
Iti Octavia Jayabaya menyaksikan patung Adinda saat pembukaan Museum Multatuli di Rangkasbitung (11/2).
Patung Saidjah setinggi orang dewasa berada di bagian depan. Tubuhnya tegap bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana sepanjang betis. Tangannya terbuka seakan mempersilakan pengunjung untuk masuk melihat dua objek patung lainnya yang berada di atas panggung.
Di atas panggung, patung Adinda seorang diri duduk di bangku panjang. Matanya menatap lemari yang berisi beragam buku. "Adinda digambarkan sedang melihat koleksi buku di lemari. Itu menunjukkan ketertarikannya akan sejarah," jelas Dolorosa.
Di samping lemari, duduk sosok Multatuli. Kepalanya tertunduk menatap buku. Bukunya dibuat jauh lebih besar daripada tubuh. Dolorosa sengaja membuatnya demikian karena ada pesan yang ingin disampaikan.
"Buku Multatuli itu melambangkan sumber persatuan yang mencerdaskan kita semua, baik pikiran maupun jiwa. Ukurannya lebih besar daripada dirinya karena buku itu sangat berharga," terang pematung 64 tahun tersebut.
Tak mudah bagi Dolorosa membuat patung tokoh besar seperti Multatuli. "Ya, di tengah kesibukan lain seperti mengajar, saya butuh waktu setahun (membuat patung-patung tersebut, Red)," ungkap Dolorosa.
Hasil semua kerja keras itu adalah sebuah museum yang dinilai Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid bakal membantu menjawab pertanyaan bagaimana masa kolonialisme berlangsung di tanah air. Dan bagaimana rakyat berjuang untuk keluar dari masa-masa suram tersebut.
"Museum ini merekam dan mengangkat kembali perjuangan antikolonialisme. Di Museum Nasional pun, narasi antikolonialisme kurang. Ini akan melengkapi sejarah," katanya.
Bagi Iti, museum itu merupakan bagian upaya mengangkat Lebak dari ketertinggalan. Sebab, sebagai kawasan nonindustri, tak mudah mengajak orang datang ke kabupaten yang beribu kota di Rangkasbitung tersebut. "Kami sudah punya akses KRL langsung ke Jakarta. Museum ini bisa jadi pintu masuk orang yang mau ke Lebak," katanya.
Dari Stasiun Tanah Abang, Rangkasbitung bisa dicapai dalam 1 jam 53 menit menggunakan KRL. Dengan tiket hanya Rp 8 ribu. Dari Stasiun Rangkasbitung, museum hanya berjarak 1,5 kilometer. Kalau malas jalan kaki, bisa naik angkot seharga Rp 4 ribu saja dan turun di alun-alun.
Iti menyadari, kabupaten yang dipimpinnya memang butuh prasarana jalan yang lebih baik. Tapi, dengan dibukanya museum yang diharapkan bisa jadi ikon, roda ekonomi turut terdorong. Jika sudah demikian, ada tambahan dana untuk membangun infrastruktur yang memadai. Apalagi, agar semakin menarik bagi kaum muda, film-film pendek pun disajikan. Koleksi museum juga terus dilengkapi.
Menurut Bonnie, Museum Multatuli sudah bekerja sama dengan Multatuli Haus di Amsterdam, Belanda, untuk mendatangkan berbagai artefak tambahan. Salah satunya payung dari abad ke-18.
Payung tersebut, kata Bonnie, milik mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Pieter Mijer. Payung yang menjadi simbol kekuasaan feodal itu dibawa Mijer ke Belanda. "Akan disumbangkan oleh keluarganya," ungkap dia.
Dibukanya Museum Multatuli juga melengkapi Perpustakaan Saidjah Adinda yang sudah terlebih dahulu dibuka pada Desember lalu. "Kami ingin museum ini menjadi tempat yang menarik dan Instagramable. Dan akan lebih banyak orang yang datang ke sini untuk belajar sejarah," kata Iti.
Dalam artikelnya di Deutsche Welle, esais Anton Kurnia menulis bahwa salah seorang pengagum Multatuti adalah sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Dan Pramoedya pernah menyebutkan, politikus yang tidak mengenal Multatuli bisa menjadi politikus kejam. "Pertama, karena dia tidak kenal sejarah Indonesia. Kedua, karena dia tak mengenal perikemanusiaan," tulis Anton.
Semoga kian banyak politisi, juga orang-orang pada umumnya, yang akan belajar tentang Multatuli. Termasuk dengan datang ke Lebak.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
