Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Oktober 2017 | 22.13 WIB

Anggitania Fratiwi, Garap Citra Satpol PP Surabaya Lewat Medsos

CANTIK: Humas Satpol PP Surabaya Anggitania Fratiwi. - Image

CANTIK: Humas Satpol PP Surabaya Anggitania Fratiwi.

Setahun terakhir, Satpol PP Surabaya menaikkan citra dengan berbagai cara. Salah satunya melalui media sosial. Anggitania Fratiwi (23), adalah yang kali pertama mendapat tugas menggarap media sosial tersebut.



THORIQ S. KARIM , Surabaya


DIA masih ingat saat membuat Instagram @satpolppsurabaya, Juli tahun lalu. ’’Jumlah pengikut hanya lima akun,’’ katanya. Itu pun bukan orang lain. ’’Tapi, rekan-rekan dari Satpol PP sendiri,’’ imbuh dia.


Anggi, sapaan akrabnya, tidak mau banyak komentar soal itu. Melalui jumlah pengikut saja sudah bisa dinilai efektivitas media sosial tersebut. Pesan yang disampaikan tidak akan sampai pada sasaran. Wajar jika pergerakan Satpol PP sering dinilai buruk oleh masyarakat.


Anggi pun menginisiatori perubahan. Dia membuat konsep komunikasi tepat sasaran. Apa yang diunggah ke akun media sosial harus punya target. Bukan sekadar foto kegiatan tanpa makna. ’’Saya yang mendapat tanggung jawab mengelola akun itu mulai banyak berpikir,’’ ujar lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Surabaya, tersebut.


Sebagai langkah awal, dia mengumpulkan banyak referensi. Dia melihat bagaimana bahasa media cetak, televisi, online, dan radio. Materi apa yang dipilih dan bagaimana bentuk penyampaiannya. ’’Saya menitikberatkan pada berita yang berkaitan dengan Satpol PP di berbagai daerah,’’ ucapnya.


Putri pasangan Bambang Dwi Hartono dan Nia Oetomo tersebut perlahan mulai bisa memilah dan menganalisis, mengapa kegiatan yang dilaksanakan satpol PP tidak selalu mendapat respons positif. Padahal, penertiban itu selalu didasarkan pada peraturan daerah.


Secara aturan sudah tepat, tapi mengapa muncul kesan tidak baik? Apa yang menjadi penyebabnya dan antisipasi seperti apa yang bisa dilakukan? Anggi mulai bertanya-tanya untuk mencari jawaban dari persoalan itu. ’’Saya sering berdiskusi dengan rekan-rekan wartawan,’’ katanya.


Dari diskusi itu, dia paham, bahwa media hanya memberitakan apa yang terjadi di lapangan. Gambar yang tampil saat kegiatan penertiban selalu diwarnai aksi dramatis, misalnya tarik-menarik antara warga dan anggota Satpol PP. Gambar tersebut memiliki nilai berita yang cukup tinggi. ’’Dan, kami tidak bisa melarang wartawan memasang gambar tersebut. Sebab, itu fakta di lapangan,’’ ucapnya.


Lalu, apa yang harus dilakukan? Tentu klarifikasi. Nah, klarifikasi tersebut dilakukan Satpol PP untuk menjelaskan persoalan yang terjadi di lapangan. Misalnya, setiap penertiban selalu diawali dengan sosialisasi. Apabila warga tidak mengindahkan sosialisasi itu, petugas harus mengambil langkah tegas. Menertibkan bangunan di lapangan. Material yang masih berguna tidak lantas dibuang, tapi disimpan di gudang. Warga bisa mengambilnya untuk dimanfaatkan lagi dengan syarat menunjukkan KTP dan KK. ’’Nah, pesan ini jarang tersampaikan,’’ kata Anggi.


Putra ketiga di antara empat bersaudara tersebut menilai masyarakat hanya tahu Satpol PP arogan di lapangan, bertindak kasar, mengobrak-abrik rumah warga, dan banyak penilaian negatif lainnya. ’’Saya sudah memiliki jawaban untuk mengatasi semua itu,’’ ucapnya.


Instagram yang hanya diikuti lima akun itu pun diubah menjadi media informasi oleh Anggi. Dia tidak sekadar memasang foto. Ada beberapa penjelasan dalam bentuk video pendek yang mengulas persoalan di lapangan. Narasumber juga bukan dari satpol PP. ’’Saya minta warga yang hendak ditertibkan untuk bicara,’’ ujarnya.


Satu atau dua warga menyampaikan aspirasinya. Memang, apa yang disampaikan warga hanyalah pembelaan. Sebab, bagaimanapun mereka menyalahi Perda. Karena itu, terbit perintah penertiban. ’’Paling tidak, mereka merasa diberi kesempatan untuk bicara,’’ terang Anggi.


Saat awal menerapkan konsep tersebut, banyak tantangan yang dilewati. Warga yang sudah mendapat sosialisasi bahwa akan dilakukan penertiban di wilayahnya pasti benci terhadap satpol PP. Tak jarang, saat Anggi dan beberapa rekannya masuk ke daerah itu, mereka ditolak. Cacian, cibiran, dan olok-olok diucapkan kepadanya. ’’Saya menganggap itu kesempatan,’’ tuturnya.


Perlahan, Anggi pun mendekati mereka. Dia banyak diam dan senyum. Padahal, umpatan jelas-jelas ditujukan kepadanya. Tapi, Anggi terus berusaha sabar. Setelah emosi warga mereda, Anggi mulai membuka pembicaraan. ’’Kami ingin mendengar aspirasi dan unek-unek warga,’’ ujar Anggi.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore