Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Januari 2018 | 19.38 WIB

Keluarga Sudah Tahlilan, Nelayan Sanger Diselamatkan Warga Biak

Lasdi beserta seorang putranya  dan tiga ABK  dievakuasi ke Kantor SAR Biak setelah diselamatkan penduduk Pulau  Padaido, Biak - Image

Lasdi beserta seorang putranya dan tiga ABK dievakuasi ke Kantor SAR Biak setelah diselamatkan penduduk Pulau Padaido, Biak

JawaPos.com - Lima nelayan asal Sanger, Sulawesi Utara, satu bulan lebih hanyut di tengah laut bebas karena mesin kapal yang rusak. Keluarga pun sudah pasrah, bahkan sudah lakukan tahlilan.


Mereka mampu bertahan hidup, hingga ditolong warga di Kepulauan Padaido Kabupaten Biak Numfor. Bagaimana kisah perjuangan mereka?


Laporan Ismail, Biak


Jumat 8 Desember 2017, seperti hari biasanya, kapal Nelayan milik Lasdi Hamka, KM Hasrat berlayar keluar dari Pulau Kawaluso Sangihe Sulawesi Utara, menuju perairan utara, berjarak sekitar 40-50 mil dari pantai untuk mencari ikan.


Lasdi ditemani seorang putranya Andika Hamka, dan tiga ABK lainnya Buhanuddin Tompo, Feri Tampilang, dan Muliadi Manderes. Pulau ini berada tidak jauh dari perbatasan Indonesia-Filipina.


Bulan Desember bagi nelayan memang masa mengkhawatirkan untuk melaut, karena kondisi laut kurang bersahabat. Namun, itu tak menyurutkan semangat mereka mencari sesuap nasi guna menghidupi keluarga di rumah.


Setelah beberapa lama di laut, Coolbox yang mereka bawa terisi banyak ikan, Lasdi akhirnya memerintahkan untuk menarik jangkar. Bersiap pulang.


Namun tak diduga, ternyata mesin kapal setengah fiber itu mengalami gagal engine. Mesin truk bekekuatan 5 GT yang disematkan didalam kapal, tak mau menyala.Mesin di ‘engkol’ bergantian, tapi tetap tidak bereaksi. Pulau semakin lama semakin menjauh.


"Ada apa ini? Setelah diperiksa, mesin mengalami kerusakan, karena air laut tercampur di dalam tangki pengisian bahan bakar. Mesin tak mau dihidupkan lagi," ujar Lasdi Hamka bercerita didampingi empat orang ABK lainnya ditemui di Kantor SAR Biak.


Setelah  terdampar dan mendapat di warga di Pulau Padaido, Lasdi dievaluasi oleh warga dan menginap selama dua malam di Kantor SAR Biak.


Meski terlihat lemas, Lasdi masih tetap antusias melanjutkan kisahnya terdampar di laut.


Tak terasa, sudah 80 mil jauhnya lokasi KM Hasrat dari Perairan Pulau asal mereka. Mereka mulai panik,
cemas dan perasaan campur aduk lainnya. Apalagi, tidak ada signal, sehingga sulit untuk meminta bantuan. Mereka pun menyadari semakin menjauh ke arah timur karena tiupan angin barat.


Malam pun tiba. Lasdi dan seluruh ABK tidak henti-henti memanjatkan doa. Kapal bersemang berwarna putih biru mulai terombang-ambing ke arah timur. Semakin jauh.


Tiga hari sudah diatas kapal. Bekal makanan sudah habis. Ikan hasil tangkapan terpaksa dimakan. Buah kelapa hanyut dikumpulkan. Sebagai sumber air minum tambahan. Pasokan minuman pun mulai memprihatinkan.


Kapal semakin jauh, terbawa arus ombak hingga 850 mil. Semakin jauh. Tak ada daratan. Secercah harapan sempat muncul, saat kapal besar yang lewat, sempat dipanggil namun tak merespon. Lasdi hanya beranggapan buruk saat itu.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore