Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Desember 2020 | 21.51 WIB

Ada Kelas Bahasa Inggris dan Wirausaha di Sekolah Beralas Tikar

KOMITMEN: Adi Sarwon alias Mang Adiono, pendiri Busa Pustaka, saat membacakan buku cerita di Sekolah Rakyat Busa Pustaka, Bandar Lampung (5/12). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS) - Image

KOMITMEN: Adi Sarwon alias Mang Adiono, pendiri Busa Pustaka, saat membacakan buku cerita di Sekolah Rakyat Busa Pustaka, Bandar Lampung (5/12). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Mang Adiono, Keliling 230 Kilometer Bawa Buku untuk Anak-Anak di Pelosok Lampung


Sembari bekerja sebagai salesman dari kota ke kota, Mang Adiono membawa buku untuk dipinjamkan ke anak-anak. Dari model ala perpustakaan keliling, kini gerakan Busa Pustaka itu juga mewujud menjadi sekolah rakyat.

AGUS DWI PRASETYO, Bandar Lampung, Jawa Pos

---

MENDENGAR kedatangan pria yang sangat mereka akrabi, anak-anak yang duduk-duduk santai di sebuah rumah berdinding papan kayu itu langsung beranjak. ”Mang Adiono datang, Mang Adiono datang,” pekik salah seorang anak yang bertubuh tambun.

Anak-anak yang lain terkejut sebentar, lalu menoleh ke arah halaman rumah seolah ingin memastikan bahwa Mang Adiono, pria itu, memang benar-benar datang.

Sabtu dua pekan lalu itu (5/12) sebetulnya bukan jam sekolah rakyat. Wajar jika anak-anak yang tinggal di Kelurahan Kedaung, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, tersebut agak heran dengan kedatangan Mang Adiono.

”Biasanya, memang setiap Minggu kami adakan kelas,” kata Mang Adiono kepada Jawa Pos yang mengunjungi Sekolah Rakyat Busa Pustaka di Lampung.

Meski bukan jadwal kelas, anak-anak usia sekolah dasar (SD) dan balita itu tetap antusias menyimak cerita Bawang Putih dan Bawang Merah yang disampaikan Mang Adiono. Sampai akhir cerita, mereka sama sekali tak beranjak. Sekilas, sekolah itu tampak bukan sekolah pada umumnya. Tak ada ruang kelas. Tak ada pula meja, kursi, dan papan tulis.

Muridnya pun tak mengenakan seragam. Mereka berpakaian bebas dan duduk santai di lantai beralas tikar. Meski begitu, materi yang diajarkan tak kalah dari sekolah umum. ”Ada kelas bahasa Inggris dan wirausaha,” jelas Mang Adiono.

Sekolah rakyat tersebut merupakan gerakan lanjutan Busa Pustaka. Mang Adiono yang menggagasnya. Kata ”busa” terinspirasi dari buih produk sabun tempatnya bekerja sebagai salesman, PT Wings Surya. Busa yang dihasilkan sabun itu sangat melimpah. Kata ”pustaka” berarti ilmu. Jika digabungkan, Busa Pustaka berarti ilmu yang berlimpah. ”Seperti busa sabun,” ungkapnya, lantas tertawa.

Awalnya, Busa Pustaka hanya berupa perpustakaan keliling yang meminjamkan buku untuk anak-anak. Cakupannya menyesuaikan wilayah kerja Mang Adiono selaku salesman. Paling jauh berjarak sekitar 230 kilometer pergi pulang dari Bandar Lampung. ”Jadi, sambil kerja, saya bawa buku,” ujar pria bernama lengkap Adi Sarwono tersebut.

Kali pertama bekerja sebagai salesman, Mang Adiono ditugaskan perusahaan untuk keliling menawarkan produk Wings ke daerah-daerah di Lampung. Dimulai dari Bandar Lampung, Mang Adi bergerak ke arah Pringsewu hingga Kota Agung. Kemudian, ke arah Lampung Tengah dan Timur. ”Memang penuh risiko. Tapi, kalau sudah terbiasa, ya nyantai saja,” tuturnya.

Stigma Lampung rawan kejahatan sesekali terlintas di pikiran Mang Adiono setiap berkunjung ke daerah. Terutama ke daerah rawan di Lampung Timur dan Tengah. Namun, pria kelahiran Prabumulih, Sumatera Selatan, itu punya cara sendiri menyelesaikan persoalan di jalan. ”Saya ini sudah lama di jalan, jadi sudah biasa,” ucap penggemar klub Persebaya Surabaya tersebut, lalu tersenyum.

