian masyarakat di sana, kemudian aparat setempat sempat meruntuhkannya. Namun, kabarnya saat ini sudah mulai digarap dalam bentuk wisata. "Ini juga sebagai bentuk kampanye untuk kelestarian lingkungan juga," ucapnya.
Menurut Suryadi, ada filosofi dalam art balancing tersebut. Pasalnya dalam penyusunan batu-batu tersebut, memerlukan konsentrasi yang maksimal, tingkat kesabaran, dan kepekaan tinggi. Untuk menemukan zero point atau titik antara ujung batu dengan batu lain yang ditumpuk.
Mood dari seorang balancer pun harus pada saat yang nyaman, dan ikhlas seperti seseorang yang sedang melakukan meditasi. "Unsur, pernapasan, kesabaran, emosional kontrol, itu dasar yang kuat," katanya.
Setelah melalui tahapan proses itu, seorang balancer pun dari sisi teknisnya akan semakin terasah. Ia tak lagi memikirkan hasil dari pembuatan seni balancing art, melainkan lebih menikmati setiap langkah yang dilakukan.
Semisal diibaratkan pada pengalamannya ketika sekitar 2013 lalu. Ia sendirian di sebuah sungai, membuat rock balancing.
"Saya dikira orang gila, mainan baru di sungai. Lagi mau ambil kamera, ada orang lempar batu (di rock balancing). Ya runtuh semua to. Pas balik lagi di sana, sudah runtuh. Aduh mau foto apa ini. Dari situ saya tahu emosional kontrolnya harus bagaimana," katanya.
Ia merasa memang tidak semua orang menerima bahwa itu sebuah seni dan dianggap mainan. Dirinya pun perlahan kembali memulai membuatnya lagi dari nol, dan kemudian difoto. "Saya foto dari berbagai angle. Ngopo nesu (ngapain ngambek sama orang yang lempar batu). Misal ada orang saya marah-marahi karena belum bisa baca, apa bijak," tuturnya.
Karena setiap orang menurutnya mempunyai keterbatasan. Pemahaman yang belum dimengerti, lebih baik ia mencoba memberikan edukasi dengan cara membuktikan kalau itu sebuah seni. "Setelah tahu kalau saya asyik foto-foto, akhirnya orang itu paham kalau itu sebuah seni," ucapnya.
Filosofi lainnya dari gravity itu, lanjut pria yang juga merupakan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta tersebut, rock balancing terbentuk dari 2 garis antara vertikal dan horizontal. "Vertikal menggambarkan antara manusia dengan Tuhannya," katanya.
Sedangkan horizontal antara alam semesta dengan manusia itu sendiri. "Dari atas ke bawah (manusia) itu nol. Begitupun secara horizontal, manusia itu nol, zero point-nya itu. Kita itu nol. Sehebat apapun manusia, harus instrospeksi diri jangan sombong. Menemukan sikap sederhana," pungkasnya.

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