Mengendarai sepeda motor, Mang Adi berpindah tempat dari satu pasar ke pasar lain dan dari satu toko ke toko lainnya. Pada saat bersamaan, dia menghampiri gerombolan anak di setiap titik yang dikunjungi. Anak-anak itu kemudian dipinjaminya buku. ”Minggu depannya buku saya tukar dengan buku yang baru,” papar pria yang genap berusia 31 tahun pada September lalu tersebut.

Gerakan spontan itu lahir dari keprihatinan minimnya akses baca di Lampung. Selama tiga tahun terakhir, suami Dita Mutiara Aruni tersebut konsisten membawa buku setiap berkeliling ke pasar dan toko. Nah, tahun ini gerakan itu lantas berkembang menjadi Sekolah Rakyat Busa Pustaka. ”Makin lama, makin banyak yang ikut,” paparnya.

Sebelum pandemi Covid-19, Busa Pustaka kerap mangkal di Taman Gajah Enggal, Bandar Lampung. Di tempat terbuka itu, Mang Adiono membuka ”lapak” Busa Pustaka. Awalnya, banyak yang mengira Mang Adiono adalah penjual buku bekas. Namun, lama-kelamaan akhirnya orang tahu bahwa dia sedang mengajak anak-anak untuk membaca buku. ”Tahun lalu (sebelum pandemi), 200 anak datang setiap saya gelar lapak (di Taman Gajah),” terang penggemar buku biografi tersebut.

Karena melihat antusiasme anak-anak dan orang tua yang luar biasa, Busa Pustaka kemudian berkeliling dari satu kelurahan ke kelurahan lain di Bandar Lampung. ”Sekarang seluruh kecamatan (di Bandar Lampung) sudah kami kunjungi,” ujarnya.

Dari perpustakaan keliling dan membuka lapak di taman, Busa Pustaka kini berfokus membangun sekolah rakyat. Saat ini baru satu yang telah berdiri. Yakni, di rumah Pak Ali di Kedaung. Mang Adiono mendapat dukungan dari pemilik rumah untuk mengadakan kegiatan sekolah rakyat. ”Bangun sekolah dari dana pribadi dan donatur,” ungkap lulusan Universitas Prof Dr Moestopo Jakarta tersebut.

Pada masa pandemi ini, kegiatan literasi sekolah rakyat yang dilakukan Busa Pustaka tetap berjalan. Dengan catatan, setiap anak dan pemateri harus mematuhi protokol kesehatan (prokes). Setiap Minggu pukul 10.00 hingga 14.00, Mang Adiono dan beberapa teman lintas profesi menjadi guru dadakan di sekolah rakyat. ”Kalau penuh, bisa sampai 30 anak yang datang,” katanya.

Busa Pustaka, lanjut Mang Adiono, sejatinya ingin merangsang banyak orang agar peduli terhadap nasib anak-anak yang kesulitan akses baca. Dia melihat sejauh ini peran pemerintah dalam memberikan pelayanan akses baca tersebut belum maksimal. ”Saya masuk ke pelosok daerah itu dan melihat berbagai kegiatan anak-anak negatif,” paparnya.

Meski baru berjalan, sekolah rakyat yang digagas Mang Adiono mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Mulai YouTuber Reza Arap hingga almarhum sastrawan Sapardi Djoko Damono. Reza Arap, kata Mang Adiono, mendukung pembangunan sekolah rakyat. Sapardi memberikan dukungan moril untuk Busa Pustaka.

”Tiga tahun lalu ketemu beliau (Sapardi) di TIM (Taman Ismail Marzuki). Beliau ngomong nggak usah terlalu banyak bertanya tentang kegiatannya (Busa Pustaka) bagus apa nggak. Kalau semangat, sudah jalani saja,” kenang pria yang pernah menjadi sopir dan kernet bus antarkota antarprovinsi (AKAP) waktu kuliah tersebut.

Selain itu, Busa Pustaka mendapat donasi buku dari banyak orang. Jumlah donasi bertambah pesat ketika Busa Pustaka viral di jagat Twitter beberapa minggu lalu. Saat ini aset buku Busa Pustaka mencapai 1.050 buku. Mayoritas adalah buku anak-anak. ”Sebanyak 200 buku itu dibeli pakai dana pribadi, selebihnya donasi,” paparnya.

Karena mendapat dukungan dari banyak orang, Mang Adiono semakin semangat mengembangkan Busa Pustaka. Dia bercita-cita mendirikan sekolah rakyat di seluruh kelurahan di Bandar Lampung. Melalui sekolah itulah, Busa Pustaka ingin memudahkan akses baca bagi anak-anak. ”Penyebab minat baca rendah itu kan akses baca yang minim,” katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=k6s2QISxjpU
Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore